When I ...

When I ...
Episode 42 Never give up



Selama dalam perjalanan, Dea dan Dean terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


 


 


Dea menoleh pada jendela mobil, menatap kosong pada jalanan yang ramai di malam hari.


 


 


Dean melirik cemas padanya sambil terus menyetir. Ia mendeham, lalu berkata pelan:


 


 


"Apa kamu baik-baik saja?"


 


 


Dea tertegun, melirik sejenak, lalu menunduk. "Fisikku baik, tapi hatiku tidak," jawabnya. Menurutnya, percuma bohong, Dean pasti akan tetap mendesaknya.


 


 


"Kalau aku tidak peduli pada perasaanmu, pasti sudah bonyok cowok itu."


 


 


Dea tersenyum getir. "Lakukan saja. Kamu pasti sakit hati mendengar semua sindirannya padamu."


 


 


"Maaf, aku menguping tadi. Aku lakukan itu karena untuk berjaga-jaga jika dia menyakitimu."


 


 


"Terima kasih, kamu selalu berusaha melindungiku." Senyum tipis mengembang di wajahnya yang terlihat lelah.


 


 


Dean tak bertanya lagi setelahnya, mungkin sebaiknya Dea dibiarkan tenang setelah mengalami hal menyesakkan oleh ulah mantannya.


 


 


Mobil berhenti hanya sampai di depan pagar. Dean enggan masuk karena ingin membiarkan Dea istirahat.


 


 


"Aku pulang dulu," kata Dean, yang mengantarkan Dea di dekat gerbang.


 


 


Dea tersenyum tipis. "Hati-hati, ya."


 


 


Dean mengangkat tangannya, akan mengarah ke kepala Dea. Namun, terhenti karena ragu dan canggung. Dea juga tercengang, kenapa Dean seperti ini.


 


 


Walau ragu sesaat, pada akhirnya Dean mengelus rambut hitam gadis itu dengan lembut. Hati ini merasa iba. Sebuah penghalang besar antara dirinya dan Dea tiba di tengah-tengah kebahagiaan.


 


 


Dean pamit pulang, lalu masuk ke dalam mobil. Ketika Dea masuk ke dalam, mobilnya baru dilajukan.


 


 


Kekhawatiran mengiringinya sepanjang jalan menuju rumah. Bayangan percakapan antara Dea dan Reza terngiang-ngiang, hingga membuatnya frustasi. Ia mengacak rambutnya, lalu menekan klakson mobil dengan kencang.


 


 


-;-;-;-


 


 


Reza memasuki rumah dalam keadaan kusut dan letih. Sang ibu yang tidak menghiraukannya sejak kedatangannya ke Jakarta, duduk di sofa.


 


 


Karena hubungan mereka yang buruk, Reza hanya menyapa ibunya hanya sekadarnya, lalu menaiki tangga menuju kamarnya.


 


 


Namun, baru satu menginjak satu anak tangga, ibu berkata dengan nada menyindir.


 


 


"Sudah Ibu bilang, lepaskan saja Dea, fokus pada pekerjaanmu di New York. Tapi, eh ... malah dilepaskan demi perempuan itu. Kaya nggak ada cewek lain aja!"


 


 


Reza menoleh sedikit. "Aku udah bilang kalau aku nggak mau menelantarkan Dea dan anakku."


 


 


Ibu tersenyum sinis. "Tapi mana hasilnya? Kamu pulang dengan muka kusut gitu. Pasti dia nolak kamu, 'kan? Reza, Reza. Dia itu sudah lupa sama kamu. Sudah menemukan kebahagiaanya. Mending, kamu menyerah. Kalau kamu mau nikah, Ibu bisa carikan perempuan yang lebih ayu dari dia."


 


 


Reza mengepalkan tangannya, tidak terima dengan perkataan yang menyakitkan seperti itu. Apa ibunya tak mengerti? Yang diinginkannya hanya Dea seorang! Bukan perempuan lain!


 


 


Tanpa mengatakan apa pun, ia kembali melanjutkan langkahnya. Di dalam hati, berkecambuk hasrat yang sangat besar untuk terus maju mendapatkan kembali Dea.


 


 


Ia akan menikahi gadis itu, tak peduli ibunya suka atau tidak. Dan Dean, ia akan menyingkirkannya.


 


 


-;-;-;-


 


 


Alena melirik Dea yang tengah duduk sendirian di ayunan taman belakang. Ia memasuki taman bersama dengan Naomi.


 


 


Ada isi otak gadis itu? Sejak pagi dia murung, diam, bahkan memaksakan senyumnya. Dan sekarang, dia merenung.


 


 


"Ada yang aneh nggak sih sama kak Dea?" bisik Naomi, ternyata menyadari keganjilan pada kakaknya.


 


 


Alena menaikkan bahu. "Makanya sekarang kita tanyain. Takutnya dia kesambet." Masih saja ia bercanda.


 


 


Kedua gadis itu sampai di depannya. Alena mengejutkannya dengan sebuah cemoohan, sebelum duduk pada ayunan basi yang kosong.


 


 


 


 


Dea menunduk. "Reza. Kemarin, gue bertemu dengannya."


 


 


Sebelum Alena, Naomi duluan yang berseru kaget. "Masa? Terus?"


 


 


"Dia minta gue untuk membatalkan pernikahan gue sama Dean."


 


 


Tanpa sadar, Alena meninju pahanya sambil berseru geram. "Dasar! Siapa dia, minta lo batalin pernikahan. Haloooo! Gue tahu. Dia pasti minta balikan sama lo, 'kan?"


 


 


"Bisa dibilang sih gitu," gumam Dea.


 


 


"Benar-benar, urat malunya udah putus apa! Udah dilepehin, terus dijilat lagi," sembur Alena, bertambah kesal.


 


 


"Kak, jangan mau Kakak balikan lagi sama kak Reza itu!" Kemudian, Naomi ikut menimpali karena rasa kesal Alena menular padanya. "Yang ada Kakak sakit hati lagi sama dia."


 


 


Alena dan Dea tercengang melihat reaksi gadis remaja itu. Dea tertawa kecil dan berkata:


 


 


"Terima kasih, ya, sarannya. Kakak akan pikirkan."


 


 


"Nggak usah dipikirkan!" sahut Alena. "Langsung putuskan saja! Aduh, ngomong-ngomong, gara-gara esmosi, aku jadi lapar nih? Beli makanan, yuk! Aku lagi ngidam cheese burger nih!"


 


 


"Ih, si Kakak! Yang hamil kak Dea, malah Kakak yang ngidam," protes Naomi.


 


 


"Emangnya orang hamil aja yang bisa ngidam!" Lalu, Alena melirik Dea. "De, mau gue beliin apaan? Hmm ... kebab hitam boleh juga tuh!"


 


 


"Terserah lo aja," jawab Dea sembari terkekeh.


 


 


Ya sudah, Alena beranjak menuju garasi bersama dengan Naomi untuk mengambil motor Dea. Karena tidak ada satpam, Alena yang membuka pintu pagar.


 


 


Alena mengernyit karena bersamaan dengan itu, seorang pengendara motor berhenti tepat di depan rumah.


 


 


Orang itu membuka helmnya, menampakkan wajah seorang pria yang begitu memuakkan bagi Alena.


 


 


Alena mendorong tubuh pria itu, ketika dia mendekat. "Masih nggak punya malu lo datang ke sini?" bentaknya.


 


 


"Alena, gue mau ketemu sama Dea," pinta Reza.


 


 


Gadis itu tersenyum sinis dan bergumam. "Benar-benar udah putus urat malunya! Lo sendiri yang mencampakkan yang mencampakkan Dea. Tapi sekarang, dengan gampangnya minta balikan sama dia. Mikir pake otak nggak sih lo?"


 


 


Reza menghela Alena. Tapi Alena tetap berusaha bertahan. Naomi bergeser di samping Alena sehingga tidak ada celah bagi Reza untuk masuk.


 


 


"Please, Naomi. Biarkan Abang masuk." Reza memohon.


 


 


"Mending Abang pergi dari sini. Di keluarga ini, tidak ada satu pun yang sudi menerima Abang," kata Naomi.


 


 


Reza terdiam, tapi bukan berarti menyerah. Ia berteriak, memanggil Dea hingga membuat keributan.


 


 


"Apa-apaan sih lo! pergi, nggak!" Alena mengusir.


 


 


Tapi Reza tak menggubrisnya. "Dea! Dea! Please, keluar. Gue mau ngomong sama lo sebentaaaar aja. Kasih gue kesempatan, Dea. Please!" teriaknya.


 


 


Mendengar keributan di luar sana, membuat Dea akhirnya menghampiri pagar. Namun, ia hanya berdiri agak jauh dari pagar karena melihat Reza di depan sana.


 


 


"Dea! Dea! Gue mau—" Reza berhenti begitu menyadari keberadaan gadis itu.


 


 


Reza buru-buru mendekati pagar, kembali berteriak sedikit pelan. "Dea, please! Kasih gue kesempatan."


 


 


Alena dan Naomi menengok ke belakang, melihat sosok Dea yang sedang berdiri dengan ekspresi tak terbaca.


 


 


"Dea, lo masuk aja! Biar gue yang hadapi cowok gila ini!" seru Alena.


 


 


Entah Dea mendengarkan atau tidak, di hatinya sedang berkecambuk oleh keraguan. Ia mengepalkan tangan, membuat sebuah keputusan.[]