
Dea melirik amplop itu. Bibirnya bergetar menahan tangis.
Seorang wanita, yang juga seorang ibu, begitu teganya berkata seperti itu?
Dea merangkul tasnya, berdiri dan menatap wanita itu tanpa ekspresi. "Saya permisi."
"Dea." Wanita itu memanggil, membuat langkah Dea terhenti. "Apa kamu tidak memikirkan masa depanmu? Karena bayi itu, kuliahmu terhenti, 'kan?"
Dea menoleh sedikit. "Anda hanya memikirkan masa depan anak Anda," jawabnya dingin dan sinis. "Masa depan tidak akan hancur hanya karena sebuah masalah yang cuma sebesar kerikil."
Dea berjalan cepat, meninggalkan wanita itu. Lama-lama langkahnya memelan, seiring dengan air mata yang menggenang di matanya.
Dari kejauhan, Dean baru saja menyusul sambil menenteng sekantong belanjaan. Ia cemas melihat Dea tertunduk sambil menangis. Segeralah ia menghampirinya.
"Lo kenapa, Dea?"
Buru-buru, Dea menghapus air matanya. "Nggak apa-apa."
Apanya yang nggak apa-apa! Geram Dean dalam hati.
"Nenek kolot itu bilang apa sama lo?"
Hal ini tidak ada hubungannya dengan pria itu, Dea tak mau menceritakannya. Diliriknya kantong belanjaan yang ada di tangan Dean, lalu direnggutnya.
"Besok, gue ganti duit lo. Gue mau balik," dalihnya.
Tidak. Dean tidak mau Dea menanggung semuanya sendiri. Diraihnya tangan Dea, membungkus tangan mungil itu dengan tangannya.
"Dea, gue nggak mau lo tersakiti," kata Dean tulus dan lembut.
Dea tersentuh, tapi....
"Nggak ada yang nyakitin gue, Dean—" bohong Dea.
"Walaupun!" potong Dean. "Gue siap buat gantiin posisi Reza buat lo dan anak lo."
Dea tertegun. Pria bodoh ini, apa tidak berpikir panjang saat memutuskan ini. Jujur, hatinya merasa hangat mendengar niat tulus itu. Akan tetapi, ia merasa tidak pantas mendapatkannya.
"Ngomong apaan sih?"
Dean mendecak, menyela cepat. "Gue serius!"
Dea bisa melihat ekspresi serius Dean. Ia tersenyum dan bahagia. Meski ia tak mengungkapkannya secara langsung.
"Terima kasih, Dean. Ayo, pulang."
Maksudnya dia berkata begitu apa? Dean bingung? Apa ia ditolak lagi? Ah, Dea! Kapan dia bisa melihat ketulusannya ini?
-;-;-;-
Sudah 3 minggu Alena meninggalkan Jakarta. Rindu sekali pada keluarganya Dea. Ia belum mendapatkan kabar sejak terakhir menghubungi Naomi seminggu yang lalu.
Alena duduk di pinggir kolam air mancur, mencari nomor Haris, lalu menghubunginya.
Nada sambung berbunyi hingga tiga kali. Suara berat khas milik Haris menyapa di ujung sana.
"Halo, Kak."
"Baik. Bagaimana kabar kakak?"
Di sana terdengar suara gaduh Naomi yang ingin bicara dengannya. Alena terkekeh.
"Baik juga. Kabar Naomi?"
"Selalu baik!" Sahutan tiba-tiba Naomi membuat Alena terkejut.
"Baguslah. Kakak senang mendengarnya. Apa kabar tante dan om juga baik?"
"Mama udah sembuh, tapi makannya selalu sedikit." Kemudian, Naomi bergumam lirih. "Mungkin karena mama kepikiran kak Dea terus."
Alena berubah murung. Jadi, Dea belum ditemukan?
"Kalau papa juga baik, Kak," lanjut Naomi, yang kemudian berseru. "Oh, iya! Sekitar seminggu yang lalu, papa ketemu sama kak Dea, Kak"
Alena terpekik karena terkejut. "Di mana?"
Suara Haris terdengar, tapi agak kecil. Sepertinya dia bilang: "Tapi belum jelas, Dek."
Alena mengernyit menunggu jawaban, tapi kedua adik-kakak itu berdebat terus.
"Halo, Kak." Akhirnya, Naomi kembali menyahut.
"Iya. Jadi, gimana ceritanya?" tanya Alena.
Naomi menceritakan bagaimana pak Martin melihat Dea saat beberapa waktu yang lalu di perusahaan rekan bisnisnya. Memang, belum pasti bahwa itu Dea, tetapi Alena begitu penasaran dan yakin bahwa kemungkinan Dea memanglah benar.
"Terus? Papa kalian mencarinya lagi ke sana?" tanya gadis itu setelah Naomi selesai bercerita.
"Enggak, Kak." Suara Naomi terdengar lesu. "Papa berpikir kalau dia mungkin sudah salah lihat. Papa juga melarang kami untuk memberitahukan mama soal ini. Takut mama kecewa kalau perempuan itu bukan kak Dea."
Alena merasa gemas karena sikap pasif pak Martin. Kenapa tidak dicek dulu kebenarannya? Yah, mau gimana lagi? Sudah seperti ini takdirnya.
Perbincangan itu usai setelah Naomi menceritakan berbagai hal. Alena menyimaknya dengan tidak fokus karena kepikiran untuk mencari tahu soal perusahaan rekan bisnis pak Martin.
Jari-jarinya mengetuk papan smartphone dengan cepat, mengetikkan kunci pencarian di laman Google sambil bergumam, "Perusahaan Jasa Express D."
Rachel yang baru saja keluar kelas, melihat Alena lalu menghampiri. Tanpa sengaja, ia mendengar gumaman Alena itu.
"Kakak lagi melamar kerja?" sapanya, membuat fokus Alena buyar saat membaca profil perusahaan itu.
"Ah, enggak. Cuma pengin tahu aja profil perusahaanya," jawab Alena, terkesiap.
Sambil duduk di sampingnya, gadis tomboy itu bertanya, "Apa nama perusahaannya?"
"Ini." Alena memiringkan sedikit ponselnya, memperlihatkan sebuah artikel yang menuliskan tentang sebuah perusahaan.
Rachel mengernyit, lalu meneliti wajah Alena, memunculkan berbagai dugaan.
"Itu, 'kan, perusahaan papaku," katanya kemudian.
"Hah? Benarkah?" seru Alena tak percaya, tapi tertarik.[]