
Terdiam di ruang tamu, hanya berdua—Dea dan papa. Duduk berjauhan; Dea di sofa tunggal yang bersebrangan dengan papa. Tatapannya enggan mengarah pada pria itu, mengukuhkan diri untuk terus menunduk dan diam sampai pria itu yang memulai pembicaraan.
"Dea, Papa sudah tahu masalahnya, tapi kamu salah paham soal waktu itu," mulai papa dengan hati-hati.
Dea mendongak dengan kemarahan yang membara. Salah paham? Alasan apa ini? Lalu, yang ia lihat waktu itu apa? Bukankah pria yang hanya berpakaian minim, bersama dengan wanita asing itu bukankah papa?
Kepalan tangannya menguat, hingga tubuhnya bergetar. "Siapa wanita itu?" tanya Dea dingin, menahan geram.
"Dia hanya wanita penghibur," jawab papa cepat. "Waktu itu, Papa sedang makan siang. Lalu, wanita itu menghampiri Papa dan mengajakku mengobrol."
"Lalu, Papa tergoda?" cecar Dea sinis.
"Iya. Papa tidak menyangka akan semudah itu terkena rayuannya." Papa berpindah tempat duduk ke sofa yang lebih dekat dengan Dea, memelas sembari berkata lagi, "Sumpah, Papa tidak punya hubungan apa pun dengan wanita itu. Kamu tahu, kan? Papa cuma mencintai mama."
Dea bergeming, diam-diam terisak. Bagaimana bisa papanya semudah itu tergoda dan melupakan cintanya pada mama?
Papa meraih tangannya dan menggenggamnya. "Papa menyesal Dea. Sungguh. Papa tidak mau kehilangan kalian. Papa tidak mau keluarga kita hancur. Maafkan Papa."
Dea mengelap air matanya yang mengalir di pipi. "Benar, Papa menyesal? Kalau memang begitu, kenapa Papa tidak jenguk mama?" tudingnya emosi.
"Papa tidak punya muka untuk menghadapinya. Papa juga takut kalau mama kembali kolaps karena membenci Papa."
"Iya, mama sangat membenci perbuatan Papa!" sahut Dea menuding, mulai tidak tahan untuk meluapkan emosinya. "Kenapa Papa tidak minta maaf?"
"Papa sudah berusaha. Papa juga mencoba untuk berbicara dengan Haris, Naomi, dan kamu. Tapi kalian tega sekali mendiami Papa, menjauhi Papa, dan tak mau bicara dengan Papa."
Ia sadar bahwa hal itu memang salah. Tapi seorang anak akan kehilangan rasa hormatnya pada orangtua, kalau orangtuanya melakukan hal tercela dan menyakitkan hati anak-anaknya.
Dea menghela napas, menoleh ke arah lain untuk menyingkirkan rasa sakit dan emosinya yang seharusnya tidak ia keluarkan. Kemudian, ditatapnya kembali papanya itu.
"Dea, kamu anak yang paling besar, kamu pasti tahu apa yang harus dilakukan," kata papa penuh harap. "Papa ingin masalah ini selesai. Apa kamu nggak mau melihat keluarga kita bahagia seperti dulu?"
Sangat! Dea merindukan saat-saat kebersamaan mereka yang terjalin sebelum kejadian yang meretakkan hubungan erat di antara keluarga kecil ini. Kesempatan kedua hanya untuk seseorang yang benar-benar menyesali perbuatannya. Maka, ia tak ragu untuk memberikan kesempatan itu pada papa.
"Baik, aku akan coba membujuk Haris dan Naomi, habis itu berbicara dengan mama. Setelah itu, Papa sendirilah yang minta maaf pada mereka," kata Dea."
Tangis haru menguar. Papa langsung menghamburkan pelukannya ke arah Dea. "Terima kasih, Sayang."
Dea tersenyum bahagia dalam tangisnya. Semoga hati Haris, Naomi, dan mama bisa luluh dan mau memaafkan papa.
Papa melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata yang ada di ujung matanya. "Oh, iya. Bagaimana keadaan mamamu?"
"Keadaan mama sudah mulai membaik," jawab Dea. "Kata dokter jantung mama melemah karena syok."
"Terus, soal biaya perawatan mama?"
"Aku, Haris, dan Naomi yang tanggung, pakai uang tabungan kami."
Papa menunduk, tampak menyesal. "Ya udah, soal biaya perawatan mama, Papa yang tanggung sampai mama sembuh. Dan Papa akan mengembalikan uang kalian."
"Nggak usah, Pa," Dea buru-buru menukas. "Kami ikhlas, kok."
"Nggak. Perawatan mama adalah tanggungan Papa. Lagian, kamu butuh uang selama kuliah di Jogja, kan?"
Dea tersenyum, dan mengangguk. "Ya, udah."
Papa berdiri, bersamaan dengan Dea. "Sekali lagi, terima kasih karena kamu mau memaafkan dan memberi kesempatan untuk Papa. Sekarang, kamu tidur. Papa akan ke rumah sakit besok."
"Iya, pasti tidak mudah untuk menyembuhkan hati yang telanjur disakiti," gumam papa menyesal.
Papa menyetujui saran Dea. Mereka sama-sama berjalan ke lantai atas, dan memasuki kamar masing-masing sambil mengobrol akrab seperti yang dulu sering mereka lakukan.
-;-;-;-
"Haris, Naomi. Mau, kan, maafin papa?" bujuk Dea.
Suasana di rumah sakit pada sore itu menegang sejak papa datang bersama dengan Dea. Kedua remaja itu memasang wajah kesal, lalu memalingkan wajah.
Setelah dengan apa yang dilakukan olehnya, pria ini datang dan berlutut di hadapan Haris dan Naomi, lalu meminta maaf. Apa itu pantas? Ke mana syaraf urat malunya? Sudah putus? Wajah memelas itu, apakah tulus? Mereka muak melihatnya.
"Kak, dikasih berapa juta duit yang Kakak terima dari orang ini?" sindir Haris.
"Tau! Kakak, kok, gampang luluh sama orang yang udah nyakitin mama?" timpal Naomi.
"Haris, Naomi," tegur Dea lembut, lalu melihat papa yang menunduk layu. Rasanya tak tega. "Kakak tahu kalian marah, sama halnya dengan Kakak, tapi kalian udah dengar penjelasan papa, kan?"
Haris mendengus. "Gampang banget minta maaf! Lupa kalau dia udah buat salah? Lagian, kenapa bisa begitu gampangnya tergoda sama perempuan? Ada gitu, manusia amnesia, sampai lupa punya anak dan istri!"
Dea berjalan mendekat. Ia sangat mengerti bahwa hati Haris telah tergores terlalu dalam karena kejadian yang papa lakukan waktu itu. Tangannya diletakkan di pundak Haris.
"Haris, nggak ada satu pun manusia yang nggak berbuat kesalahan. Kamu juga pernah, kan?" ujar Dea lembut, duduk di sisi kanan Haris.
"Tapi papa udah mengkhianati mama, Kak," Haris membela diri.
"Iya, kesalahan papa sangat besar. Tapi papa sudah menyesalinya, apa salahnya kita memafkannya? Tuhan aja memaafkan setiap kesalahan umatnya, kok, bagi yang sungguh-sungguh ingin bertobat."
Apa yang diucapkan Dea, sama dengan yang disebutkan dalam kitab dan guru agamanya. Kilas balik akan masa bahagianya berputar. Ia ingat kala papa selalu menjadi panutan, melakukan hal baik, menasihatinya, dan menyayanginya. Baru kali ini papa memukulnya. Baru kali ini papa mengkhianati mama, yang dulu sangat dicintainya.
Mungkin benar, papa menyesal. Meski rasa sakit di hati ini belum sepenuhnya hilang, demi kakaknya yang sudah bersusah-payah menyatukan keluarga ini, ia mau memaafkan papa. Tetapi jangan harap untuk bisa segera akrab lagi. Semua butuh waktu.
Haris pun mengangguk, walau terpaksa. Tapi sudah cukup membuat Dea tersenyum, dan melegakan hati papa.
Sekarang, Dea mengalihkan pandangannya pada Naomi. "Kalau Naomi, bagaimana?"
Naomi si manja, yang selalu bergelayut dalam pelukan papa, kadang merasakan kerinduan yang teramat dalam pada papa. Kangen candaannya, kangen tawa dan cerita papa. Dia tak ragu untuk memaafkan. Sekonyong-konyong, ia menghamburkan diri dalam pelukan papa.
Dea tersenyum. Meski sulit, pada akhirnya rasa cinta yang pernah ada yang meluluhkan hati mereka. Ia salut karena adik-adiknya berjiwa besar untuk memaafkan. Selanjutnya, memperbaiki sedikit keretakan yang ada di dalam rumah tangga papa dan mama.
-;-;-;-
Alena adalah cewek cantik dan modis di kampusnya. Banyak cowok yang tertarik padanya, termasuk Jefri. Cowok itu getol sekali mengejar Alena yang sudah menolaknya mentah-mentah. Ke manapun Alena berada, maka ia akan ke sana untuk mendatanginya.
Sore ini, dia mencoba peruntungannya lagi. Mungkin pernyataan cinta yang ke 8 kali akan membuahkan hasil. Dia mengejar Alena yang terus tak mengacuhkannya, sampai mereka keluar dari gerbang kampus.
"Please, Le. Jadi pacar gue, ya?" Jefri memelas.
"Le, Le. Emang gue lele!" sembur Alena. "Kalo gue bilang nggak, ya nggak!"
"Tapi, Le—"
Alena akan berjalan lagi, tapi terhenti dan tertegun. Ada pemandangan yang tidak mengenakkan yang dilihatnya tadi. Ada sepasang cewek dan cowok sedang naik motor lewat di depannya. Malah, ia mengenal pasangan itu.
"Itu bukannya, Reza sama Vika?"[]