
Dean dan Dea telah berkumpul bersama dengan orangtuanya dan kedua adiknya di ruang tamu. Beberapa cangkir teh dan camilan telah dihidangkan selama Dean menceritakan niatnya ke rumah keluarga ini.
Papa dan mama saling memandang, tercengang. Lalu, papa bertanya pada Dean.
"Apa tidak masalah jika kamu menikah dengan Dea? Seperti yang kamu tahu, Dea sedang mengandung bayi dari pria lain."
Dean mengangguk. "Mungkin hanya orangtua saya yang mempermasalahkannya, selama mereka tidak tahu. Selama ini, saya mengaku pada orangtua saya bahwa sayalah yang menghamili Dea."
Papa malah jadi cemas mendengarnya ucapannya, dan Dean melihatnya.
"Tapi kenapa kamu mau menikahi Dea?"
"Saya lakukan ini tanpa paksaan—malah saya yang memaksa Dea untuk menikah dengan saya," jawab Dean tertawa kecil. "Saya ingin menjadi pelindung Dea, sebagai tempat bersandar, dan sebagai orang yang dibutuhkannya." Lalu, ia menoleh pada Dea, yang juga sedang menatapnya.
"Kamu serius? Lalu, kalau sampai kebohongan ini terbongkar?" tanya papa.
"Saya akan mempertahankan Dea, dan memastikan tidak akan terjadi apa pun padanya."
Senyum papa terkembang, begitu juga dengan mama. Itu berarti, sebuah restu tinggal diucapkan saja.
"Apa Om dan Tante tidak bertanya soal pekerjaan saya?" tanya Dean sesaat hening sekejab, membuat papa tercengang. "Biasanya, orangtua akan menanyakan soal pekerjaan calon menantunya."
Papa tergelak. "Oke. Jadi, apa pekerjaan kamu?"
"Hanya seorang pegawai magang. Tapi, setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan kami nanti," jawab Dean dengan penuh percaya diri, tapi tetap santai.
"Ya, tidak apa-apa. Kalau kamu mau, saya akan bantu kamu bekerja di perusahaan tempat saya bekerja."
"Wah, terima kasih banyak, Om."
Ucapan polos Dean membuat papa dan mama tertawa. Dea diam-diam tak bisa menahan senyumnya, dan Dean senang karena tidak ada kendala seperti yang dipikirkannya.
"Oh iya, Nak Dean. Mulai sekarang, panggil kami Papa dan Mama, sama seperti Dea," kata mama.
Dean mengangguk. Sebuah peningkatan yang bagus. Dea akui, usaha Dean cukup baik. Apakah ia perlu memujinya?
"Oh, ya. Papa mau tanya, kalau kamu nggak merasa tersinggung. Kenapa kamu nggak kasih tahu saya kalau kamu sudah bertemu dengan Dea waktu kita berpapasan di kantor kamu?"
Dean terhenyak, wajahnya memucat sesaat sampai sulit mengeluarkan sebuah alasan. "Em … maaf, Pa. Saya nggak bisa kasih tahu Papa tanpa persetujuan Dea dulu."
Papa dan mama menawarkan pada Dea untuk tinggal di rumah ini. Akan tetapi, Dea menolak. Semua pakaiannya ada di tempat kos. Jadi, ia pulang bersama dengan Dean.
"Apa kamu berlatih keras untuk meyakinkan orangtuaku tadi?" tanya Dea saat perjalanan pulang.
"Tadi itu gue spontan aja. Sebenarnya, dari semalam gue cuma berlatih satu kalimat aja," jawab Dean sambil terkekeh.
Dean tersenyum geli. Bisa dibayangkan ucapan apa yang dimaksud oleh Dean itu.
"Em … Dea."
"Hmm?" Dea menoleh.
"Gue kan calon suami lo. Boleh gue pegang tangan lo?"
Dea menunduk, tersipu kala mengangguk pelan.
Tangan Dean yang hangat, membungkus jari-jari Dea yang mungil. Kenyamanan menguar dalam hatinya, menggelitik perasaannya tanpa disadari. Kini, ia tak perlu lagi ragu untuk bersandar padanya, meski kadang hati ini merasa bersalah.
🌸🌸🌸
"Apa?! Serius kamu?" Alena terpekik di ujung telepon, membuat Naomi menjauhi ponsel dari telinganya.
"Iya, Kak," sahut Haris, mendahului Naomi. "Kak Dea mau nikah sama cowok yang Kakak ajak ngobrol di minimarket dulu itu loh."
Naomi yang tadinya kesal, terperangah dan bertanya, "Serius, Bang? Kok, dia nggak kasih tahu sama kak Alena kalau dia ketemu sama kak Dea?"
"Wah, nggak tahu. Mungkin waktu itu dia belum ketemu kali sama kak Dea."
Alena yang sejak tadi mendengarkan percakapan kakak beradik ini akhinya angkat bicara. "Terus, kakak kalian mana? Mau aku maki-maki dia."
Naomi tergelak. "Gimana mau Kakak maki, kak Dea udah balik ke tempat kosannya."
Alena mendecakkan lidah. "Kalian nggak minta nomornya?"
"Ah! Lupa, Kak! Maaf, ya?" seru Naomi sambil menepuk jidat.
"Ya udah, nggak apa-apa. Nanti, aja aku maki-maki kakak kalian itu, kalau aku ke Jakarta," seloroh Alena.[]