When I ...

When I ...
Empatbelas



Maaf kalo ada typo.


Segarnya udara sore di Jogja. Sejak meninggalkan kosan Reza, Alena berjalan-jalan sendirian di alun-alun kota.


Yap! Pergi ke rumah saudara hanya alasan. Mojang bandung itu tinggal sendirian di sana, sama seperti Dea, mendapat beasiswa di Universitas Atmajaya.


Saat ini, ia keluar dari taman, menyusuri trotoar sambil memikirkan keadaan Dea.


Pasti sudah selesai masalahnya dengan Reza. Pikirnya. Ia akan mengecek, menghubungi nomor ponsel Dea.


Tanpa sengaja, pandangannya teralihkan pada jalan raya, di mana seorang wanita tengah berdiri di tengah jalan, sementara sebuah mobil Pajero putih akan mendekat.


Ia terkejut menyadari sosok wanita itu. "DEA!" jeritnya histeris, lalu bergegas menghampiri Dea yang ada di seberang sana.


Untunglah, mobil itu berhenti. Alena langsung memeluk Dea. Tak lama kemudian, pemilik mobil itu keluar dari dalam.


"De, apa yang lakuin, hah? Lo mau mati?" bentak Alena sangking syoknya.


Dea bergeming sejenak, lalu terisak. Alena bisa merasakan tubuhnya yang gemetaran.


"Dia nggak apa-apa?" tanya pria, yang ternyata Dean. Dia terlihat bingung sekaligus cemas. "Bawa masuk ke dalam mobil gue, biar gue anterin lo berdua."


"Nggak usah," tolak Alena sopan. "Biar gue yang urus dia. Maaf, ya, dia udah bikin lo kaget."


"Nggak apa-apa," jawab Dean tersenyum kering.


"Mending lo pindahin mobil lo. Orang-orang pada ngantre di belakang mobil lo. Gue mau pamit dulu, ya?"


Dean mengangguk sekali. Benar kata Alena, karena hal ini telah terjadi kemacetan di jalan. Ia bergegas masuk dan melajukan mobil sambil memikirkan keadaan Dea yang begitu mengkhawatirkan.


"Dia kenapa, ya?"


- ;-;-;-


Dea terlihat memperhatinkan. Gelas berisi air yang diberikan Alena hanya dipegang sembari termenung. Akhirnya, Alena meletakkan gelas itu, menyuruhnya untuk berbaring di ranjang.


Alena takkan bertanya bagaimana percakapannya dengan Reza, karena ia tahu bahwa percakapan itu berakhir buruk. Lebih baik, biarkan Dea menenangkan diri dan beristirahat. Ia bisa mendengarkan ceritanya kapanpun Dea ingin.


"Dia nyuruh gue aborsi." Tiba-tiba, Dea bergumam. Alena yang sedang menyelimutinya terhenti sejenak. "Dia nggak mau tanggung jawab."


Alena terdiam mendengar, semakin iba kala Dea kembali menitikkan air mata.


"Selama dua tahun, dia nggak pernah ngomong kasar. 'Gue', 'Lo'. Baru kali ini dia ngomong gitu."


Alena menghela napas, tidak pernah berniat untuk menyela. Yang dibutuhkan oleh Dea adalah mengatakan keluh kesahnya.


"Gue hancur, Le." Dea mulai terisak. "Gue nggak tahu harus gimana lagi sekarang."


Alena yang tadinya terdiam, memeluknya. "De, lo harus kuat. Lihat aja tuh, si Reza! Awas dia!"


"Mau lo apain?"


"Gue seret dia ke sini, terus gue pites kayak kutu! Nggak terima gue, sahabat gue diginiin!"


Dea berhenti terisak, sedikit tersenyum mendengar celetukan Alena. Dan Alena pun turut tersenyum getir karena melihatnya menderita gara-gara cowok itu.


"Dea," kata Alena, menatap Dea lirih. "Apa pun yang terjadi, lo harus tetap hidup. Tuhan udah menakdirkan elo untuk menerima anugrah ini. Anak ini nggak bersalah."


"Tapi, Le, gue mikirin ortu gue. Gue takut mereka akan sedih, apalagi gue udah mencoreng nama baik keluarga," kata Dea menunduk. "Penyakit jantung mama gue bakal kambuh lagi.


"Gue tahu. Tapi itu udah jadi risiko. Lo nggak bisa menghindari ini. Semua udah terjadi, dan lo harus menjalaninya. Gue yakin lo bisa. Gue yakin lo cewek yang kuat."


Dea mengangkat kepalanya, tersenyum.


"Jangan nyerah. Nggak usah lo pikirin cowok egois yang namanya Reza itu," kata Alena. "Emang dasar cowok brengsek! Gue sumpahin dia masuk jurang!"


"Biarin," sahut Alena. "Abisnya gue kesel. Emang sih, percuma mengumpat begitu. Toh, yang pantes menghukum orang cuma Tuhan."


Ya, Dea selalu percaya bahwa Tuhan akan membela umatnya yang tersakiti. Karena hal ini, cinta berubah jadi benci. Ia tidak akan dendam pada Reza, tapi ia tak mau memikirkannya meski bayi yang ada di dalam kandungannya selalu mengingatkannya akan kenangan bersama dengan pria itu.


Jadi, apa yang akan dilakukannya sekarang?


- ;-;-;-


"Nih, Le."


Alena melihat heran pada sebuah surat yang diberikan oleh Dea pagi ini. Lalu, ia melirik Dea.


"Kalau orangtua gue dateng dan cari gue, kasih surat ini ke mereka," lanjut Dea.


Alena menatap skeptis. "Lo, yakin mau ke Jakarta?"


"Iya. Nggak ada pilihan lain," jawab Dea. "Gue bakal tinggal jauh dari orangtua gue, terus mencari pekerjaan buat biaya hidup gue."


"Dea," desah Alena. "Mending lo bilang sama orangtua lo. Daripada kabur gini."


"Gue udah bilang, kan?" tukas Dea.


"Iya, gue tahu," Alena cepat-cepat menyela. "Tapi kalau kayak gini, orangtua lo malah semakin khawatir dan sedih."


"Le!" seru Dea jengkel. "Gue udah memutuskan, dan gue nggak bakal berubah pikiran."


Alena terdiam menatapnya, menyayangkan keputusan Dea yang terlalu tidak bijaksana menurutnya. Tetapi karena Dea bersikeras, ia menyerah.


"Terus kuliah lo?" tanya Alena kemudian.


"Gue udah menyerahkan surat izin cuti selama setahun."


"Oke. Gue cuma bisa berdoa, semoga lo terus dilindungi oleh Tuhan. Jaga kesehatan lo dan bayi lo," ujar Alena.


Dea mengangkat kopernya setelah berpelukan dan mengucapkan salam perpisahan pada Alena. Dia akan meninggalkan kota ini, dengan segala kenangannya selama satu tahun dengan kereta api.


Ia berencana untuk tinggal di sekitar daerah Kramat Jati. Sebuah tempat kos mungil milik seorang wanita yang tinggal sendirian, dan harganya cukup murah.


"Mudah-mudahan kamu betah, ya, tinggal di sini," kata wanita itu begitu lembut.


Dea tersenyum. "Makasih, Bu Hajah."


Dea menutup pintu kamarnya, menatap ke sekeliling. Diletakkan kopernya pada sebuah sudut ruangan, berjalan ke arah jendela. Udara segar langsung masuk ke kamarnya, begitu jendela dibuka olehnya. Ia melongok ke bawah, melihat jalan gang yang sepi.


Awal dari kehidupan barunya yang cukup berat. Ia berusaha untuk hidup teratur dengan makanan yang sehat untuknya dan bayinya. Berhari-hari mencari pekerjaan dan melamar dibeberapa tempat. Akan tetapi, hasilnya nihil.


Sudah sebulan ia menganggur. Uang tabungannya menipis. Keadaanya semakin memprihatinkan. Ia dilanda rasa stress dan depresi. Ia sering menangis karena merasa tak kuat menghadapi kehidupannya ini.


Cekungan di matanya terlihat dan badan yang semakin kurus, membuat pemilik kos bertanya padanya pada sore hari di ruang tamu. Wanita itu sedang menonton TV, lalu menawarinya sebuah camilan.


"Bagaimana? Apa kamu udah dapat pekerjaan?" tanya wanita itu.


Dea menggeleng sedih. "Belum, Bu. Terakhir saya melamar pekerjaan di sebuah kafe, tapi belum juga dihubungi."


Wanita itu mengangguk, lalu berpikir sejenak. "Ibu ingat, teman Ibu cerita kalau ada lowongan di perusahaan konveksi. Tapi jauh, Neng. Di daerah Tangerang kalau nggak salah."


Bukannya mempermasalahkan lokasinya, tapi karena Dea tidak bisa menjahit meski memakai mesin. Ia menunggu beberapa panggilan pekerjaan lainnya saja.


Keesokkan harinya, ia mendapat kabar baik. Ia diterima bekerja di sebuah restoran sebagai pelayan. Bukan main senangnya Dea. Ia segera mempersiapkan semuanya hari itu, mulai dari pakaian.


Ia berdiri di cermin, menatap diri. Perlahan tangannya mengarah ke perutnya, mengelus lembut sambil tersenyum haru.


"Semoga semuanya baik-baik saja. Aku akan melahirkan dan membesarkan bayi ini meski tanpa Reza sekalipun."[]