
Alena melakukan pencarian bersama dengan Haris sampai matahari hampir tenggelam. Jakarta begitu luas, keluh Alena. Haris hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Emang Jogja nggak luas, Kak?" tanya Haris, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan dengan sepeda motor milik Dea.
"Lha, emang belum pernah ke Jogja?"
Haris menggeleng. "Kapan aku bisa main ke sana. Nggak ada yang ngajak."
Alena terkekeh. "Nanti kalau libur panjang, main-main deh ke Jogja."
Helaan napas berat keluar dari mulut Haris. "Nggak tahu deh, Kak. Kak Dea aja masih belum ketemu. Bagaimana aku bisa pergi kalau keadaannya masih begini?"
Alena sangat mengerti. Ia juga mengkhawatirkan keluarga ini, termasuk mama Dea. "Haris, tenang aja. Eh, Haris, kamu haus nggak? Beli minum dulu, yuk!"
Alena menunjuk sebuah mini market. Haris membelokkan setir motornya ke arah sana, lalu menurunkan Alena.
"Kamu mau minum apa?" tanya Alena sambil menyerahkan helm yang dipakainya.
"Em ... apa aja, Kak."
"Oke! Em ... mau ikut masuk?"
"Nggak usah, di sini aja."
Alena masuk ke dalam mini market. Seorang kasir menyapanya ramah dengan agak sedikit berseru. Lalu, ia berjalan ke arah kiri, menghampiri show case dua pintu berwarna putih.
Banyak minuman dalam lemari pendingin itu, dan Alena meraih sebotol yogurt dan sebotol minuman rasa jeruk. Setelah membayar, ia keluar dari minimarket, akan menuju motor Haris terparkir.
"Aw!" pekik Alena, kala bahunya tak sengaja menabrak dada seorang pria.
Pria ber-sweater putih itu menoleh. "Sorry, nggak sengaja."
Alena mengelus bahunya yang sakit. Tidak, ini bukan salah pria itu, melainkan salahnya. Ia mendongak, akan meminta maaf. Akan tetapi, ia tertegun begitu menatap wajah yang tampak tak asing itu.
Pria itu akan melenggang masuk ke dalam mini market. Alena bergegas berseru, mencegah langkah pria itu. Lantas, Alena berdiri di depannya.
"Kayaknya, kita pernah ketemu deh?"
Pria itu mengernyit jengkel. Modus banget cewek ini. Mentang-mentang wajahnya tampan, minta kenalan aja dengan cara murahan kayak gini.
"Aku Dean," katanya sembari mengulurkan tangan. "Mbak, kalau mau kenalan, jangan pake modus kayak gini dong?"
"Hah?" Alena melongo sekejab, lalu berkata dengan jengkel. "Maksud saya bukan...."
"Ya, ya, saya tahu saya ganteng," sela Dean. "Tapi saya orangnya nggak sombong kok. Saya akan terima permintaan kenalan dari Mbak."
Alena mendengus dan tersenyum sinis. "Pede banget sih, jadi orang! Situ oke?"
"Lah, emang kenyataannya gitu. Coba lihat saya. Cewek mana yang nggak ngejar-ngejar saya?"
Sinting! Alena merengut jengkel. Malas ladeni orang kaya gini. Percuma, bikin minumannya jadi tidak dingin lagi.
"Sorry, ya. Salah orang kayaknya!" ujarnya ketus, lalu berbalik menuju tempat Haris.
"Siapa, Kak?" tanya Haris, menerima sebotol minuman jeruk dari Alena.
Sambil membuka tutup botol, Alena mengumpat, "Orang gila."
"Masa ada orang gila punya mobil?"
Haris menunjuk pada sebuah mobil Terios warna hitam yang terparkir agak jauh dari mereka. Haris melihat Dean keluar dari mobil itu tadi.
Memang tidak bisa dipercaya, awalnya. Namun, kemudian Alena berkata dengan ketus, "Haris, jaman sekarang ini, orang gila itu kelihatan waras dari luarnya aja."
-;-;-;-
Baik sekali Winda, memberikannya sekotak martabak telur. Untuk membalasnya, Dea membuatkannya segelas jus wortel dan susu pagi itu. Winda merasa senang sekaligus terkejut dengan perlakuan ini.
"Apa ini? Saya 'kan tidak minta?" tanyanya, lalu meminumnya dengan tak sabar.
"Saya yang buatkan buat Mbak, sebagai ungkapan terima kasih," jawab Dea, tersenyum.
"Terima kasih mulu? Aku nggak berbuat apa pun kok."
"Mbak udah membelikan saya sekotak martabak dan mengantarkan ke rumah saya."
"Tapi Mbak Dea, saya nggak beliin Mbak martabak."
Bukan hanya Winda, Dea bingung sampai termenung cukup lama. Ia menyadari kekeliruannya.
Jadi, kalau bukan Winda, siapa yang membelikannya martabak? Ia memikirkannya sambil terus berjalan menuju pentri.
Kebetulan, ia melihat Dean dari jauh. Dugaannya mengarah pada pria itu. Namun, kemudian disanggahnya karena ada sebuah alasan kuat: Dean juga tidak tahu alamat rumahnya.
Sore harinya, sebuah kiriman seporsi mie ayam datang lagi untuknya. Alih-alih memakannya, Dea justru membuangnya ke tong sampah. Ia tak mau memakan pemberian dari orang yang tidak jelas.
Ia berusaha tak mengacuhkan, tapi ujung-ujungnya otaknya tak bisa berhenti memikirkan orang misterius yang mengirimkan makanan. Sampai ia tak bisa tidur, dan alhasil bangun lebih awal dari alarm yang dipasangkan di ponselnya.
Ia keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan rambut basah. Ibu kos baru saja masuk ke dalam rumah, membawa beberapa bungkus makanan untuknya dan anaknya.
Wanita itu menyadari keberadaan Dea, menyapa, lalu menghampirinya. "Dea, kamu udah sarapan?"
"Belum, Bu. Saya baru selesai mandi," jawab Dea.
"Ini, ada sebungkus bubur ayam buat kamu." Ibu kos memberikan bungkusan warna putih pada Dea.
"Buat saya, Bu?" Mata Dea membulat, tak percaya.
"Iya. Habisin, ya?"
Dea tersenyum dan berkata, "Terima kasih, ya, Bu."
"Harusnya, kamu bilang terima kasihnya sama teman kamu."
Teman? Apalagi ini? Orang misterius itu lagi yang memberikannya kah?
"Ibu tahu ... eh, maksudnya. Ibu tanya tidak nama orang itu?" tanya Dea.
Ibu kos heran melihat Dea yang begitu serius. "Nggak. Emang kenapa, Dea?"
"Em ... kalau ciri-ciri orang itu Ibu tahu?"
"Iya," jawab ibu kos sangsi. "Dia tinggi, rambutnya belah samping, ganteng ... dia pakai rompi warna biru dongker berlapis kemeja putih dan bercelana hitam."
Dea tidak mengenal pria yang berciri-cirikan seperti itu. Kalau dari penampilannya, pria itu pasti seorang pegawai kantoran. Apakah orang itu salah satu pegawai tempatnya bekerja? Tapi siapa?
Dea menopang dagunya, duduk pada salah satu kursi dari keempat kursi yang mengelilingi sebuah meja kayu jati. Tak terdengar suara langkah kaki sedang memasuki pentri, yang kemudian menuju ke sebuah rak.
Ia baru menyadari bahwa Dean sedang meraih sebuah mug oranye, menuangkan satu bungkus teh tarik instan ke dalam gelas.
Dea spontan berdiri dan langsung menghampirinya sembari berseru, "Biar saya aja, Mas!"
Dean berhenti menuangkan air panas yang ada di dalam termos ke mug. Ia tak menolak, membiarkan Dea menyeduh minuman itu untuknya. Setelah diaduk, Dean membawa mug itu pergi tanpa mengatakan apa pun.
Sejak Dea berkata dingin, Dean terkesan tak mau menatapnya, menyapa juga tidak. Apa pria itu marah? Sebenarnya, Dea tak peduli. Bagus jika pria itu tak mengusik hidupnya yang penuh lika-liku dan aib.
Ditatapnya beberapa saat punggung Dean, kemudian berbalik sedikit sebelum tertegun karena menyadari sesuatu. Dea kembali menoleh ke arah Dean yang telah berada di ujung pintu pentri.
Teringat kata ibu kos tadi pagi. Pria itu memakai rompi berwarna biru dongker sebagai lapisan dari kemeja putih, lalu dipadukan celana panjang hitam. Penampilan itu sama persis seperti Dean.
Jangan-jangan....
Sebelum pria itu lenyap dari ujung koridor, Dea bergegas berlari mengejar Dean sambil berseru memanggilnya. Dean berhenti, lalu menoleh. Kepalanya dimiringkan, bertanya-tanya dalam hati: kenapa gadis ini memanggilnya?
Dea sampai di hadapannya dengan napas terengah-engah. Ia mengatur napasnya sejenak, sementara Dean bertanya:
"Ada apa?"
"Kamu 'kan yang mengirimiku makanan setiap hari?"
Dean terdiam sejenak menatap gadis itu. Cukup lama, sebelum akhirnya sebuah senyuman terulas. "Segampang itu aku ketahuan, ya?" gumamnya, membuat Dea mengernyit.
"Kenapa kamu lakukan itu?"
Kenapa ini, Dean perlahan maju selangkah demi selangkah karena Dea terus mundur menghindarinya. Akhirnya, Dea terpojok karena sebuah dinding.
"Kenapa kamu bisa dengan mudah membuatku ketahuan, tapi kamu tidak bisa membaca perasaanku?"
Dea mendelik.[]