
Lusa adalah waktu lamaran Dean. Begitu mendapat kabar, Rachel langsung berangkat ke stasiun. Tak sabarnya ingin bertemu dengan calon istri abangnya.
Di saat ia mengantre di loket, ia bertemu dengan Alena. Wanita itu berdiri di sampingnya, dan ia langsung menyapa.
"Hai, Kak. Mau beli tiket kereta? Buat siapa?"
"Buat aku. Aku mau ke Jakarta malam ini juga," jawab Alena seraya mengangguk. "Kamu juga mau ke Jakarta?"
Rachel mengangguk dengan semangat. "Iya, Kak. Abang aku mau lamaran lusa."
Alena menaikkan alisnya sebelah. "Abang? Maksudnya, Dean?"
"Yap! Tapi aku nggak tahu siapa calonnya. Mama dan papa kompakkan sama bang Dean untuk merahasiakan calon istri abang aku." Rachel tampak cemberut sejenak, membuat Alena terkekeh.
"Nanti juga dikasih tahu kok. Sabar aja."
Perjalanan kereta tak terasa karena ada teman untuk mengobrol. Mereka sampai pada pagi harinya. Rachel dijemput oleh supir, menawarkan tumpangan pada Alena. Tapi Alena menolak karena ada yang menjemputnya.
Sesampainya di rumah Dea, Alena memeluk Dea, lalu memperhatikan tubuhnya yang semakin kurus.
"Lo nggak makan, Dea?" tanya Alena heran.
"Makan, tapi keluar lagi karena terus-terusan mual," sahut gadis itu sambil menghela Alena masuk ke dalam rumah.
"Ngomong-ngomong, siapa calon laki lo? Penasaran gue?" tanya Alena, tidak perlu terlalu lama untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Dea malah tersenyum dan berkata, "Lo istitahat aja dulu. Nanti gue ceritain."
Alena berhenti melangkah. Matanya menyipit tajam. "Lo udah ketemu sama Reza?"
Pertanyaan itu sontak mengubah wajah Dea menjadi muram.
Alena jadi merasa bersalah sudah membuat Dea sedih pada detik-detik menjelang hari bahagianya.
"Oh, iya! Karena lo nggak mau kasih tahu gue soal calon lo, berarti lo harus dapat hukuman," kata Alena tiba-tiba sembari tersenyum jail.
"Apa?"
"Gue nggak punya baju bagus nih buat besok. Lo harus pinjamkan baju buat gue," seloroh Alena.
"Hmm ... nggak usah pinjam. Gue beliin sekarang juga."
🌸🌸🌸
Mobil Porce hitam milik Dean terparkir di depan rumah. Seorang satpam membukakan pagar, lalu mobil itu masuk ke dalam pekarangan rumah.
Papa tercengang begitu keluar dari dalam mobil, memperhatikan rumah ini sambil mengingat-ingat.
"Iya, kayaknya, Pa," timpal mama Dean, ragu.
Dean hanya tersenyum sambil terus berjalan, mengiring papa, mama, Rachel dan seorang pelayan ke depan pintu.
Bibi membuka pintu, tersenyum sambil menyapa. Keluarga itu dipersilakan masuk, sementara keluarga Dea sudah menunggu di ruang tamu.
Wajah papa dan mama Dean sama dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh orangtua Dea. Pak Martin menyambut pria itu, lalu menjabat tangannya.
"Martin. Aku tidak sangka kalau Dea adalah anakmu," kata papanya Dean.
"Aku malah terkejut kalau Dean ternyata anakmu, Ferdi. Ngomong-omong, kenapa anakmu diberi jabatan sebagai pegawai magang di perusahaanmu?"
Ferdi tersenyum, menoleh pada Dean sejenak. "Itu atas dasar keinginannya. Dia mau belajar mandiri, katanya."
Dean tersipu, lalu menyalami calon papa mertuanya.
Kedua istri mereka juga sama akrabnya. Mereka saling berpelukan dan bertukar kabar. Lalu, Rachel memberi salam pada mamanya Dea dan papanya.
"Ngomong-ngomong, mana nih calonnya bang Dean?" celetuk si bontot itu kemudian.
Mamanya Dea menoleh pada Naomi seraya tersenyum. "Naomi, panggilkan kakakmu sana!"
Rachel akan membuntuti Naomi sambil berkata, "Aku boleh ikut, ya—"
Namun, Dean bergegas meraih dan menahan tangan Rachel. "Kamu, duduk sini!" perintah Dean dengan suara agak pelan.
Rachel terpaksa menurutinya sambil kembali duduk dengan wajah cemberut.
Tak lama kemudian, suara langkah menuruni tangga terdengar. Semua orang yang ada di lantai dua menoleh pada sosok yang muncul di sana.
Dea datang bersama dengan Alena dan Naomi yang merangkul lengannya. Dean berdiri terpana melihat Dea dengan balutan gaun merah muda selutut yang terlihat begitu cantik.
Rasa penasaran Rachel tertuntaskan. Namun, ia tak menyangka bahwa Dea yang menjadi calon kakak iparnya.
Alena terperangah saat melihat pria yang akan melamar sahabatnya. Sungguh diluar dugaan! Yang terpikirkan adalah Reza, tapi ternyata malah si tengil Dean?
"Kok Dean yang...?" bisik Alena.
Dean menoleh sedikit sambil bergumam pelan. "Nanti gue ceritain."[]