When I ...

When I ...
Episode 52 ‐ Ambisiku



"Apa kabar? Lama nggak ketemu, Dean."


Dean terpaku cukup lama. Rebecca tersenyum riang meski pria itu tampak tak senang dengan pertemuan ini.


"Saya harap, kita bisa bekerja sama dengan baik," kata Dean dingin sambil kembali membaca berkasnya.


Rasa kecewa terlihat sekejab, lalu Rebecca tersenyum. "Baik, Dean."


"Tolong, jaga sikap kamu."


"Baik, Pak."


Sambil melirik sinis pada Rebecca, Dean memerintahkannya untuk kembali ke meja kerjanya.


Rebecca berjalan riang ketika keluar dari ruangan. Tak sabar hati ini ingin membagi kebahagiaannya pada sahabatnya, Tia.


Dia menghubunginya sesampainya di meja kerjanya. Ia berseru, menyapa sang sahabat.


"Senang banget kedengarannya," jawab Tia, menggoda. "Ada kabar baik nih? Diterima kerja? Atau ketemu bos ganteng?"


"Double cuan! Dapet kerjaan iya. Dapet bos ganteng juga," sahut Rebecca.


"Wuih! Beruntung banget! Seganteng apa sih dia?"


"Lo mungkin bisa bilang dia mirip kayak artis Korea yang namanya ... Kim Soo Hyun."


Tia terkekeh. "Lebay banget lo! Mana mungkin!"


"Beneran. Lo mau tahu siapa? Lo kenal sama orangnya kok."


"Siapa?"


"Dean," jawab Rebecca berbisik.


Mungkin karena terlalu kaget, tak ada suara di seberang sana. Rebecca memanggilnya berkali-kali, dikira Tia sedang melamun.


"Becca, gue saranin selama di kantor, lo harus jaga sikap," kata Tia kemudian.


"Hahaha. Kok ucapan lo sama kayak Dean?"


"Karena gue sepemikiran sama dia," sahut Tia, nada bicaranya serius. "Gue ngerasa lo masih suka sama dia, padahal lo tahu kalo dia udah nikah."


Telinga Rebecca seolah tertusuk oleh kata-kata tajam yang menyinggung perasaan. Rasanya, ia ingin menutup telepon itu.


"Emang kenapa? Nggak masalah kalo dia punya dua istri, 'kan?" katanya ketus.


"Ya Tuhan, Becca! Jangan pernah berpikiran kayak gitu! Be—"


Sudah cukup, Rebecca tak mau mendengar nasihat temannya itu. Ia langsung menutup teleponnya, meletakkannya di atas meja dengan kasar.


Hatinya sudah tertutup. Apa pun yang mereka bilang, jika suatu hal telah menjadi tujuannya, maka ia akan meraihnya sampai dapat!


Ia akan mulai coba mendekatinya dengan mengajaknya makan siang. Sebelum pria itu keluar dari ruangan, ia sudah berdiri di luar ruangannya. Ketika Dean muncul, ia tersenyum.


"Pak, kita makan siang bareng, yuk!"


Dean memasang wajah jutek, lalu berkata, "Saya nggak makan siang di luar."


"Makan di kantor, ya? Saya temanin, ya?"


Wanita menyebalkan! Dean langsung memberikan tatapan tajam untuk mengusirnya. Tapi Rebecca tetap mempertahankan senyum, meskipun sebenarnya nyalinya sempat menciut.


Rebecca terpaksa menyerah. Usahanya baru dimulai, masa sudah berakhir secepat ini? Kalau ia pergi dari kantor ini, maka kesempatannya untuk berdekatan dengan Dean akan hilang.


"Oke, saya permisi, De ... maksudnya Pak Dean."


Dean menghela napas. Dadanya terasa melonggar karena sebuah gangguan berhasil dihempaskan, meskipun ini baru sementara.


"Gue harus hati-hati," gumamnya, ketika kembali ke dalam ruangannya. "Entah, apa yang akan dilakukannya setelah ini? Gue yakin, dia masih suka sama gue."


-;-;-;-


Hari ini waktunya Dea memeriksakan kandungannya. Dia sudah mengatakannya pada Dean sebelum berangkat ke kantor.


Janji temu dengan dokter nanti sore pukul 4 sore. Dean buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, dan pulang lebih cepat.


Itu hanya rencana. Namun, karena pertemuan dengan investor berlangsung lebih lama, Dean menyarankan Dea untuk pergi lebih dulu. Mereka akan bertemu di rumah sakit saja.


Dea tak kecewa, ia paham bahwa pekerjaan Dean memang penting. Dengan diantarkan oleh supir, Dea pergi ke rumah sakit.


Tepat pukul setengah 4, pertemuan itu berakhir. Dean bernapas lega, menyambut jabatan investornya sambil tersenyum. Ia buru-buru menghampiri mobilnya yang terparkir, meninggalkan Rebecca yang tergopoh-gopoh mengejarnya.


"Dean, tunggu!" seru Rebecca.


Lagi-lagi! Dean benci wanita itu memanggil namanya. Memang, Winda sendiri memanggilnya hanya dengan nama saja ketika di luar kantor, meskipun kini ia atasannya. Tapi tidak termasuk Rebecca!


"Dean!" panggil Rebecca dengan napas terengah-engah.


Dean berhenti dengan jengkel, lalu berbalik. "Pak Dean!" bentaknya, jari telunjuknya diacungkan ke wajah Rebecca.


Rebecca terhenyak. Begitu marahnya Dean padanya. Apa pria itu membencinya?


"Maaf, Pak. Tapi boleh tidak kalau saya pulang bareng sama Bapak?" gumam Rebecca, gugup.


Dean mendengus. Dirogohnya kantong celananya, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.


"Naik taksi saja. Saya sedang buru-buru!"


Tidak! Rebecca tak mau berakhir seperti ini. Sebelum Dean berbalik, ia buru-buru meraih tangannya.


"Tapi saya takut pulang sendirian, Pak. Kalau sore begini, saya biasa bareng sama teman saya. Soalnya, saya punya trauma karena pernah dilecehkan oleh taksi online."


Apa ia harus percaya? Dean memandang perempuan itu dengan skeptis. Namun, tatapannya itu membuatnya tak tega. Apalagi, kasus tentang pelecehan terhadap perempuan memang sedang marak.


Ia melirik arlojinya. Masih ada waktu setengah jam lagi. Semoga, ia bisa tepat waktu sampai di rumah sakit.


"Naiklah," kata Dean, terpaksa.


Hati Rebecca bersorak girang. Kesempatan pertama akan dimanfaatkannya. Ia berusaha memancing berbagai topik pertanyaan selama perjalanan. Sayangnya, Dean tampak tak berniat menanggapinya.


Bagaimana tidak? Sudah dibuat jengkel semobil dengan wanita ini, lalu ucapannya yang tak penting, ditambah lagi kemacetan yang parah. Hatinya resah. Bagaimana ia bisa sampai ke rumah sakit tepat waktu kalau begini?


Akhirnya, ia baru sampai di depan rumah Rebecca pada pukul 4 lewat 15 menit. Alhasil, wajahnya berubah kusut dan masam.


"Terima kasih, ya, Pak. Em ... mau masuk dulu?" kata Rebecca.


"Nggak usah. Cepat turun!" jawabnya ketus dan dingin.


Apalagi yang dilakukannya? Rebecca terdiam beberapa saat sambil berpikir. Wanita yang tak terduga itu, tiba-tiba memeluk Dean.[]


Hai. Maaf kemarin nggak up karena lagi ada ipar yang dateng ke rumah, nggak enak juga kalo dicuekin karena sibuk nulis hehehe. oke, selamat membaca ya.