
Dea pulang ke rumah sambil menenteng sebungkus mie rebus, telur, dan beberapa buah gorengan untuk makan malam. Hari ini lagi mengidam menu itu.
Di ruang tamu, seperti biasa ibu kos menonton drama korea. Ia menghampiri dan menyapa.
"Tumben, Bu, nggak nonton sinetron?" goda Dea.
Ibu kos menoleh. "Eh, sini deh!"
Dea tertegun, lalu mengikuti keinginan wanita itu untuk duduk di sampingnya.
"Kalo lagi hamil, harus lihat yang ganteng-ganteng sama yang cantik-cantik," saran wanita itu. "Nanti, anak kamu bisa seganteng atau secantik artis-artis Korea yang kayak di TV itu lho!"
Dea melihat ke arah tunjukkan ibu kos, di mana salah satu acara TV sedang menayangkan sebuah drama korea populer bulan lalu. Ia hanya menyeringai, tak percaya pada mitos itu. Mana mungkin anaknya bisa mirip dengan mereka. Setidaknya, seorang anak akan mirip ibu atau ayahnya.
Tiba-tiba, Dea murung. Ya, benar. Seperti apa wajah anak ini kelak jika lahir. Akan secantik dirinya, atau setampan Reza?
Memikirkan dan menyebut nama pria itu, membuatnya teringat lagi. Jika Reza tahu ia ada di Jakarta dalam keadaan mengandung anaknya, apa dia akan peduli?
"Ih, si Ibu! Masa Ibu ngasih saran begitu?" tegur seorang wanita berkulit sawo matang, yang sering memakai baju seksi itu. Dia menghampiri, lalu duduk di sofa yang ada di samping ibu kos sembari celetuk, "Emang Dea lagi hamil?"
Ibu kos dan Dea terhenyak. Selama ini, kehamilan Dea ditutupi oleh para penghuni kos yang lainnya. Keduanya bingung, berpikir cepat untuk menutupi rahasia ini.
"Ya, nanti kalau Dea hamil gitu," sahut ibu kos, gugup. "Kamu juga harus ingat saran ibu itu, kalau kamu benaran nikah sama mas Jo-mu itu."
Seketika wajah gadis itu memerah dan terhenyak. "Ih, si Ibu! Kan, masih lama aku nikahnya sama mas Jo."
"Ngapain lama-lama. Keburu jadi perawan tua, lho!" celetuk wanita itu sambil terkekeh, memperlihatkan barisan giginya yang sudah ompong satu.
Saat kesempatan pikiran wanita itu teralihkan, Dea meminta izin untuk pergi ke kamar. Ia menghela napas begitu sampai di kamar. Melelahkan harus menyembunyikannya semua ini. Tapi, mau sampai kapan? Perut yang sedang dielusnya ini mulai terlihat sedikit perubahan.
Problema hidup yang pelik ini memusingkan! Dea tak ingin meratapinya terus di belakang pintu ini, berjalan ke arah tempat tidur, duduk di sana sejenak sambil memijat ringan pundaknya.
Wajah Dean tiba-tiba terlintas. Dalam benaknya, masih dipertanyakan atas sikap dan perhatiannya itu. Em ... ngomong-omong, hari ini pria itu tidak mengantarkan makanan untuknya. Apa dia karena perbuatannya sudah terbongkar, makanya tidak lagi melakukan itu?
Salah ternyata.
Malam ini, ibu kos mengetuk pintu kamarnya dan berseru. Dea yang saat itu juga sedang kebetulan akan keluar kamar merasa heran. Ada apa wanita itu ke sini? Apa mau tagih uang kos?
"Iya, Bu? Ada apa?" tanya Dea, setelah membuka pintu.
"Ada tamu?" Kemudian, ia agak mendekat dan berbisik. "Apa cowok itu ayah dari bayi kamu?"
Dea terkejut. Reza? Mana mungkin pria itu mengetahui keberadaannya?
"Siapa namanya, Bu?" tanya Dea kemudian.
"Dia ngakunya teman kamu. Namanya ... Dean."
Kecewa. Tapi ia terkekeh karena mengingat prasangka ibu kos yang tadi dilontarkannya.
"Oh. Iya, Bu. Dia memang teman kerja aku."
"Oh. Bukan ayah dari anak kamu?" timpal ibu kos. "Maaf, ya? Habis dia ganteng."
Dea hanya terkekeh. Ia dan wanita itu sama-sama turun ke bawah sambil mengobrol tentang Dean, yang dijawab seadanya oleh Dea. Wanita yang saat ini sedang memakai daster kuning itu, menawarkan padanya untuk menyediakan minuman untuk tamu Dea. Tapi ditolak olehnya. Biar ia sendiri yang membuatkannya nanti.
Dean mendengar langkah kaki, menoleh ke atas dan spontan berdiri. Dia tersenyum sopan padanya dan ibu kos.
"Dea, Ibu mau masuk kamar dulu, ya?" kata ibu kos, yang berusaha menahan senyum. Entah mengapa, ia ingin sekali menggoda gadis ini, tapi enggan.
Dea mengangguk, setelah itu menatap Dean dengan dingin. "Ngapain ke sini?"
"Udah mandi?" tanya Dean.
Pertanyaan apa itu? Dea menghela napas, jengkel. "Udah."
"Em ... udah makan?"
Apa-apaan sih? Bukan itu yang ingin didengar oleh Dea, tapi Dean malah berputar-putar tidak jelas begini.
"Kalau nggak ada yang penting, mending aku balik...." sahutnya ketus, akan membalikkan badan.
Namun, Dean buru-buru meraih dan menggenggam tangannya. "Tunggu! Oke. Gue mau ngajak lo makan di luar."
Mau apa lagi dia? Apa Dean ingin mengejarnya lagi? Tidak! Ia tak mau membuat harapan pria itu melambung, apalagi jika tahu keadaannya yang seperti ini.
"Kalau aku nolak, kamu mau pulang?" kata Dea dingin.
Ini sudah pasti ditolak, tapi Dean tidak mau rencananya gagal. "Gue nggak bermaksud macam-macam kok, cuma mau ngajak makan."
"Dean...."
"Lo tuh kenapa sih? Salah gue ngajak lo makan?" tukas Dean.
Tidak salah. Hanya saja, ia tidak mau berhubungan dengannya. Oh please, Dean. Mengertilah dan berhentilah! Ia akan kesulitan nanti. Ia tak mau membuatnya kecewa.
"Nggak, Dean. Kamu pulang deh!" kata Dea, mulai gusar.
Dean menatapnya lamat-lamat, mencari sebuah keganjilan pada diri Dea. Ia tahu, Dea memang tak menyukainya. Tapi ia merasa bahwa ada alasan lain di balik sikapnya ini.
"Lo sakit? Kita ke dokter...."
"Nggak!" Dea langsung memotong ucapan Dean dengan tegas.
Dean terdiam lagi, meneliti ekspresi Dea. "Sebegitu bencinya lo sama gue?"
Sama sekali tidak! Tapi mungkin ini yang bisa membuat Dean pergi dari hidupnya untuk selamanya.
"Iya! So, jangan muncul di hadapan aku lagi," sahut Dea.
Dea menunduk, berkata dalam hati. "Sorry, Dean."
-;-;-;-
Alena membuka pintu rumah dan masuk ke dalam dengan wajah lelah. Haris dan Naomi langsung menghampirinya, saat mereka tengah duduk di ruang tamu.
"Kak," sapa Naomi. "Gimana pencarian hari ini?"
Haris menyenggol lengan adiknya, menegur, "Kak Alena baru pulang. Biarin dia duduk dan minum dulu."
Alena tersenyum. Baik sekali remaja cowok ini? Dia dan kedua anak itu menghampiri sebuah sofa, duduk bersama, sementara bibi bergegas membuatkan segelas jus jeruk di dapur.
"Maaf, ya? Kakak nggak menemukan kakak kalian," kata Alena menyesal, beberapa detik ia duduk di sofa berwarna cokelat susu ini.
Mereka sudah duga. Wajah lesu mereka terlihat, walaupun disertai senyuman getir yang membuat Alena iba.
Pencarian hari ini gagal. Yang ditemuinya melainkan si Reza yang tidak tahu malu itu. Ia tahu, tidak seharusnya ia mengejarnya, jika Reza sendiri tidak tahu apa-apa. Justru, ia harus meluapkan kekesalannya di depan orang, saat mendengar niat konyol Reza.
Mencari Dea? Alena mencemooh. Buat apa? Setelah Dea disia-siakan, dia baru menyesal? Ia tak butuh pria itu! Segala caci-maki ia lontarkan kepada Reza—tak peduli pada orang-orang yang melintas di lapangan parkir itu. Reza ditamparnya, lalu pergi meninggalkannya. Air mata mengalir, bersamaan dengan rasa sesak di dalam dada.
"Mama kalian mana?" tanya Alena kemudian.
"Mama sedang istirahat di kamar," jawab Naomi, polos.
"Em ..." Alena mengangguk. "Kalian udah makan?"
"Udah, Kak." Kompak sekali kakak beradik, sampai Alena tertawa kecil.
Ditatapnya kedua remaja itu, termenung muram. Ini terakhir kalinya ia bisa melihat dan tersenyum untuk mereka. Besok, wajah mereka hanya akan jadi bayang-bayang kerinduan. Kehangatan keluarga ini akan terkenang dan terputus. Entah kapan ia akan bercengkrama lagi dengan mereka.
Lalu, ia melirik ke sebuah pintu kamar di dekat tangga. Iba sekali dengan wanita lemah-lembut seperti mamanya Dea ini. Ia harap, sepeninggalnya nanti, wanita itu tetap tegar dan kembali sehat.
-;-;-;-
Ditolak, bukan berati menyerah. Dean akan kembali mendekati Dea lagi. Namun, sejak tadi hidung mancung gadis itu tak kunjung muncul. Biasanya, dia mondar-mandir di ruangan ini untuk mengantarkan pesanan beberapa pegawai. Apa Dea masih marah?
Rasa penasaran akan pertanyaan itu, membuat langkahnya sampai di depan pantri. Di dalam sana, tidak ada Dea, hanya ada seorang OB bernama Tirta. Pria kurus itu sedang membuat secangkir kopi, begitu ia sampai di sampingnya sambil meraih mug warna oranye.
"Sendirian?"
Tirta menoleh dan tersenyum. "Iya, Mas. Mau saya buatkan teh tarik, Mas?" Logat Jawa yang lembut itu meluncur dari bibir tebalnya.
"Nggak usah. Biar saya saja." Dean menyobek bagian atas dari bungkus teh tarik instan.
Dean melirik Tirta sambil berpikir sangsi. Ia ingin bertanya, tapi ragu karena Tirta mungkin akan menyebarkan gosip yang menyebabkan salah paham.
"Tirta!" Akhirnya, dipanggilnya juga pria itu.
Tirta yang saat itu baru akan keluar pantri sambil membawa nampan berisi 3 cangkir minuman, menoleh dan tertegun. "Iya, Mas?"
Sambil menghampiri, Dean bertanya, "Kamu sendirian? OB yang lain mana?"
"Oh? Ada yang lagi bersih-bersih, ada yang lagi disuruh sama pegawai lain, ada juga yang nggak masuk."
Dean mengernyit. "Siapa yang nggak masuk?"
"Itu, OB baru yang namanya Dea. Katanya, dia sakit."
Sakit? Perasaan cemas langsung merayap ke hatinya. Ia termenung, lalu dikejutkan oleh Tirta yang menegurnya.
"Ya, udah. Kamu lanjutin aja kerja kamu," katanya pada Tirta, sebelum kembali ke ruangannya sambil membawa cangkir minumannya.
-;-;-;-
Dea terbaring lemah di kamarnya. Barusan, ia memuntahkan lagi isi perutnya. Ia langsung lemas setibanya keluar dari kamar mandi.
Sejak pagi, ia sudah merasa mual dan pusing. Tubuhnya lemas karena terus muntah dan tidak ada satu pun makanan yang masuk ke dalam perutnya. Ia tak berani minum obat sakit kepala karena orang hamil tidak bisa sembarangan minum obat. Jadinya, ia hanya melumuri kepala dan dadanya dengan minyak kayu putih.
Letih terus berbaring, Dea duduk di kasur dengan bersandar pada dinding. Sejenak, ia termenung memikirkan absensinya yang rusak, padahal baru saja masuk kerja.
Tadi, ia sempat berpikir untuk masuk kerja, tapi ibu kos menyarankannya untuk tetap istirahat. Ia khawatir, tidak masuknya ia bekerja, akan mempengaruhi pekerjaannya. Habis, pekerjaan inilah yang diandalkan untuk kelangsungan hidup Dea dan bayinya. Jika ia kehilangan pekerjaan, bagaimana ia bisa menjalani kehidupan ini?
Ia menoleh saat suara ketukan pintu terdengar. Perlahan sambil berpegangan pada dinding, ia menghampiri pintu, lalu membukanya.
Ia tercengang karena yang muncul bukan hanya ibu kos, tapi juga Dean. Ia bertanya-tanya, ada angin apa pria ini datang ke sini? Bukannya ia sudah mengusirnya?
Ibu kos meninggalkan mereka, sementara Dean masuk ke dalam kamar. Dea sengaja tidak menutup pintu karena tidak ingin ada yang berburuk sangka padanya dan Dean, walaupun ia merasa tidak leluasa ketika berbicara.
"Ada apa?" tanya Dea, duduk di hadapan Dean. "Kamu mau minum apa? Aku buatkan...."
"Nggak usah," sela Dean cepat. Dia terdiam beberapa saat, prihatin melihat mata sayu dan wajah pucat Dea. "Bagaimana keadaan lo?"
"Nggak usah khawatir, nanti juga sembuh," bohong Dea.
"Udah berobat."
"Nggak perlu. Dikasih minyak kayu putih juga sembuh."
Dean tidak setuju dengan ucapan Dea. Lantas, ia menegur dengan gusar. "Lo nggak boleh sepelein penyakit. Ayo, gue antarkan lo ke rumah sakit."
"Nggak usah. Gue...."
Dean tidak mau mendengarkan. Dea boleh tidak mengacuhkannya, tapi ia tidak mau gadis itu sakit. Ia harus berobat, dan cara satu-satunya adalah dengan memaksanya. Dean merentangkan kedua tangannya, lalu menggendong tubuh Dea.
Dea terkejut dan terpekik agak pelan. "Dean, kamu mau ngapain? Turunin aku!"[]