When I ...

When I ...
Delapan



"Kenapa menatapku begitu?" tanya Reza, menurunkan gelasnya, menyingkap wajah tampan nan sinis.


Dea mulai bergetar. Jika sudah begitu, sia-sia menyembunyikannya lagi. "Dari mana kamu tahu?"


"Vika."


Dea mendengus. Sudah ia duga kalau Vika akan mengatakannya. Rumahnya dan rumah Vika di Jakarta bersebelahan. Semua yang terjadi pasti keluarganya juga tahu. Ibunya yang mulutnya sama embernya, pasti yang memberitahukannya. Dan itu adalah kesempatan bagi Vika untuk merenggangkan hubungan Dea dengan Reza.


"Apa yang dia bilang?"


"Katanya," jawab Reza, meletakkan gelas di meja. "Papamu memukul adik lelakimu, lalu adikmu melawan dan mengatakan semua borok pria yang kamu sebut ayah itu."


Ucapan Reza yang sinis dan sengit itu membuat hatinya begitu sakit. Dea tahu, Reza membenci pria yang tidak setia pada pasangannya, tapi dia mencibir papanya tanpa dia tahu yang sebenarnya.


"Waktu aku bertemu dengan papamu, dia terlihat sangat terhormat di balik sikap, tutur kata, juga berpenampilan." Terdapat pias senyum sinis yang mengembang di bibir cowok itu. "Aku tidak menyangka, ternyata dia bisa juga sebejat itu?"


Air mata Dea mengalir pelan tanpa isakan. Sebegitu hinanya papa di mata orang yang dicintainya. Hatinya begitu sakit. Setiap kata-katanya bagai tamparan yang cukup keras di wajahnya.


"Bagaimana kalau sampai keluargaku tahu soal ini?" Entah ini nada penyesalan atau sindiran, yang pasti Reza telah mencabik-cabik hatinya lagi lalu mendesah. "Kamu cewek baik, Dea. Sayangnya, di dalam darahmu terdapat darah seorang pria yang suka berselingkuh."


Kepalan tangan Dea terkepal kuat. Apa yang dikatakan Reza sudah cukup didengarnya. Meski ia mencintainya. Meski pria itu adalah pilihan terbaik buat masa depannya. Jika dia terus menghina papanya, ia tidak akan terima.


"Kamu nggak tahu apa-apa, Reza. Tidak sepantasnya kamu menghakimi papaku," gumam Dea dengan beuraian air mata.


"Apa yang tidak aku ketahui?" cemooh Reza. "Seorang pria yang tidak tahu diri, tak ingat pada istri dan anaknya...."


Plak! Sebuah tamparan mengenai pipi Reza. Dia mendelik, memegangi bekas tamparan, lalu melirik Dea yang ada di depannya. Perlahan dia berdiri sejajar menghadap gadis yang telah berani melakukan ini.


"Kenapa kamu menamparku...?"


"Cukup!" Dea mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Reza. "Apa yang papa lakukan adalah sebuah kekhilafan. Wanita yang tidak dikenalnya itu menghampiri dan menggodanya."


"Heh! Sama saja dia telah mengkhianati mamamu 'kan?" debat Reza tersenyum sinis.


"Iya, tapi papa sudah maaf dan semuanya telah selesai," tukas Dea, mengusap air matanya.


Lagi-lagi Reza tersenyum mencemooh. "Bodoh banget sih? Memaafkan orang dengan semudah itu?"


Dea memalingkan wajah. Muak sekali mendengarnya. Pria ini seolah-olah paling sempurna dan tidak pernah melakukan kesalahan. Percuma menjelaskan. Lebih baik ia meraih tasnya, melenggang pergi dari tempat ini sesudah berkata:


"Manusia pasti pernah berbuat kesalahan. Jika seseorang menyesal pada perbuatannya, kenapa tidak kita memberikan kesempatan? Tuhan saja maha pemaaf kok."


-;-;-;-


Dea memarkirkan motornya di sebuah taman, duduk di sebuah bangku kayu panjang yang jauh dari keramaian. Ia memuaskan diri dengan menangis sejadi-jadinya, tak peduli pada pandangan orang yang lewat. Sampai akhirnya, seseorang menyodorkan saputangan merah muda.


Seorang wanita mana yang memberi simpati kepadanya? Apa Alena? Tapi Alena membenci warna merah muda. Maka, ia mendongak.


Wajah seorang pria yang terkena sinar matahari membuatnya silau. Dea memicingkan wajah, tapi masih kesulitan meneliti wajahnya.


"Kok nangis?"


Suara bass itu terdengar tak asing, tapi ia tak mengenalinya. Namun sedetik kemudian, ia baru ngeh sosok itu. Meski tidak tahu siapa namanya, tapi pria itu pernah ditemuinya sebanyak dua kali; di stasiun dan rumah sakit.


Dea memalingkan wajah. Bukan karena penampilannya--kali ini pria itu tidak lagi berpakaian seperti gelandangan, lebih rapi dengan memakai kardigan abu-abu dan celana jins panjang--melainkan karena malu dilihat oleh orang asing sok akrab.


"Siapa yang menyakiti kamu?" tanya pria itu, setelah duduk di sisi bangku yang kosong.


"Kepo," jawab Dea ketus.


Pria itu mengatup bibirnya, dikira akan berhenti mengusik Dea. "Ditolak cowok ya? **** amat dia, nolak cewek cantik...."


"Bukan," tukas Dea agak berseru.


"Oh, diputusin?"


Kali ini, Dea tak lagi berhasrat untuk menangis, malah rasanya ingin marah.


"Em ... berantem sama pacar?" tebak cowok itu lagi.


"Kenapa sih, kamu pengin tahu aja!" bentak Dea, membuat pria itu terhenyak beberapa saat.


"Udah nggak nangis lagi?" tanya cowok itu terpana dengan wajah polosnya.


"Aku cuma nggak tega lihat cewek nangis, apalagi kita saling kenal."


Dea semakin meradang, hingga ia menumpahkan segala kekesalannya. "AKU NGGAK KENAL KAMU!"


"Ya udah, kalau kita kenalan." Cowok itu mengulurkan tangan. Pakai tersenyum segala lagi. "Namaku Dean."


Dea menatap uluran tangan itu, semakin jengkel. Dasar cowok gila! Untuk apa meladeninya, lebih baik out dari hadapannya.


Sementara Dea ngibrit dengan motornya, Dean mematung sejenak lalu tersenyum.


-;-;-;-


Sebenarnya, ia merasa malas untuk belajar. Mood-nya rusak karena kejadian sore tadi. Ketika ia menengok ke arah foto mesranya yang terbingkai dan terletak di atas meja belajar, rasanya ingin menangis lagi. Penghinaan itu benar-benar menyakitinya.


Akhirnya, ia menutup bingkai itu, lalu berfokus pada tulisan-tulisan yang ada di dalam bukunya yang tebal ini.


Hubungannya ini tidak bilang gantung ataupun putus. Reza tak menghubunginya sejak kejadian tadi sore, Dea pun tak berminat meneleponnya meski terus menatap kontak Reza. Jarinya ragu untuk mengetuk tombol "dial".


Ah, biarlah! Dea meletakkan ponselnya dengan agak sedikit kasar. Terserah, mau putus atau tidak, ia tak peduli. Sekarang harus fokus! Fokus!


Seseorang mengetuk pintu kamarnya, saat ia membalikkan halaman buku. Ia menghela napas, berjalan malas ke arah pintu untuk membukakan pintu.


"Gue ganggu?" tanya Alena begitu pintu dibuka. Ia mengernyit tatkala melihat wajah kuyu Dea. Sambil membawa beberapa bungkus camilan, ia berjalan memasuki kamar. "Napa lo, De?"


"Nggak apa-apa," jawab Dea, menggeser kursi lalu duduk.


"Boong. Tampang lo kayak orang yang belum makan aja," seloroh Alena sembari tertawa.


"Emang gue belom makan," sahut Dea tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku.


Alena berjalan ke arah Dea, meletakkan sebungkus makanan ringan berbentuk seperti lidi dan berperisa keju. "Makan nih! Lo suka ngemil ini 'kan?"


"Le," tegur Dea yang akhirnya menoleh.


"Apa?" sahut Alena. "Gue tahu lo lagi ada masalah. Mas-mu itu, dia pasti nyakitin lo 'kan?"


Seketika wajah ayu itu berubah muram. Dea menungkupkan tangan, menutupi wajahnya.Alena mendekapnya yang langsung meluapkan tangisannya yang sejak tadi tertahan.


"Hati gue sakit, Le. Reza terus-terusan menghina bokap gue, padahal dia nggak tahu kejadian yang sebenarnya," isak Dea.


Alena sebenarnya kesal. Pria sok perfect itu, sudah ia duga bakal menyakiti sahabatnya. "Perlu gue maki-maki, nggak, tuh orang?"


Dea sedikit terhibur meski sebenarnya Alena mengatakannya dengan perasaan yang sedang marah. Tangisan Dea terhenti, lalu melepaskan diri dari dekapan Alena.


"Nggak usah, Le. Kayaknya, hubungan gue bakal berakhir deh?"


"Masa? Emang lo siap?" tanya Alena.


Alena saja tidak yakin, apalagi Dea. Ia telah memutuskan untuk fokus dulu dalam pelajaran, tidak mau memikirkan soal hubungan yang belum pasti stastusnya. Berhasilkah?


Bagaimana ke esokan paginya. Ia dan Reza sekampus meski beda fakultas. Reza tahun ini akan lulus, sementara dirinya baru semester empat. Jika sudah begitu, yang artinya pertemuan akan terjadi.


Dea sedang berjalan sendirian di area kampus sambil membawa sebuah buku di tangan. Kecantikannya semakin terpancar dengan blus warna merah muda, yang dipadukan dengan celana jins panjang yang memperlihatkan kaki jangkung indahnya.


Ia menunduk, membaca sebuah halaman sambil berdiri sejenak sebelum mendongak ke depan. Ia tertegun begitu kedua mata indahnya bersirobok dengan Reza dan Vika yang ada di sampingnya.


Vika yang semula sedang berbicara, terdiam melihat kedua pasangan ini saling menatap. "Reza, aku mau tanya dong?"


Reza menoleh. "Tanya aja."


"Tapi sambil jalan ke kelas kamu aja."


Reza menurutinya. Tanpa mengatakan apa pun, ia melewati Dea dengan acuh tak acuh.


Wajah Dea berubah muram. Ia tak terkejut jika Reza berbuat seperti ini. Matanya mulai dipenuhi oleh genangan air mata yang siap tumpah.


"Oh, kamu kuliah di sini?"


Sapaan seseorang membuatnya mendongak. Reza dan Vika pun turut menoleh.


Dean? Dia di sini? Ngapain?[]