
Pintu lift terbuka, beberapa karyawan menunggu di luar untuk giliran masuk. Namun, wajah mereka berubah kaget. Seorang wanita tak sadarkan diri.
Mereka saling pandang dan berbisik. Dari wajahnya, sepertinya wanita itu bukan salah satu staf kantor. Gadis itu juga hanya memakai baju biasa, memegang sebuah map cokelat pada tangan kanannya.
Lalu, seorang pria menghampiri kerumunan itu. Sama seperti mereka, pria itu terkejut sekejab. Tanpa banyak tanya, dia berjalan masuk ke dalam lift, menggendong tubuh Dea keluar dari lift. Dia meletakkan tubuhnya di sebuah sofa yang ada di lobi lantai dua ini.
"Tolong jaga dia, ya?" pinta pria itu pada seorang gadis yang sejak tadi mengikutinya. "Kalau dia sadar, kasih dia minum."
Wanita itu bingung menatap Dea. Ia ingin bertanya, tapi pria itu sudah keburu pergi dari tempat ini. Seorang OB perempuan kebetulan lewat, dan ia memanggilnya.
"Mbak, tolong ambilkan minyak kayu putih dan air putih, ya," pesannya.
OB itu mengangguk seraya menyahut, "Oke, Mbak."
Bergegas wanita itu pergi dan kembali secepatnya dengan membawa pesanan gadis tadi. Lalu, gadis itu melumuri minyak kayu putih di kening Dea, dan setelahnya mendekatkan botol di dekat hidungnya, supaya aroma minyak itu terhirup oleh Dea.
Hal itu seperti efektif. Dea langsung menyadarkan diri. Ia mengernyit, memegangi keningnya yang sakit sambil duduk perlahan.
"Kok, saya bisa ada di sini?" tanya Dea.
"Iya, Mbak tadi pingsan di dalam lift," jawab gadis itu, lalu menyodorkan segelas air putih padanya.
"Terima kasih," kata Dea, menerima gelas itu. Airnya hanya diteguk sedikit. Rasa pahit pada tenggorokannya sulit untuk menelan.
"Mbak mau interview?" tanya gadis itu, melihat berkas yang dibawa oleh Dea.
Dea mengangguk. "Iya. Mbak tahu di mana ruangan managernya?"
Gadis itu mengarahkan jari telunjuknya pada sebuah ruangan kedua yang ada di koridor ini.
"Oh, gitu. Ngomong-ngomong, terima kasih, ya, Mbak, udah menolong saya," ujar Dea sungkan.
"Bukan saya yang menolong Mbak, tapi teman saya yang namanya Dean."
Nama yang tak asing hingga Dea terkejut mendengarnya. Memang, yang bernama Dean banyak, dan mungkin saja pria itu bukan Dean yang ia maksud.
"Ya, udah. Sampaikan rasa terima kasih saya sama teman Mbak itu, ya?" Dea beranjak, menggenggam berkasnya. "Saya permisi dulu."
Gadis itu hendak menawarkan diri untuk mengantar Dea sampai ke depan ruangan karena masih khawatir. Akan tetapi, Dea menolak, memilih untuk berjalan sendiri ke ruangan itu.
-;-;-;-
Kasih sayang ibu yang membuat mama bertekad untuk sembuh dan segera kembali ke Jakarta. Alena merangkul lengannya, membimbingnya ketika melakukan pencarian Dea.
Tiga hari Alena, mama, kedua adik Dea, dan papanya menyusuri Jakarta. Entahlah, takdir tak juga membawanya pada Dea, sekalipun sudah mencari ke sudut kota terpencil.
Mama hampir putus asa, kala gelengan kepala sebagai jawaban atas pencarian yang dilakukan oleh mereka. Hatinya semakin lemah, begitu juga dengan raganya. Papa khawatir kalau mama akan jatuh sakit lagi.
"Mending, Mama nggak usah ikut, ya?" bujuk Naomi, ketika mereka berkumpul di ruang tamu setelah turun dari mobil.
"Iya, Ma," timpal papa. "Mama kelihatan capek dan pucat. Lagipula, dokter menyarankan agar Mama istirahat dan tidak boleh banyak pikiran."
"Tapi, Mama ingin mencari Dea," kata mama, suaranya agak parau.
"Kan ada aku," sahut Alena. "Semua akan mencari Dea sampai ketemu. Haris bisa menunjukkan jalan selama pencarian."
Beruntungnya mama karena Dea memiliki sahabat sebaik Alena yang mau membantunya. Namun, ia tetap ingin menemukan anaknya meski sedang sakit. Mungkin dengan melihat Dea, penyakitnya akan sembuh.
Alena menggeleng seraya tersenyum. "Sama sekali enggak ngerepotin kok, Tante. Lagian, anggap aja sekalian jalan-jalan keliling Jakarta. Lumayan, cuci mata lihat cowok-cowok ganteng Jakarta." Ia terkekeh.
"Wah," seru Haris. "Seharusnya, Kakak ajak Naomi aja. Siapa tahu ketemu oppa-oppa ganteng di jalan."
Naomi memelototkan mata ke arah Haris. Bikin malu saja, membongkar rahasianya!
"Ih, Abang!" Kemudian, Naomi menoleh pada Alena. "Bohong itu, Kak."
"Benaran juga nggak apa-apa," Alena menyahut jail. "Nanti, kita minta nomernya dan tanya namanya."
Semua orang tertawa, kecuali Naomi. Candaan Alena membuat wajahnya merah dan jengkel, tapi terlihat menggemaskan di mata mereka. Alena berpendapat, pasti Dea suka menggoda adik bungsunya itu.
Kemurungan kembali memasuki suasana ruangan itu. Mama menunduk dan meratap mengingat Dea. Alena jadi merasa bersalah karena membuat mereka sedih lagi. Naomi yang juga sangat akrab pada Dea, kemudian berkata lirih:
"Kak Dea itu baik, pendengar yang baik kalau aku lagi curhat. Suka ngasih aku masukan kalau aku lagi ada masalah. Dia suka bercanda, tapi tidak pernah jail."
Alena tahu semua merindukan dan mengkhawatirkannya. Ia berjalan ke arah Naomi, berjalan ke belakang sofa tempat gadis itu duduk, lalu merangkul pundaknya.
"Setelah ini, kak Dea akan mendengarkan semua curhatan kamu. Dan kamu, juga harus mendengarkan curhatan dia, ya?" ujar Alena lembut, menjalarkan perasaan hangat dan tenang ke dalam hati gadis SMP itu.
Naomi mengangguk. "Iya, Kak."
- ;-;-;-
Ia tahu bahwa pekerjaan ini sangat berat. Mengantarkan pesanan makanan karyawan, membersihkan ruangan, kadang membantu karyawan untuk memfotokopi beberapa lembar dokumen.
Tubuhnya yang kecil ini, diusahan agar tetap kuat saat melakukan pekerjaan. Kalau lelah, ia istirahat sejenak, lalu kembali bekerja dengan hati-hati.
Semua demi dirinya dan anak di dalam kandungannya. Biaya persalinan tidak bisa diandalkan dari uang tabungan yang semakin menipis. Bekerja, mengumpulkan uang yang kini direncanakannya.
Reza? Rasa rindu yang tersisa tetap masih ada. Namun, ia berusaha untuk melupakan, berfokus pada anak dan pekerjaan. Ia tak mau memikirkan lagi selain itu, meski kadang teringat juga pada orangtuanya.
Ia membawa dua gelas susu ke ruangan yang ada di lantai dua. Hampir seminggu bekerja di perusahaan ini, bolak-balik mengantarkan pesanan para karyawan. Akan tetapi, ia tak pernah bertemu dengan sosok yang menolongnya sewaktu pingsan kemarin.
Sungguh, ia penasaran. Sampai saat ini, ia mengira kalau Dean yang dimaksud adalah pria yang ditemuinya pertama kali di stasiun kereta, tak sengaja bertabrakan di lorong rumah sakit, dan yang selalu datang ke kampusnya setiap pagi. Tapi jika memang bukan, ia tetap ingin bertemu, sekadar mengucapkan rasa terima kasih atas pertolongannya beberapa hari yang lalu.
"Ini tehnya, Mbak." Dea meletakkan secangkir teh yang asapnya masih mengepul di udara ke meja sebuah wanita yang dulu begitu baik menjaganya saat pingsan.
Wanita ramah bernama Winda itu berhenti bekerja, tersenyum padanya sambil berkata, "Terima kasih."
Namun, sedetik kemudian ia tertegun melihat Dea diam-diam sedang melihat-lihat ke sekeliling ruangan.
"Kamu lagi cari siapa?" tanya Winda.
Dea terhenyak, lalu tersipu. "Ah, enggak, Mbak. Kalau gitu, saya permisi."
Bertepatan dengan akan berbaliknya Dea, seorang pria muncul di belakangnya sambil membolak-balikkan sebuah berkas.
"Win, coba kamu pe...."
Dea membalikkan badan dan menabrak tubuh pria itu tanpa sengaja. Terkejut, tentu saja. Namun, yang lebih membuat mereka tercengang adalah ketika mata mereka saling bertukar pandang. Sejak awal, Dea telah menduga siapa pria yang menggendong tubuhnya keluar dari dalam lift tempo itu.
"Dean?" gumam Dea.[]