
Masa liburan telah usai, Dean menatap kopernya yang berisi pakaian dengan berat hati.
Jika pergi, maka ia takkan bertemu lagi dengan Dea.
Ia menghela napas. Seandainya masih ada waktu untuk melihatnya sekali, atau bahkan satu detik saja, itu sudah cukup. Ia berpikir, mungkin sebelum pergi, ia bisa menemui Dea sebelum pergi.
Bagaimana kabarnya? Terakhir, ia bertemu dengan gadis itu seminggu yang lalu dalam keadaan mata sembab. Apa yang terjadi padanya waktu itu?
Seperti rencananya, ia berkunjung ke kampus yang sama dengan tempat adiknya menimba ilmu. Beberapa menit ia menunggu di depan pintu gerbang, melirik jam, bahkan sampai diperingati oleh supir dengan klakson mobil.
"Sebentar, Pak. Saya mau ke kelas teman saya dulu," katanya pada pria bertubuh agak mungil dan berkulit sawo matang itu.
Setelah berpikir cukup lama untuk memutuskan, si supir berkata, "Baik, Tuan. Tapi jangan lama-lama, ya?"
Pasti! Dean tersenyum senang dan langsung berlari menuju kelas Dea, yang waktu itu pernah diberitahu oleh adiknya. Sesampainya di sana, ia tak menemukan sosok itu di antara para mahasiswa yang sudah banyak berkumpul.
Seorang gadis yang rambutnya diikat kuncir kuda menyadari kehadiran lelaki asing yang tampak bukan salah satu mahasiswa di sini. Lantas, ia menghampiri dan bertanya, "Cari siapa, Mas?"
"Dea ada?"
"Dea? Udah nggak masuk sejak seminggu yang lalu, Mas?"
"Nggak masuk?" pekik Dean kaget. "Kenapa?"
"Cuti, Mas."
Dean termangu kecewa. Gadis itu pergi dari hadapannya setelah ia mengucapkan terima kasih padanya. Ia berjalan pelan meninggalkan kelas. Menuruni anak tangga dengan tubuh lemas.
Bagaimana tidak. Kesempatan memilikinya telah hilang. Sekarang, melihat wajahnya juga sudah terlambat. Mana rasa di dalam hatinya sulit lepas. Entah mengapa. Padahal, ini bukanlah cinta pertama.
Ia menatap jalan lewat kaca mobilnya, mengenang saat pertemuan singkatnya dengan Dea. Pedih, tapi harus ia terima. Mungkin, Dea bukan jodohnya. Cinta yang begitu dalam ini, apa bisa ia lupakan?
-;-;-;-
Prang!
Suara gaduh itu membuat semua orang menoleh pada sebuah meja yang diduduki oleh seorang wanita bergaun putih yang tampak mahal, bersama dengan suaminya. Di sampingnya, seorang pelayan wanita menunduk sambil meminta maaf atas kelalaiannya yang tidak disengaja.
"Kamu bisa kerja, nggak? Masa meletakkan sup aja nggak bisa, sampai kena gaun saya!" omel wanita cantik dan terlihat muda dari suaminya yang telah dihiasi oleh keriput pada wajahnya.
"Maaf, Bu," ucap Dea, air matanya mulai menggenang di mata cokelatnya. Rasa takut akan dipecat dari pekerjaan yang hampir 4 bulan digelutinya.
"Maaf, maaf! Cuma itu aja yang bisa kamu bilang? Tahu, nggak, gaun ini mahal! Gaji sebulan tidak cukup untuk menggantinya, tahu!"
Dea semakin tertunduk dalam. Benar. Gajinya yang kecil, bahkan ditambah oleh uang tabungannya, tidak akan cukup untuk mengganti gaun wanita itu. Sekarang, nasibnya sudah di ujung tanduk.
Karena mendengar keributan ini, manager restoran menghampiri meja itu. "Ada apa i...."
Ia ternganga melihat kekacauan yang ada di meja. Lalu, ia melihat bekas noda di gaun pelanggan setianya itu. Raut wajah tak senang langsung mengarah pada Dea, yang tak mampu menatapnya.
"Maafkan atas kesalahan pegawai baru saya. Dia memang tidak bisa bekerja dengan baik," katanya, kemudian menyindir Dea sambil meliriknya dengan tatapan tajam.
Meskipun terlahir dari keluarga berada, bukan berarti Dea tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Jika untuk sekadar memasak, ia lebih pandai dari Alena. Namun, kesalahan ini tercipta bukan karena ia tidak becus bekerja. Kepalanya yang mendadak pening, membuatnya tidak sengaja menjatuhkan semangkuk sup krim.
"Oh, dia baru di sini?" ejek wanita itu, melirik Dea sinis. "Pantesan.
"Udah, Ma. Maafin aja," kata suaminya yang tiba-tiba angkat bicara, entah mungkin karena kasihan melihat Dea.
Manager pun bertindak begitu melihat wanita itu protes pada ucapan suaminya. Tak mau kehilangan pelanggannya, ia buru-buru menyela, "Bu, atas permintaan maaf dari kami, saya akan memberikan kompensasi untuk mengganti gaun Ibu."
Malah, wanita itu tambah tak senang. Matanya melotot pada si manager sembari mencak-mencak, "Eeeh! Kamu kira saya miskin? Nggak usah! Saya bisa beli gaun baru lagi!" Kemudian, ia mengibas-kibaskan tangannya ke arah Dea seraya berkata, "Sekarang, bawa dia dari sini! Saya enek melihat wajahnya!"
"Baik, Bu," sahut manager yang terlihat senang, kemudian berbisik pada Dea yang telah mengeluarkan setitik air mata atas penghinaan tadi.
Manager menyuruhnya untuk mengikutinya ke dalam ruangannya. Ia langsung menghempaskan diri pada kursi kebesarannya, yang telah didudukinya selama 5 tahun. Tatapan gusar mengarah pada Dea. Jemari gadis itu bergerak gelisah, keringat dingin mengucur, dan jantungnya berdebar kencang. Air mata bersiap tumpah lagi. Dea sudah tahu, pekerjaannya akan terhenti sampai di sini.
Dea tahu, alasan apa pun tidak akan berguna. Menerima dan diam, itulah yang dilakukannya saat ini.
"Apa kamu nggak mau mengelak?" tanya manager, heran melihat Dea yang hanya tertunduk kuyu.
Dea menggeleng. "Saya salah. Maafkan saya karena sudah mengecewakan Bapak."
Pria itu terdiam sesaat, lalu menjauhkan tubuhnya dari meja. Ia membuka laci meja, mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil, yang setelah itu disodorkan pada Dea.
"Meskipun kamu membutuhkan pekerjaan ini, tapi saya lebih memilih untuk mempertahankan pelanggan saya."
Dea mengambil amplop itu dengan hati yang begitu pedih. Managernya itu baik; ia tahu betapa sulitnya pria itu memilih antara rasa kemanusiaan, dengan mempertahankan pekerjaannya. Nyonya tadi adalah pelanggan tetap, dan dia tak ingin melihat orang yang telah membuatnya kesal.
Ia tak menyalahkan manager itu. Ia tetap menerima keputusan itu, lalu pergi dari tempat ini sambil menangis diam-diam.
Pekerjaan satu-satunya yang sangat diharapkan dapat mempertahankan kehidupan sulitnya sudah tidak ada. Ia depresi memikirkannya. Di malam yang sedang hujan petir di luar kontrakannya, ia menangis di sudut ruangan.
Menderita sekali. Bagaimana ia bisa melanjutkan hidup, biaya untuk melahirkan saja tidak ada. Mencari pekerjaan susah, apalagi saat dirinya dalam keadaan begini.
Setan mempengaruhi. Dipukul-pukul perutnya dengan kencang, berharap bayi ini lenyap. Ia sudah tidak kuat. Ia ingin keluar dari penderitaan ini. Hanya saja, Tuhan tak merestui. Ini sudah takdirnya untuk menjadi seorang ibu dan melahirkan bayi diusia muda.
Perlahan, gerakannya terhenti. Ia menangis sambil meraung-raung. Petir menyambar, menenggelamkan suara tangisannya. Pada akhirnya, ia lelah.
Tangisan berubah isakan, lalu berhenti. Direbahkan tubuhnya di atas ranjang, termenung, sebelum matanya terpejam lalu terlelap.
-;-;-;-
Mama menatap layar ponselnya sembari termenung. Tak beberapa lama kemudian, menghela napas, lalu meletakkan ponselnya.
Siapa yang tidak mengeluh? Siapa yang tidak resah, jika sudah sebulan anak sulungnya itu tak memberi kabar. Bagaimana kabarnya? Apa dia sehat? Apa dia makan dengan teratur? Lalu, bagaimana dengan ujiannya? Semua pertanyaan itu berputar dalam otaknya.
Naomi dan Hendra melihat hal itu sambil menuruni anak tangga. Si bungsu berkata pelan sambil mendekatkan wajahnya sedikit pada kakaknya:
"Mama bengong lagi. Abang nggak coba telepon kak Dea?"
"Udah," jawab Hendra. "Tapi nggak aktif. Apa kak Dea ganti nomor baru?"
"Sebulan yang lalu sih, nomornya masih aktif—waktu itu aku pernah coba miss call kak Dea. Kalau sekarang, nggak tahu deh!" Naomi menaikkan kedua bahunya.
Kedua remaja itu menuruni tangga, lalu berjalan menghampiri mamanya yang sedang duduk di sofa sambil kembali menatap layar ponsel.
"Telepon aja, Ma," seru Hendra, lalu duduk di samping kanan sang mama.
"Iya. Ngapain nunggu kak Dea yang nelpon," timpal Naomi, yang kini duduk di sebelah kiri wanita itu. "Kak Dea paling lagi sibuk, makanya nggak sempat nelpon."
"Justru itu," sahut mama. "Mama malah ganggu dia."
"Ya, enggak lah. Kak Dea malah seneng," kata Hendra.
Sementara mama sedang berpikir, papa baru saja pulang dan mendengar percakapan mereka. Kemudian, ia menyela seraya mendatangi mereka.
"Kita bikin surprise aja. Kita datangi Dea ke Jogja."
"Pergi ke Jogja?" tanya mama seraya berseru heran.
"Yaaah! Aku nggak bisa ikut dong. Aku 'kan harus sekolah," Naomi berseru kecewa.
"Nggak apa-apa," Hendra menimpali. "Kakak juga nggak bisa ikut. Emang, kapan papa sama mama mau pergi?"
"Besok. Dua hari 'kan Papa libur," jawab Papa seraya tersenyum.
Melihat istrinya tersenyum ceria, papa sangat senang. Mama langsung bergegas untuk membereskan pakaian untuk pergi ke kota yang baru beberapa kali dikunjunginya selama Dea kuliah.
Rasa khawatirnya tertuntaskan. Besok, ia akan melihat anaknya itu, tanpa tahu bahwa Dea sudah tidak ada di sana.[]