
Benarkah dia? Tidak salahkah ia melihat? Lalu, kenapa dia tidak ada di lorong ini? Apa dia ada di salah satu ruangan ini?
Pak Martin terengah-engah di lorong ini, mengatur napas sebelum menyakini dirinya bahwa gadis yang lewat itu adalah anaknya. Langkahnya dimulai dengan menghampiri sebuah ruangan pertama. Namun, ia tersentak kala pundaknya ditepuk.
Siapa? Dea kah? Pak Martin berharap, dan buru-buru menoleh sambil tersenyum lebar. Hanya saja, senyuman itu perlahan menghilang. Alih-alih seorang gadis, yang ada di hadapannya adalah seorang pemuda tampan dengan senyuman ramah.
"Maaf, Bapak cari siapa?" tanya Dean, menyingkirkan tangannya dari pundak pria setengah baya itu.
Pandangan matanya menjelajahi seluruh tubuh Dean. Dari penampilannya, pria muda ini pasti seorang pegawai di sini. Perlukah ia bertanya padanya? Siapa tahu dia mengetahui sesuatu?
"Tidak. Tadi saya seperti melihat anak gadis saya lewat di sini?"
Dean menaikkan alisnya. "Bapak ke sini sama anak Bapak?"
"Nggak sih. Cuma ..." Pak Martin ragu untuk mengatakan permasalahan yang sesungguhnya tentang keluarganya. Mungkin, langsung saja ia menunjukkan foto Dea yang tersimpan di dalam galeri ponselnya.
"Apa kamu pernah lihat gadis ini?"
Dean melihat foto seorang gadis berkulit putih yang senyum indahnya jarang dilihatnya, dengan rambut tergerainya hingga sebatas ketiak. Lekuk wajah gadis yang begitu dicintainya, yang ternyata adalah anak ini. Sebuah fakta yang mengejutkan.
Ia bertanya, masih tanpa mengalihkan tatapannya dari foto itu. "Siapa namanya?"
"Dea Luana Mahardika," jawab Pak Martin semangat.
"Apa dia kabur atau hilang dari rumah?" tanya Dean lagi, memberikan ponsel itu ke tangan pemiliknya.
Jika pertanyaannya begini, artinya pria ini tidak tahu. Pak Martin menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Bibirnya mengukir senyum kecut yang bertahan hanya beberapa detik.
Pas sekali, panggilan telepon dari kliennya membuatnya harus segera berbalik meninggalkan Dean.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," katanya, akan berbalik.
Tidak sampai beberapa detik, Dean menggapai tangannya sambil berkata, "Saya ingin berbicara dengan Bapak nanti."
Dean tersenyum, menganggukkan kepala. Pak Martin tak mengerti dengan maksud pria itu. Namun, begitu menyadari ada sesuatu di tangannya, ia mulai menduga-duga.
Sebuah kartu nama.
Pak Martin menatap punggung kekar pria itu. Dia ... apakah tahu soal Dea? Menyesal ia, tak melihat ekspresi Dean saat melihat foto anaknya itu.
-;-;-;-
Sebongkah kantong plastik hitam yang berisi sampah diletakkannya ke dalam bak yang besar berwarna merah. Helaan nafasnya berat, tapi bukan karena kelelahan, melainkan jantungnya yang terus berdetak kencang.
Firasatkah? Oh, mungkin gejala kehamilan yang lain, meskipun ia sendiri tidak pernah membaca fakta itu di internet.
Ia kembali ke pantri, menelengkan kepalanya ke kanan dan kiri sambil memegang tengkuknya. Lantas, ia duduk di sebuah kursi, merenggangkan badannya.
"Kayak wangi aja ketiaknya," seru seseorang di belakangnya.
Dea tahu suara itu, tapi tetap saja terkejut karena tiba-tiba disapa dengan ucapannya menjengkelkan. Ia akan berseru membalas, tapi secangkir teh yang diletakkan di depan mejanya membuatnya bungkam.
Lagi-lagi dibuat terpana. Mata cokelatnya mengikuti gerakan pria itu, yang mengarah ke kursi yang ada di depannya. Dean menyeruput minumannya tanpa melirik pada si pemilik mata bening yang sedang memperhatikannya. Diletakkan cangkir itu di meja, tersenyum sambil memajukan badannya ke meja.
Ditatap seperti itu membuat Dea canggung. Spontan, ia beringsut. Aih, tatapan polosnya semakin membuatnya imut—begitulah pendapat Dean.
"Dea."
Entahlah, tiba-tiba Dea langsung menyahuti Dean. "Iya?"
"Gue cuma mau curhat. Nggak usah tegang gitu mukanya."
Dasar! Rupanya pengin diinjak kakinya, ya? Tidak usah tertawa mencemooh begitu! Bikin Dea jengkel saja.
"Sue! Emang cowok seganteng gue ada tampang pembunuh apa?" seru Dean, tersinggung.
Cowok paling percaya diri sedunia adalah tipe cowok yang paling membuat Dea muak. Akan tetapi, ia malah tersenyum tipis diam-diam. Yang dikatakan Dean terdengar lucu baginya.
"Terus, ini apa?" tanya Dea kemudian.
"Dengar nggak waktu itu dokter bilang? Teh, kopi, jangan! Seharusnya, lo bawa susu hamil lo ke sini."
Dea mendecak. Mana mungkin ia melakukan itu. Sama saja bunuh diri, membuat kehamilannya ketahuan.
"Terus, lo beli susunya?" Pertanyaan Dea sebagai pengalihan pembicaraan.
"Iyalah!" sahut Dean bangga, berharap mendapat pujian dari Dea.
Meleset! Dea justru menyindirnya. "Segitunya kamu menyelidikiku, sampai kamu tahu kalau aku suka susu rasa cokelat."
Dean tak marah dengan ucapan gadis itu, karena yang dikatakannya tidak sepenuhnya benar. Justru, ia tidak tahu soal fakta ini.
Pria itu tertegun sambil memiringkan kepala, lalu bersahut, "Wah, berarti insting gue ini tajam, ya? Untung nggak jadi beli susu rasa vanila."
Tawanya menularkan senyum di bibir Dea, dan ia melihatnya! Begitu indah dan manis lekukan itu, sama seperti yang dilihat di foto tadi. Kalau seperti ini, apakah Dea mulai....
Dean sadar, ia tak bisa mengharapkan hal itu. Lihat saja, Dea berhenti tersenyum. Senyuman itu bukan untuknya.
Hening, hanya terdengar suara seruputan dan langkah seorang OB yang masuk ke pantri. OB itu menyapa, dan Dea mengalihkan keganjilan ini dengan menawarkan diri untuk membantu OB itu. Tapi OB itu menolak.
Dea duduk lagi. Posisinya tidak nyaman, kini. Ia berusaha acuh tak acuh, tapi ia tak bisa seperti Dean yang bisa berpura-pura santai.
Dean mengetuk-ketuk gelas yang sedang dipegang dengan kedua tangannya seraya berpikir. Entah berapa lama waktu terlewat, barulah ia berkata, "Kalau elo, misalnya, ketemu sama orangtua lo, apa yang bakal lo lakuin?"
Dea yang tadinya menunduk, tertegun dan perlahan mendongakkan kepala.
Dean melirik, agak sedikit gugup. "Maksud gue, lo bakal senang atau justru sebaliknya?"
Entah termenung atau sedang berpikir, Dea menatap lama pada Dean. "Menurut kamu, bagaimana reaksi orangtua yang mendapati anaknya telah mencemari nama baik keluarga?"
Pertanyaan ini tidak tepat untuknya. Tapi apa lagi jawabannya kalau tidak sebuah "kemurkaan"? Hanya saja, ia skeptis. Wajah Pak Martin terlihat bersahaja. Apa mungkin sepemarah itu?
"Pasti berakhir tragis. Hidup ini 'kan nggak sedrama sinetron?"
Iya, Dean benar. Gurat kemuraman membias di wajah Dea yang sedang termenung menatap gelas di tangannya.
-;-;-;-
Dea sudah tahu bahwa salah menaruh harapan pada pria itu. Di mana dia? Katanya mau mengantar, tapi batang hidungnya yang mancung itu nggak nongol juga. Ditelepon ... ah, nggak mungkin! Nomer handphone-nya aja nggak punya.
Akhirnya, ia menantikan bis di halte, pulang ke tempat kos dengan wajah lelah dan lemas. Mungkin baru sembuh, makanya tubuh beraksi seperti ini. Padahal, hari ini pekerjaan sedang tidak banyak, dan OB lain juga membantunya mengerjakan tugas-tugasnya.
Jarak dari rumahnya hanya beberapa meter, tapi sesuatu hal kembali dirasakannya. Langkahnya terhenti, perlahan mengarahkan tangannya ke dada, merasakan degup jantung yang cukup kencang.
Ini bukan penyakit jantung. Entah apa ini? Apa akan ada sebuah firasat?
Ia menghela napas dalam-dalam, menghelanya perlahan. Dibiarkan diri ini tenang, sampai ia siap untuk kembali melangkah ke kediamannya.
Dea membuka pintu rumah sambil menunduk. Lalu, ia mendongak, sedetik kemudian terkejut melihat tamu yang sedang duduk di ruang tamu.
Ibu kos, Pak Martin, istrinya, beserta kedua anaknya menoleh, sama-sama tercengang. Suasana berubah, air mata mengalir, apalagi ketika wanita yang Dea panggil mama berdiri dengan bercucuran air mata.
"Dea...."[]