
Kedua keluarga sepakat dengan tanggal pernikahan yang akan diadakan sekitar seminggu lagi. Kata Pak Ferdi, tidak ada waktu lagi untuk menunda.
Rachel yang belum mengetahui apa-apa, bingung mendengar alasan papanya itu. Ia melirik curiga pada Dean dan Dea yang duduk bersebelahan.
Naomi dan Alena membantu bibi untuk meletakkan hadiah lamaran di kamar Dea. Rachel yang begitu penasaran, ingin mencari tahu lewat kedua gadis itu.
"Aku bantu, ya?" Rachel membawa sebuah kotak hadiah yang agak besar.
"Boleh," kata Naomi.
"Kak, Alena," panggil Rachel, setengah berbisik, membiarkan Naomi berjalan duluan.
"Hmm?"
"Aku masih heran? Bukannya kak Dea pacaran sama Reza, tapi kok malah nikah sama abangku?"
"Emang, Dean nggak kasih tahu kamu?" Alena malah bertanya balik.
Rachel menggeleng. Gadis ini sama tidak tahunya dengan Alena. Hati Alena menggelitik untuk memberitahukan kebenaran yang diketahuinya. Namun, ia ingat kata Dea tadi saat mereka menuruni tangga.
"Jangan mengatakan apa pun, sebelum aku jelaskan semuanya."
Iya, Alena juga tidak mau salah langkah. Makanya, ia berkata begini pada Rachel:
"Takdir itu cuma Tuhan yang tahu. Kamu tanyain aja sama abangmu. Oke?" Lalu, ia tersenyum.
Sungguh! Kenapa semua orang jadi main rahasia-rahasiaan begini? Rachel cuma bisa merutuk sepanjang hari ini.
Bibi masuk ke ruang makan, memberitahukan bahwa makanan sudah dihidangkan di meja.
"Ferdi, Hana, Dean. Ayo, kita makan." Martin mempersilakan.
Dean membantu Dea berdiri, lalu menghelanya pinggang lembut untuk berjalan bersama menuju ke ruang makan. Melihat sikap Dean, membuat mama tersenyum dan bersyukur karena Dea mendapatkan pria sepertinya.
Makan malam berakhir dengan kebahagiaan. Saatnya keluarga Dean untuk berpamitan. Papa dan mama Dean sudah masuk duluan ke dalam mobil, sedangkan Dean sendiri masih di luar bersama dengan Rachel, Dea, dan Alena.
"Gue pulang dulu, ya," kata Dean pada Dea.
"Ya, ampun. Udah mau nikah, masih aja ngomong lo, gue," celetuk Rachel sambil menyenggol lengan Dean. "Nggak romantis lo, Bang."
Dea tersenyum geli dan menimpali, "Nanti juga berubah kok panggilannya."
Rachel terkekeh, lalu mengamit lengan Dean yang tengah menikmati senyum manis di wajah cantik Dea.
"Ya udah, kita balik dulu, ya, Kak."
Rachel menarik Dean untuk masuk ke dalam mobil, meskipun Dean masih belum puas bertemu dengan Dea.
Dea pun masih di sana sampai mobil itu meninggalkan rumahnya. Dean melirik kaca spion, melihat pantulan bayangan Dea sambil tersenyum girang.
Alena melingkarkan lengannya pada lengan Dea, berjalan menuju pintu masuk. Saatnya menagih janji pada gadis itu.
"Jadi ... sekarang lo harus jelasin!" cecar Alena.
"Oh, soal itu? Dari bagian mana dulu ceritanya?"
"Reza ke mana? Terus, bagaimana bisa lo sama Dean memutuskan menikah? Emang lo nggak kasih
tahu kalau anak itu...."
"Wets!" seru Dea, pusing mendengarkan rentetan pertanyaan Alena. "Satu-satu dulu. Oke!"
"Oke," sahut Alena. "First. Di mana si brengsek Reza sekarang?"
Pedih jika mengingat kembali perkataan ibunya Reza waktu itu. Namun, Dea tetap menjawab dengan lirih.
"Dia di Amerika."
"Woah! Kurang ajar betul! Apa dia nggak mikirin elo yang lagi menderita apa?" sembur Alena, amarahnya meledak. "Terus lo ketemu Dean di mana?"
Dea menoleh, sedetik kemudian menceritakan semua kejadian yang dialami dari awal ia menginjakkan kaki di Jakarta, sampai akhirnya keputusannya untuk menerima pinangan Dean.
Entah ia sadar atau tidak, senyumnya merekah pada bagian cerita mengenai usaha Dean untuk mendekatinya walau telah mendengar kondisi kehamilannya.
Antara takjub, bingung, dan geli, Alena mendengarkan seluruh rentetan kisah, yang baginya mirip seperti sinetron itu.
"Sumpah! Apa Dean sebodoh itu?" komentarnya kemudian, mencemooh. "Bucin gue rasa tuh cowok!"
"Mungkin," timpal Dea menaikkan kedua bahunya.
"Terus, perasaan lo ke dia gimana?"
Mereka berhenti tepat di depan kamar Dea, tapi tidak langsung masuk ke dalam. Dea merenung beberapa saat, lalu menunduk sambil tersenyum. Ada hal yang menggelitik di dalam pikirannya.
"Waktu gue bilang 'bersedia', Dean berjanji bahwa dia nggak akan memaksa gue untuk mencintainya, akan menyayangi anak ini seperti darah dagingnya sendiri. Perasaan gue campur aduk. Gue tersentuh sama janjinya, tapi merasa bersalah juga karena memanfaatkan ketulusannya."
"Kalau emang dia nggak masalah, kenapa lo harus merasa begitu?" komen Alena. "Dea. Gue nggak maksa lo, tapi lo harus bisa menerima Dean di hati lo walau cuma secuil. Lupakan Reza. Dari awal gue udah bilang sama lo, 'kan, kalau Reza itu nggak pantes buat lo?"
Dea menoleh pada Alena. Entahlah, ia terlalu skeptis untuk menerima saran itu.
🌸🌸🌸
Reza bergegas membereskan barangnya ke dalam koper, setelah membaca sebuah pesan dari seseorang.
Sebuah tiket pesawat ke Jakarta telah dipesannya secara online. Kini, ia siap meninggalkan New York untuk selama-lamanya, tak peduli seberapa gusarnya sang ibu.
Ia tidak mau terlambat karena kebodohan yang dilakukannya dulu. Ia tak rela!
"Dea, aku akan membawamu kembali ke sisiku lagi," gumamnya sambil mengunci kopernya. "Tunggu aku, Dea.[]