When I ...

When I ...
Episode 51 — Dua bulan kemudian



Dea nenatap dirinya di depan cermin sembil tersenyum. Perutnya kini terlihat membuncit, dielusnya dengan lembut.


Dean menghampiri, tangannya perlahan menyusup ke pinggangnya, mengelus perutnya.


"Sedang apa, Sayang? Kamu semakin cantik kok, walaupun perut kamu tambah buncit," bisiknya.


"Rayu aja terus," timpal Dea, yang sebenarnya merasa senang mendengar ucapan itu.


Dean berpindah ke depannya, lalu merambat turun ke perut Dea. "Sedang apa dia?"


"Em ... nggak tahu." Dea tersenyum.


Dean mencium perut Dea, lalu berkata, "Anak Papa, kapan kamu lahir? Papa nggak sabar mau gendong kamu."


Beberapa detik, tidak ada respons. Tapi kemudian, Dea terkejut karena ada reaksi pelan yang terasa di perutnya.


"Dia menendang," seru Dea.


Dean tersenyum. Sebenarnya, ia juga merasakan gerakan itu. Lalu, ia berdiri, menatap istrinya.


"Kapan kamu periksa kehamilan lagi?"


"Sekitar seminggu lagi."


"Ya, udah. Nanti kamu kasih tahu kapan janji temu dokter kandungan. Aku mau mengantarkan kamu," kata Dean, menyentuh pipi Dea.


"Sama mama aja. Kamu, 'kan sibuk."


Tangan Dean menuju ke pinggang Dea, membimbingnya ke pinggir ranjang dan duduk bersama.


"Aku pengin tahu jenis kelamin anak kita, supaya bisa mikirin nama buat dia."


Iya, kini usia kandungan Dea hampir menginjak 5 bulan. Setiap bulan, Dea memeriksa kandungannya, selalu melakuka USG agar tahu kondisi janin kecil ini.


Dua bulan berlalu sejak mereka berbulan madu di Jogja. Dean sempat khawatir karena akan ada "Rebecca lain" yang menggodanya, apalagi posisi jabatannya sebagai direktur perusahaan.


Ternyata, Tuhan selalu mengabulkan doanya. Tidak ada masalah apa pun dalam pernikahannya. Cinta mereka semakin kuat dari hari ke hari.


Hubungan Dea dengan Reza juga membaik. Pertemanan mereka tak membuat Dean cemburu. Pria itu terus menanyakan tentang bayinya, karena sejak awal Dea sudah berjanji tidak akan membatasi hubungannya dengan bayi ini.


"Kamu udah tahu apa jenis kelaminnya?" tanya Reza lewat telepon.


"Belum," jawab Dea.


Di sebelahnya, Alena tampak tak suka melihat sahabatnya itu berbicara dengan pria menyebalkan itu.


"Ya, udah. Kalau udah tahu jenis kelaminnya, kasih tahu aku. Aku mau kasih nama."


Dea tersenyum. "Kalau gitu, kamu harus berunding dulu sama suamiku. Dean pengin kasih nama juga."


Reza terdiam beberapa saat, sebelum sebuah ucapan yang terdengar terpaksa. "Ya, udah."


Dea melirik Alena. Gadis itu semakin gerah tampaknya. Jadi, ia memutuskan sambungan teleponnya, lalu meminum jus mangganya.


"De, ngapain sih lo masih berhubungan sama tuh cowok? Laki lo nggak cemburu apa?" tanya Alena agak ketus dan jengkel.


"Kalau cemburu, kenapa Dean ngebolehin gue ngobrol sama Reza?" sahut Dea.


Alena terdiam, memangku dagunya. Makanan di restoran ini memang enak, tapi jadi tidak berselera karena kemarahan terhadap Reza.


"Kenapa, hah?" tanya Dea.


"Kalau aku jadi kamu, aku nggak mau maafin Reza," sindir Alena.


Dea tertawa. "Kita cuma manusia. Tuhan aja pemaaf. Kenapa manusia nggak? Jangan menyimpan dendam, Le. Dendam itu penyakit hati."


Dea benar, tapi Alena tetap tak mau mengakui. Ia cemberut sambil berkata, "Terserah kamu aja."


-;-;-;-


Dua bulan yang lalu, Dean menduduki jabatan direktur di perusahaan. Para pegawai terkejut dan menjadi segan padanya, termasuk Winda.


Sebagai atasan, Dean menjalani tanggung jawabnya dengan baik. Papa semakin bangga padanya.


Ia pernah berharap, semoga kehidupannya, pekerjaannya, dan juga pernikahan berjalan baik. Namun, apakah semua itu akan terwujud, setelah sebuah takdir mengusiknya?


Sekertarisnya baru saja resign karena mau melahirkan. Jadi, ia mempekerjakan seorang sekertaris yang telah diseleksi. Hari ini, pegawai baru itu akan melaksanakan pekerjaannya.


"Masuk!" sahut Dean, ketika pintu ruangannya diketuk dari luar.


Seorang wanita memasuki ruangan. Dean melirik pada sepasang kaki ramping yang memakai sepasang sepatu heels berwarna krem. Pandangannya berpindah pada wajahnya.


Mata Dean terbeliak menatap paras cantik dari wanita yang dijumpainya terakhir kali sebulan yang lalu.


"Dean, nggak nyangka kita ketemu lagi."


"Rebecca?" gumam Dean.[]