When I ...

When I ...
Episode 33



Wajah Dea memucat karena panik. Hal yang disembunyikannya pada akhirnya terbongkar. Ia tidak tahu apa sebaiknya mengaku, atau menyanggahnya.


 


 


"Kenapa Mbak Winda bilang gitu?" Sambil mengelus perutnya, akhirnya inilah tindakan yang diambilnya.


 


 


Winda menatapnya lamat-lamat, terdiam beberapa saat. Jadi, Dea tidak mengakuinya? Baiklah.


 


 


"Nggak. Aku bercanda aja," selorohnya seraya tertawa. "Maaf, ya, kamu sampai jadi panik gitu?"


 


 


Meski merasa aneh awalnya, tapi akhirnya Dea menghela napas lega. Ia memaksakan senyum, hanya saja tidak mengatakan apa pun.


 


 


Selepas tertawa, Winda menghampiri westafel. Ia mencuci tangannya seraya berkata pada Dea:


 


 


"Kamu lagi masuk angin tuh! Mendingan pulang dan istirahat di rumah."


 


 


"Saya nggak apa-apa kok. Masih kuat," timpal Dea.


 


 


"Jangan dipaksain. Nanti pingsan kayak waktu itu gimana?" Winda mengibas-kibaskan tangan, kemudian menghadap Dea.


 


 


Dea termenung sejenak. "Iya, Mbak. Terima kasih atas sarannya."


 


 


Winda tersenyum, lalu berjalan meninggalkan Dea yang merasa bahwa wanita itu mungkin mencurigai kehamilannya ini.


 


 


Ah, bagaimana ini?


 


 


🌸🌸🌸


 


 


Dean menundukkan kepala ketika sorot mata serius papanya mengarah padanya.


 


 


Sebuah bukti disodorkan padanya. Tinggal menjawab saja kebenaran dari foto-foto yang telah sampai ke ponsel papanya.


 


 


"Kamu sama OB itu ... benarkah ini itu kalian?" tanya papa.


 


 


"Iya," jawab Dean, mengangguk sangsi.


 


 


Papa mendecak. "Dean! Kenapa kamu lakukan itu? Kalau kamu suka sama perempuan itu, tinggal bilang sama Papa, biar kalian dinikahkan. Tapi yang kamu lakukan malah menghamilinya."


 


 


Dean mendongak, tercengang. Apa? Papanya menudingnya begitu, hanya karena foto-foto saat ia mengantarkan Dea cek kehamilan?


 


 


Sebenarnya, ini lucu—ia bahkan sampai menahan tawanya. Akan tetapi, kalau dipikir ulang, ada bagusnya juga.


 


 


"Iya, Pa. Saya yang menghamili Dea," bohong Dean. "Habis, Papa tahu, 'kan kalau pria itu...."


 


 


"Ih! Dasar anak ini!" umpat papa sedikit membentak. "Kalau mama kamu tahu, dia pasti pingsan di tempat."


 


 


"Lah, bukannya mama malah senang mau dapat cucu?"


 


 


Celetukan Dean malah membuat papanya makin kesal. Papa mencibir, lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa sambil memijat kening.


 


 


"Aduh, Dean. Kamu tuh benar-benar, ya?"


 


 


Dean terkekeh. Di dalam hati, ia bergumam: "Maaf, ya, Pa?"


 


 


 


 


Papa melirik kesal pada Dean. Lalu, ia memanggil sekertarisnya, dan berkata, "Panggil Dea! Kita harus segera membicarakan hal ini sekarang juga!"


 


 


🌸🌸🌸


 


 


Benar-benar kejutan! Entah ada apa, tapi Dea disuruh datang ke ruangan pemilik perusahaan ini.


 


 


"Duduk kamu di sebelah Dean!" perintahnya.


 


 


Dea mengangguk, melirik pada Dean yang sedang mengganggukkan kepalanya sekali. Melihat ekspresi Dean yang tertunduk layu, firasat buruk  langsung muncul.


 


 


"Dea, benar kamu sedang hamil?" tanya papanya Dean, begitu Dea duduk.


 


 


Dea melirik Dean bingung, sekaligus gugup. "Kenapa Anda bilang begitu?"


 


 


Dean meraih ponsel papanya, memperlihatkan fotonya bersama dengan Dean ketika sedang berada di dokter kandungan.


 


 


Dea mendelik, seketika ekspresinya berubah panik. Tamatlah sudah! Dean pasti sudah menjelaskannya. Kini, bersiaplah untuk angkat kaki dari perusahaan ini.


 


 


Karena tidak bisa mengelak lagi, Dea menganggukkan kepala sebagai jawaban.


 


 


Pria paruh baya itu menghela napas, terdengar nada kekecewaan di dalamnya.


 


 


"Dea, apa kamu bersedia menikah dengan Dean?"


 


 


Dea mendongak cepat, matanya terbelalak kaget sembari berseru pelan, "Apa? Menikah?"


 


 


"Iyalah! Kamu, 'kan lagi mengandung anaknya Dean," sahut pria itu. "Dean, apa dia tahu kalau kamu anak saya?"


 


 


Dea menoleh pada Dean, yang tak sanggup sorot pandangan tajamnya.


 


 


"Dia udah tahu, Pa. Soalnya, dia satu kampus sama Rachel," jawab Dean.


 


 


Pria ini! Jawabannya itu ingin membuat Dea menginjak kakinya.


 


 


"Oh, gitu. Jadi, kalian sudah kenal lama?"


 


 


"Eng—"


 


 


"Iya, Pa!" Dean memotong cepat ucapan Dea.


 


 


Papa Dean mengangguk sambil berpikir. "Ya, udah. Bilang sama orangtua kamu, kalau saya akan datang melamar."


 


 


Bukan main geramnya Dea, tapi tidak ditunjukkannya di depan papanya Dean demi kesopanan.


 


 


Sementara itu, diam-diam Dean tersenyum senang sambil menoleh ke arah lain. Akhirnya, tercapai juga keinginannya itu, meskipun dengan cara yang salah. []