When I ...

When I ...
EPISODE 16



Pemandangan kota Jogja memanjakan mata mama. Ia tak pernah memalingkan wajah ke berbagai sudut kota yang terlihat menarik baginya. Andong terus melaju karena atas permintaan papa yang ingin membawa mama melihat-lihat seluruh kota.


Setelah puas, mereka pergi ke tempat kos Dea menginap. Pesan hotel, nanti saja. Yang terpenting berjumpa dengan anak dan memastikan bahwa dirinya dalam keadaan baik.


Namun, begitu pintu kamar kosannya dibuka, wajah asing yang tampak oleh mereka. Sepertinya, mereka tidak salah kamar, tapi kenapa yang muncul orang lain? Mungkinkah gadis bermata sipit ini temannya Dea?


"Dea ada?" tanya papa.


"Dea?" Gadis itu mengulang, bingung. "Di sini nggak ada yang namanya Dea."


"Kamu bukannya temannya Dea?" cecar mama.


"Bukan, Bu. Saya aja nggak kenal."


Papa dan mama saling pandang dengan bingung. Mereka menceritakan bahwa Dea pernah tinggal di sini, sampai mereka tahu bahwa gadis itulah yang menempati rumah Dea hampir satu bulan yang lalu.


Naluri seorang ibu mulai tergerak. Firasatnya berubah menjadi kecemasan. Papa berinisiatif untuk menghubungi nomer Dea. Akan tetapi, nomer yang dihubunginya sama sekali tidak aktif.


"Ya, Tuhan. Kamu di mana, Nak?" gumam mama cemas.


Papa juga cemas, tapi tak mau membuat mama semakin memikirkannya. Maka, ia mencoba menenangkan mama dengan memikirkan sebuah ide.


"Papa akan tanya anak kos yang lain. Siapa tahu, ada yang bisa memberikan kita info."


Derit pagar yang telah karatan membuat mereka menoleh. Alena baru saja pulang kuliah dengan wajah lelah. Pandangan mereka saling bertemu, lalu Alena langsung menghampiri pasangan suami-istri itu.


"Om, Tante," sapanya, kemudian menyalami tangan mereka.


Awalnya mereka bingung, lalu papa menerka dengan tidak yakin karena wajah gadis itu cukup familiar dalam ingatannya.


"Kamu...."


"Saya Alena, sahabatnya Dea," sahut Alena. "Om dan Tante mau cari Dea, ya?"


Mama mengangguk sambil tersenyum. Sebuah harapan muncul. "Kamu tahu di mana dia, Alena?"


Alena terdiam ragu, menatap iba pada wanita, yang kata Dea, memiliki penyakit jantung. Bagaimana ia bisa cerita? Takutnya, mamanya Dea anfal dan penyakitnya kambuh. Namun, semua itu tak dapat dihindari lagi. Bagaimanapun, mereka harus tahu kebenarannya.


"Mari Om, Tante. Saya akan ceritakan di dalam."


-;-;-;-


Dua cangkir teh yang asapnya masih mengepul di atas diletakkan di hadapan mereka. Papa dan mama tak begitu tertarik dengan basa-basi Alena. Yang ingin mereka dengar adalah informasi anak sulung mereka yang tiba-tiba menghilang.


Alena mengambil sebuah kursi, duduk di hadapan mereka dengan canggung dan tak enak hati. Berkali-kali ia menghela napas, berkali-kali juga ia berpikir.


"Silakan minum, Om, Tante," Alena mempersilakan.


Cangkir itu sama sekali tidak diliriknya, mama langsung mencecar Alena. "Nak, Alena. Tolong kasih tahu di mana Dea sekarang? Kenapa nomer handphone-nya tidak aktif?"


Papa yang memperhatikan sikap Alena yang begitu gelisah sambil menunduk, turut menimpali, "Ada apa, Alena? Ngomong aja. Jangan ragu."


Alena menaikkan wajahnya, menatap mereka sebelum melangkah ke meja belajar, mengambil sesuatu yang terselip pada halaman sebuah buku. Sebuah kertas, yang kemudian diberikan pada papa.


Meski bingung, papa menerima kertas itu. Mungkin, ini adalah sebuah surat yang ditinggalkan oleh Dea. Papa membuka lembaran itu. Mama yang penasaran turut melongok dan membaca setiap kata yang terdiri dari satu paragraf itu.


Isi surat memang tak menceritakan secara gamblang, tapi inti dari surat itu adalah: "Jangan cari aku, jangan kirimi aku uang lagi. Aku sudah memutuskan untuk cuti kuliah selama satu tahun. Ada hal yang tak bisa aku jelaskan kenapa aku melakukan ini".


Alena menunduk dalam, menggenggam ujung roknya ketika isakan terdengar dari mulut mama. Papa merangkul wanita tercintanya itu, lalu menatap Alena.


"Maksudnya apa ini, Nak Alena? Ke mana Dea tinggal sekarang?" tanya papa menahan emosinya.


"Maaf, Om, saya tidak tahu tepatnya di mana. Tapi Dea bilang, dia akan tinggal di Jakarta?"


"Tapi kenapa dia harus cuti kuliah? Dan kenapa tidak pamit dengan kami?" tanya mama dengan isakan.


"Dea kenapa, Alena?" desak papa.


"Dea ..." Ketika rasa iba menghasut rasa ragu untuk muncul di dalam dada. Mulutnya terkatup rapat, tak mau meneruskan kata-katanya lagi.


Namun, hati seorang ibu yang pengin tahu, membuat mama maju ke arah Alena dan menggenggam kedua bahunya, lalu menggoncang-goncangkannya.


"Bilang! Kenapa dia?!" jerit mama meraung-raung.


"Dea pergi karena ..." Alena menelan air liurnya. "Dea hamil, Tante."


Mama membeku, kedua matanya mendelik. Genggaman tangannya pada bahu Alena perlahan melonggar.


Hamil. Kata-kata itu terus berdengung di telinganya. Seolah tak percaya. Anak sebaik dan penurut itu bisa melakukan hal ini? Langit seolah runtuh. Mama hampir jatuh jika tidak dipegangi oleh papa dan Alena yang sigap membantu.


"Nggak mungkin," gumam mama syok. "Mana mungkin Dea melepas keperawanannya dan mempermalukan keluarga kita seperti ini?"


Papa tak mengatakan apa pun. Sama seperti istrinya, ia sendiri tak percaya. Namun, sekali lagi ia memastikan pada Alena. Sia-sia, Alena menjawab hal yang sama.


"Siapa yang menghamilinya? Apa Dea cerita?" tanya papa.


"Reza, Om."


Pria itu dikenal baik oleh mereka, saat Dea membawanya ke hadapannya saat pasangan itu berlibur ke Jakarta. Kalau memang dia, kenapa Dea malah pergi? Reza tentu mau bertanggungjawab atas kehamilan itu 'kan?


"Terus, apa Reza tahu soal ini?" Amarah terpendam diredam papa sebisa mungkin karena sebuah prasangka yang belum terbukti.


"Tahu. Tapi Reza menolak untuk tanggung jawab."


Barulah, kemurkaan itu muncul. Matanya melotot marah. Siapa yang menyangka bahwa pria itu telah membuat anaknya menanggung aib yang dibuatnya.


"Kenapa dia tidak mau?" tanya papa lagi.


Alena merasakan ledakan kemarahan papa. "Karena Reza merasa belum siap."


Mama yang masih sesegukan merasa teriris hatinya, membuat tangisannya semakin menjadi.


"Dia yang berbuat, tapi kenapa tidak mau bertanggungjawab? Harusnya, dia tak melakukannya kalau memang tidak siap dengan kehamilan itu," kata mama emosional.


"Waktu itu, Reza memberikan obat anti hamil pada Dea. Tapi Dea menolak untuk minum karena takut risiko yang akan terjadi pada rahimnya nanti. Makanya itu, kehamilan itu terjadi, Tante," timpal Alena.


"Brengsek!" sergah papa, jemarinya mengepal kuat.


Di saat itu, mama merasakan sakit di bagian dada sebelah kirinya. Napasnya mulai tersengal, lalu perlahan mama tak sadarkan diri.


-;-;-;-


Susu sudah habis, sedangkan ia belum bekerja. Memang, managernya kemarin memberikan uang gajinya selama ia bekerja di sini. Tapi takutnya tidak cukup. Yang lebih memusingkan, ia harus membayar uang kontrakan.


Dea menghela napas, melirik ke arah perutnya sambil mengelusnya lembut. Bagaimanapun, nutrisi bayi ini harus tetap diberikan.


Dea melangkahkan kakinya keluar menuju minimarket yang tak begitu jauh dari rumahnya. Sekalian mampir ke warung nasi padang untuk membeli makanan, setelah membeli susu.


Mungkin takdir, Reza sedang duduk di sebuah restoran padang, membelakangi pintu masuk, bermain ponsel sambil menunggu pesanannya. Ia melihat semua koleksi foto-foto yang diambilnya. Banyak sekali foto Dea dan dirinya saat masih pacaran.


Wanita yang paling dicintainya itu sedang mengandung anaknya, dan ia malah meninggalkannya. Bagaimana keadaannya kini?


Dea memasuki restoran itu, dengan membawa bungkusan berwarna putih yang berisi sekotak susu untuk ibu hamil.


"Nasi rames pakai telur dadar satu, ya, Pak!"


Reza terhenyak mendengar suara yang tak asing itu mirip seperti suara Dea. Mungkinkah itu memang Dea, atau hanya halusinasinya saja karena teringat pada wanita itu?


Jantungnya berdetak kencang. Ia menoleh ke arah sumber suara, ingin memastikan.[]