When I ...

When I ...
Episode 43 Apa kamu bahagia?



Kenangan indah melintas bersamaan dengan segala ucapan yang menyakitkan hati.


Pandangannya mulai nanar, tapi sebisa mungkin air mata ditahannya. Teriakan Reza terdengar seperti dengungan, lalu lenyap.


"Mending lo pergi dari sini, atau gue teriak—biar lo disangka maling," ancam Alena.


Tapi Reza tak peduli. "Dea! Dea! Please, Dea! Aku ngomong sama kamu. Ini tentang anak kita!"


Beberapa orang keluar mendengar teriakan itu. Mereka yang penasaran menghampiri rumah Dea.


"Ada apa ini?" tanya salah seorang warga.


Alena tersenyum. "Ini, Pak. Nggak tahu siapa nih orang, teriak-teriak di depan rumah."


"Pak, saya kenal anak pemilik rumah ini," tukas Reza membela diri.


"Bohong, Pak." Alena buru-buru menyahut. "Saya aja nggak kenal."


Ketika Reza berusaha menjelaskan pada warga yang menginterograsinya, Dea pergi dari tempat itu.


"Kalau nggak percaya," kata Reza, tanya aja sama perempuan yang di dalam itu! Dia pacar sa...."


Reza menunjuk, lalu menoleh ke dalam rumah. Sayangnya, Dea sudah tidak di sana, sehingga orang-orang tidak percaya padanya.


Alena tersenyum menang, sementara Naomi merasa kasihan pada Reza yang diusir oleh warga di sekitar


Reza pun hanya pasrah, apalagi seorang bapak-bapak mengacungkan tinju ke arahnya. Daripada bonyok, Reza melajukan motornya dari sini.


"Terima kasih, ya, Pak," kata Alena. "Orang jaman sekarang kalau mau menipu aneh-aneh."


Salah seorang pria menanggapinya, lalu berpesan agar sebaiknya lebih waspada pada orang asing. Setelah mengatakan hal itu, kerumunan itu pergi, begitu juga dengan Naomi dan Alena yang langsung masuk ke dalam rumah.


-;-;-;-


Tumpukan dokumen hanya ditatapnya sambil memangku dagu. Konsentrasi terbang bersama dengan ingatan ekspresi Dea ketika mereka pulang dari mal.


Apa dia masih sedih? Rasa kangen tidak bisa ditoleransi dan siap meledak seperti bom waktu. Ia ingin bertemu.


Lagu Armada yang berjudul "Asal Kau Bahagia" melintas di telingannya. Seorang karyawan menyetelnya sebagai nada dering telepon masuk.


Ia pernah mencemooh lagu itu karena menganggap seseorang yang ada di lagu itu bodoh. Masa mau melepas pacar yang dicintai kepada orang lain?


"Hei!" sapa Winda sambil menepuk pundaknya. "Mau nikah, masih bengong aja. Oh, ya! Kapan acara pernikahannya? Kok undangannya belum disebar?"


"Lima hari lagi. Acaranya sederhana, nggak banyak ngundang orang. Nanti, gue kabarin lo," jawab Dean.


"Okelah!" sahut Winda girang. "Terus, kenapa muka lo asem gitu kelihatannya?"


Dean berpikir, apakah tepat memberitahukan soal masalahnya pada Winda?


"Gue cuma kepikiran soal temen gue. Jadi gini. Kan temen gue itu naksir cewek. Tapi, ceweknya itu udah hamil duluan sama mantannya yang nggak bertanggung jawab. Terus, si cowok bersedia nikahin cewek itu. Cuma ... suatu ketika, mantannya si cewek datang, minta balikan dan berjanji akan bertanggung jawab atas kehamilannya. Menurut lo, temen gue itu harus gimana?"


"Tunggu dulu." Winda langsung menyela. "Ini soal temen lo, atau tentang lo sama Dea?"


Dean terhenyak dan berseru agak canggung. "Hah?"


Melihat ekspresi Dean, Winda jadi tertawa. "Bercanda kali. Em ... oke. Kalau dilihat dari kasusnya, itu tergantung dari cowoknya."


"Maksud lo?" tanya Dean, tak paham.


"Suruh temen lo itu tanya ke ceweknya, bagaimana perasaan cewek itu ke mantannya."


Pertanyaan yang jawabannya sangat menakutkan. Jantung Dean berdegup kencang saat melayangkan pertanyaan ini pada Winda.


"Kalau dia masih cinta?"


"Itu tergantung sama temen lo itu," timpal Winda. "Apa dia lebih mementingkan kebahagiaan si cewek, atau kebahagiaannya sendiri."


Opsi yang sulit bagi Dean yang masih terlalu awam tentang cinta. Ia memikirkan jawaban Winda sepanjang hari, bahkan ketika sedang mengendarai mobil.


"Ah, masa bodo!" gumam Dean.


Ya, untuk apa memikirkannya. Bukankah lebih menyenangkan memikirkan keceriaan bersama dengan Dea.


Ia memarkirkan mobil di samping rumah Dea, keluar dari mobil, lalu menghubungi Dea.


Dean bersandar di samping pagar, menunggu gadisnya keluar. Suara derit pagar terbuka membuatnya terkesiap. Senyum lebar terkembang begitu Dea muncul.


"Ada apa?" tanya Dea.


"Udah mandi?" tanya Dean.


"Udah. Kenapa? Apa masih bau?"


Dean terkekeh. "Pantas aja, kelihatan cantik."


Dea terlihat seperti memaksa senyumnya, dan Dean menyadari hal itu.


"Kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Dean.


Dea menggelengkan kepala. "Ada hal penting apa yang mau kamu sampaikan?"


"Em ... nggak ada sih. Cuma aku mau ngajak kamu makan bakso urat di belokan kompleks rumah. Kayaknya enak deh."


Tak ada raut antusias di wajah Dea. Namun, ia tetap mengiyakan karena tidak mau Dean kepikiran sesuatu tentangnya.


"Ya, udah. Yuk, kita pergi," kata Dea.


"Tunggu sebentar."


Dean membuka sweater merah yang sedang dikenakannya, lalu memasangkannya ke tubuh Dea sembari berujar.


"Angin lagi kencang. Jangan sampai, kamu masuk angin."


Dea menunduk, terpana oleh sikap hangat dan lembutnya pria ini. Ia mendongak, menatap lamat-lamat wajahnya, ketika Dean selesai mengenakan sweater untuknya.


Lekuk senyum pria itu begitu manis. Kemudian, Dean tertegun melihat tatapan Dea itu.


"Kenapa? Pasti baru sadar kalau aku ganteng kayak ... siapa itu namanya? V BTS," selorohnya.


Dea tertawa kecil sambil menutup mulutnya, menularkan senyum lega di bibir Dean. Lantas, mereka memasuki mobil, dan melaju ke kedai sederhana yang cukup banyak pengunjungnya sore itu.


Untungnya, masih ada satu meja yang kosong. Dean memesankan dua mangkok bakso urat dan dua gelas teh botol dingin.


"Dea, Winda nitip salam buat kamu," kata Dean sembari menunggu pesanan mereka sampai di meja.


"Em ... iya. Salam balik aja," balas Dea.


Senyum kecut, dan terlalu banyak menunduk, itulah sikap yang diperlihatkan oleh Dea sejak tadi. Baksonya saja disantapnya dengan tak berselera. Ketika ditanya, Dea hanya mengangguk dan menjawab singkat saja.


Dean merasakan keganjilan itu. Menurutnya, Dea masih tenggelam dalam suasana perjumpaannya dengan Reza kemarin.


Mungkin, sekarang bukan waktu yang pas untuk bertemu. Rencana Dean untuk membawanya ke tempat lain dibatalkan. Setelah membayar makanannya, ia membawa Dea pulang.


Ketika menyetir, Dean melirik Dea terus. Ucapan Winda tadi terlintas, membuatnya ragu akan langkah yang ingin dicapai bersama Dea yang segera berlangsung lima hari lagi.


"Dea, apa kamu masih mencintai Reza?" tanya Dean sangsi.


Dea terhenyak, langsung menoleh. "Apa penting mengetahui hal itu di saat kita mau menikah?" tanya Dea, terdengar tersinggung.


Dean menekan rem, menepikan mobilnya di dekat trotoar. "Jawab aja, Dea."


"Dean, apa kamu khawatir karena aku dari tadi tidak banyak bicara? Dean, aku...."


Pasti Dea akan mengelak dengan menyembunyikan kebenaran. Tidak! Dean benci mendengar kebohongan itu. Ia tak mau mendengarnya!


"Kalau begitu, jawab!" potongnya. "Apa kamu bahagia selama bersama dengan aku?"


Dea tertegun, hening, lalu menunduk dalam. Suasana muram menyelimutinya. Sedangkan Dean, ia menatap ke depan dengan kegusaran yang membuatnya frustasi.


"Mungkin, sebaiknya kita nggak nikah," gumam Dean, tanpa pikir panjang.


"Dean!" tegur Dea, langsung menoleh.


Ia tak perlu penjelasan ataupun alasan. Diinjaknya pedal gas, mengantarkan Dea ke rumahnya. Namun, Dean tak keluar dan mengantarkan Dea sampai gadis itu masuk ke dalam rumah.


Lagu Armada yang didengarnya tadi terngiang di dalam telinganya. Semua lirik lagunya dilafalkan di otaknya. Isakkan dan air mata mengalir bersamaan. Kini ia mengerti, maksud dari lagu itu.


Meski raganya bersama dengannya, tapi jika orang dicintainya tidak bahagia di sisinya, maka ia juga merasa tak bahagia. Itulah yang dirasakannya kini.[]