
Kalau ada typo, komen ya?
Hujan mengguyur semakin deras. Suasana sejuk mengaliri darah yang mendidih karena gairah seorang insan. Napas yang hangat menghela telinga. Kata cinta menyambut nafsu tak tertahankan ini.
Jantung Reza berdetak tak beraturan. Gejolak ini mendesak nalurinya untuk melakukan suatu hal yang sangat diidamkannya. Seorang gadis dengan suka rela membiarkan tubuhnya disentuh meski tanpa cinta. Bukankah itu kesempatan yang bagus?
Namun....
"Kamu ngomong apa sih?" halau Reza, melepaskan lingkaran tangan Vika di pinggangnya.
"Aku serius, Kak." Vika memeluk lagi dan berkata lirih. "Aku cinta sama Kakak dari dulu. Rasa cintaku bahkan lebih besar dari rasa cintanya Dea ke Kakak."
Setan membisikan kata hasutan yang hampir membuatnya terlena. Ia berusaha sekuat hati untuk menolaknya. Ia menghiraukan wajah memelas itu, berjalan ke arah lemari lalu mengambil sebuah jaket berwarna merah.
"Pakailah! Aku akan mengantarkanmu pulang," katanya dingin setelah memberikan jaket itu pada Vika, kemudian pergi keluar kamar.
-;-;-;-
Vika berjalan perlahan ke halaman di mana Reza sedang memanasi mesin motornya. Reza membelakanginya, dengan sudah memakai jas hujan biru.
Reza berbalik begitu menyadari keberadaan Vika. Terpaksa ia meminjamkan jas hujan yang biasa dipakai Dea gadis yang di matanya kini sebagai gadis gampangan.
"Maaf, Kak...," ujar Vika menunduk.
Tak sudi lagi menatapnya, Reza berpaling lalu berkata dengan dingin. "Naiklah."
Di saat hujan hampir teduh, Reza menjalankan motornya ke rumah kost Vika. Gadis itu hanya diam, tapi sesekali mengambil kesempatan untuk memeluk pinggang Reza. Hanya saja, Reza melepaskannya.
"Apa kamu marah, Kak?" lirih Vika.
"Jangan pernah kamu dekat-dekat lagi denganku," jawab Reza, menghiraukan.
"Kak, yang aku katakan tadi sungguh-sungguh, Kak. Aku benar-benar mencintaimu."
Meski Vika masih gencar membujuk Reza, cintanya pada Dea lebih kuat. Geram terus-terusan bersama dengan gadis ini, tak tahan rasanya. Ingin cepat-cepat menurunkannya di tempat kostnya.
"Vika," kata Reza, setelah gadis itu turun dari motor. "Aku sangat mencintai Dea, jadi jangan pernah mencoba menghancurkan hubungan aku sama dia."
Sebelum Vika menimpalinya, Reza langsung tancap gas. Malam ini, terakhir kalinya ia melihat wajahnya.
Hatinya terus memanggil nama seseorang. Matanya ingin memandang wajah cantik yang sangat dirindukannya. Otaknya terus berpusat padanya. Begitu besar rasanya itu, sampai ia membelokkan tujuannya ke arah lain.
Ia menghentikan motornya di depan sebuah kost. Jendela salah satu kamar yang menghadap keluar terbuka. Selayang wajah cantik tampak di sana, menatap sendu pada hujan tapi pikirannya melayang jauh.
Dea. Sama sepertinya, begitu tersiksa dengan hubungan yang rengang ini. Perasaan bersalah merayap. Karena dirinya, pertengkaran ini dimulai. Ia jadi jauh dari sang kekasih yang ada di sana.
"Jangan pergi, Dea," gumam Reza di dalam hati, melihat Dea menutup gorden jendela lalu lenyap dari pandangan.
Reza menghidupkan mesin motornya, lalu melajukannya. Mungkin, dengan memberikan waktu sampai ujian selesai, ia berniat untuk memperbaiki hubungan ini lagi.
-;-;-;-
"Kak, kasih nomer kamu dong?" kata seorang gadis menyodorkan ponselnya.
Dea menatap kaget padanya dan ponsel itu secara bergantian. "Untuk apa?"
"Untuk orang yang menyebalkan yang ada di rumahku," katanya agak jengkel.
Dea bertambah heran, apalagi saat melihat ekspresinya. Jadi ragu untuk kasih nomornya.
"Maaf, Kak. Bisa cepetan, nggak? Soalnya aku mau masuk ke kelas," buru gadis berwajah bule dan berambut pirang halus itu.
Ya sudah, terpaksa Dea mengambil ponsel itu dan menekan 12 digit angka dengan cepat. "Nih."
"Makasih," kata gadis itu menyabet ponselnya kembali dari tangan Dea, kemudian berlari pergi.
Sri yang berjalan di sampingnya bertanya kemudian. "Kamu betulan kasih nomor kamu? Nggak bahaya? Kalo ternyata yang minta orangnya jahat dan nggak jelas gimana?"
Dea terkekeh. "Udah, tenang aja. Yuk, masuk ke kelas."
Tawa misterius itu terus membuat Sri penasaran. Akan tetapi, Dea tak kunjung menjawab meski mereka sudah sampai di kelas.
"Nanti kamu juga tahu," jawab Dea begitu. "Weis, kita mau bersiap ujian nih."
"Tunggu dulu!" Cegat seorang cowok bule yang ketampanannya membuat Sri ternganga.
Dea yang saat itu berada di tempat parkir, tiba-tiba jalannya dihalangi oleh Dean. Mata Sri yang liar mengamati Dean dari ujung rambut sampai ujung sepatu kets putih merk terkenal, berbeda dengan Dea yang terlihat jengkel dengan sikapnya.
"Kamu ngasih aku nomor palsu?" tanya Dean.
Sri berubah melongo setelah keterpanaannya sesaat. Jadi, ini cowok yang minta nomer telepon Dea?
"Iya! Kenapa emang?" sahut Dea ketus.
"Harusnya aku yang nanya gitu?"
"Mau tau jawabannya? Pertama." Dea mengacungkan jari telunjuknya. "Aku nggak mau kasih nomerku ke sembarangan orang."
"Kedua?" timpal Dean tidak sabar.
"Karena aku nggak kenal kamu."
"Siapa bilang? Kamu udah tahu nama aku 'kan?" protes Dean.
"Emang kamu udah tahu nama aku?"
"Udah dong. Dea 'kan?"
Bukan hanya Dea, Sri terkejut sambil melirik teman sekelasnya itu.
"Kok tahu?" tanya Sri, mewakili Dea.
Cowok itu tersenyum bangga. "Tau dong! Jadi gimana? Mau kasih nomernya nggak?"
Saat itu, Reza dengan kedua teman sekelasnya sedang memasuki tempat parkir. Salah satu teman Reza melihat Dea, Sri, dan seorang cowok sedang menyodorkan ponsel ke arah Dea.
"Rez, itu bukannya calon bini lo?"
Reza melirik ke arah yang ditunjuk. Benar, itu Dea! Walaupun ia tak mengenal cowok yang sedang mendekati Dea, tapi ia pernah melihatnya di sini.
"Tuh, cowok kayaknya godain Dea," sahut teman yang satunya, tak sadar telah membuat hati Reza panas.
"Rez, kasih pelajaran sama tuh cowok!"
Lalu, teman yang satunya tak kalah mengompori. "Iya! Kurang ajar bener dia godain calon istri lo."
Siapa yang tidak marah, jika pacarnya digoda cowok lain. Kepalan tangannya ini sudah bersiap meninju wajah cowok bule itu. Namun, ia ingat pada prinsipnya.
Perlahan jari-jarinya terlepas dari kepalan itu. Susah payah ia mengendalikan kemarahannya, hingga akhirnya memilih pergi. Tetapi bukan ke tempat parkir, melainkan ke tempat lain untuk menangkan diri.
Kedua temannya hanya dapat tercengang melihat sikap Reza. Mereka tak mengejar, malah menghampiri Dea dan Sri.
"Eh, kamu siapa?" tegur cowok kurus, berdiri di samping Sri.
"Apa sih? Harusnya, aku yang tanya. Kalian siapa?" tanya Sri yang tampak lebih tak menyukai kedua pria itu.
"De, Reza kayaknya marah deh," kata cowok yang satunya, berbaju merah.
Reza? Dea terkejut. Apa dia melihatnya tadi? Takutnya, dia salah paham. Tapi kalau memang dia cemburu, kenapa tidak datang ke sini untuk menegur Dean?
Dean melihat wajah muram Dea, tapi ia menuntaskan rasa keingintahuannya dulu. "Reza siapa?"
"Calon suaminya Dea tau!" sahut cowok baju merah tadi.
Alih-alih terkejut, Dean justru tertawa kecil. "Oh, baru calon? Belum jadi jadi suaminya 'kan? Boleh dong kalau aku deketin?"
Kedua cowok itu menjadi berang, bahkan si cowok jangkung nyolot sambil memajukan tubuhnya.
"Apa kata kamu?!"
Permasalahan ini jadi runyam.Cowok berbaju merah dan Sri menahan cowok itu agar tidak membuat keributan. Namun, Dea sejak tadi hanya memusatkan pikirannya pada Reza seorang.
"Di mana Reza?" tanya Dea tiba-tiba, menghadap ke arah kedua teman kelasnya Reza.
Itu dia! Karena tidak tahu, kedua cowok itu saling memandang, lalu menaikkan kedua bahunya.[]