When I ...

When I ...
Episode 28



Dea berjalan cepat dengan derap langkah kencang menyusuri gang menuju ke luar. Di belakangnya, Dean terkekeh sambil berjalan pelan. Geli sekali melihat tingkah Dea.


 


 


Lega hati ini karena Dea sudah mengantarkan Dean sampai ke tempat mobilnya terparkir. Ia menghadap Dean, menatapnya dengan kesal.


 


 


"Ini terakhir kalinya kamu datang ke rumahku!"


 


 


Dean memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, tersenyum geli sambil berjalan perlahan ke arah Dea.


 


 


Mau ngapain cowok ini? Dea merasa terintimidasi, sehingga beringsut mundur.


 


 


Langkah Dean terhenti. Kembali tersenyum. "Kalau nganterin kamu pulang sampai sini, boleh?"


 


 


"Nggak boleh juga!"


 


 


"Kok nggak boleh? Kan cuma sampai depan gang?" tanya Dean, seolah terlihat polos.


 


 


Dea berpikir sejenak, bingung. Memang, ada bagusnya kalau Dean mengantarkannya sampai rumah—setidaknya, menghemat ongkos. Tapi tetap saja tidak! Ia tidak mau kalau orang-orang mengira bahwa ia dan Dean pacaran.


 


 


Dea menyilangkan kedua tangannya, lalu berkata tegas. "Nggak boleh!"


 


 


Dean tak putus akal. "Em ... Kalau sampai halte?"


 


 


Dea mulai bimbang. Tapi akhirnya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


 


 


Huft, oke! Ini terakhir kali. "Terserah lo aja deh, turunnya sampai mana. Yang penting bisa anterin elo."


 


 


Alis Dea dinaikkan sebelah. Kok maksa?


 


 


"Dean, ngerti nggak sama yang aku bilang tadi? Aku pakai bahasa Indonesia lho? Bukan pakai bahasa planet. Perlu aku jelasin sekali lagi?" Dea mulai jengkel.


 


 


"Boleh," sahut Dean, terukir senyum jail di ujung bibirnya. "Tapi manis dikit bilangnya. Misalnya pake, cium pipi?"


 


 


Dea mendelik. Sebuah tamparan halus mendarat di pipi Dean. "Jangan mulai lagi deh! Nggak lucu?"


 


 


Menggemaskan sekali gadis ini? Tamparan ringan ini bukan berarti Dea marah. Menurutnya, ini tamparan termanis yang pernah didapatkan.


 


 


"Ya, ampun," gelak Dean. "Serius banget hidupnya! Dea, kalau permintaan lo yang pertama, oke, gue setuju. Tapi kalau lo minta gue nggak antar-jemput lo, gue nggak mau nurut."


 


 


Dea menatapnya dengan alis bertaut dan sambil melipat kedua tangannya di dada. Sumpah, kenapa keras kepala sekali dia?


 


 


"Kamu tahu 'kan alasan aku lakukan itu?" Dan Dean mengangguk. "Atau jangan-jangan, kamu suka dipanggil sebagai suami atau pacar aku, gitu?"


 


 


Dea menggerutu melihat Dean berpose sok imut, dengan menopangkan dagu pakai tangannya.


 


 


"Gue nggak akan bantah. Iya, suka banget! Tapi alasan utamanya bukan itu."


 


 


Dea menelengkan kepala. "Apa?"


 


 


Ini begitu cepat, Dean menggapai tangannya, lalu menarik Dea pelan ke dalam pelukannya. Otomatis, Dea pasti terkejut. Namun, ia tak meronta. Ia merasa tenang, apalagi setelah Dean berujar lembut di dekat telinganya.


 


 


"Harapan gue buat jadi pacar atau suami lo tipis banget. Gue nggak bisa berharap banyak, tapi seenggaknya gue merasa senang bisa dekat sama lo dengan cara seperti ini."


 


 


Dea pikir, ia akan menjalani kehidupan kejam ini hanya berdua dengan bayi yang ada di dalam rahimnya. Tuhan memberikan seorang pelindung, yaitu Dean.


 


 


Meski ia tak bisa memberikan hatinya pada pria ini. Suatu saat nanti, ia akan membalas kebaikannya. Jika dia tidak menolak.


 


 


-;-;-;-


 


 


Baru pelukan, tapi senyum Dean tak hentinya terkembang. Bahkan, saat mengendarai mobil menuju rumahnya.


 


 


Mobil berhenti tepat di samping pintu masuk rumah. Kejadian tadi teringat terus dalam benaknya, sampai ia merasa gemas dan kegirangan. Ia bersorak di dalam mobil, mengangkat kedua tangannya dan menurunkannya.


 


 


Tanpa disadarinya, seorang wanita setengah baya menghampiri mobilnya. Dia berusaha melihat ke dalam mobil, menatap Dean dengan alis dinaikkan.


 


 


 


 


Dean membuka sabuk pengaman, keluar dari dalam mobil untuk menghampiri ibunya. "Mama kok di luar?" tanyanya kikuk.


 


 


Mamanya terdiam sejenak sambil memperhatikannya lamat-lamat. Ia menaikkan dagunya, seolah sedang bertanya tentang apa yang dilakukan oleh Dean di dalam mobil tadi.


 


 


Dean terhenyak, mengelus leher belakangnya karena gugup sambil mencari alasan. "Em ... cuma lagi rengganggin badan aja. Capek nih, Ma."


 


 


Meskipun terlihat tidak yakin, mamanya tetap membalas ucapannya. "Terus, kamu suruh Mama pijitin kamu gitu?"


 


 


Dean terkekeh. "Yah, kalo Mama nggak keberatan."


 


 


"Gundulmu!" umpat mamanya sambil berjalan ke dalam.


 


 


Anak sulungnya yang paling tampan ini memang suka sekali menggoda ibunya. Karena hubungan yang sangat dekat, mamanya itu sudah seperti teman akrab baginya. Lihat saja, ia mengikuti mamanya, lalu merangkul pundaknya, manja.


 


 


"Mama yang cantik...." rayu Dean.


 


 


Tapi disela oleh mamanya dengan ketus. "Nggak usah pake ngerayu Mama. Kamu yang bilang kalau muka Mama banyak keriput."


 


 


"Hehehe. Biar keriput, yang penting tetap cantik. Tanya aja sama Papa."


 


 


Dean berkata seperti itu karena pria berkumis tebal dan berkacamata bulat itu baru saja turun dari lantai atas. Ia tertegun dan menyunggingkan senyum.


 


 


"Kok Papa yang dibawa-bawa?"


 


 


"Iya, memang siapa lagi yang bisa membuat mama percaya kalau ucapanku benar," sahut Dean, berdiri di samping papanya. "Jadi, Pa. Mama memang cantik 'kan?"


 


 


"Tentu saja," sahut papa mantap. "Wanita yang paling cantik, ya, mamamu."


 


 


Mama tersipu, tapi tetap membantahnya dengan menepuk tangan papa. "Papa nih, kayak nggak tahu aja modus anaknya. Dean itu, minta dipijitin sama Mama. Kan terbalik. Harusnya, anak yang pijitin orangtuanya."


 


 


"Ma, kalau aku yang pijitin Mama, nanti aku dibilang modus juga," balas Dean.


 


 


Mama sudah kalah, tak bisa jawab, sementara Dean terkekeh bersama dengan papa. Dasar, ayah dan anak ini!


 


 


"Ah! Tau ah! Pokoknya, Mama nggak mau." Mama keluar dari himpitan kedua pria itu, lalu duduk di sofa.


 


 


Dean menikmati keberhasilannya dengan tertawa. Akan tetapi, pikirannya jailnya terus saja ingin menggoda sang mama. Dia duduk di samping mamanya, akan membuka mulut.


 


 


"Kamu udah makan?" tanya mama, mendahului Dean.


 


 


"Udah."


 


 


"Di mana? Kok sekarang sering banget makan di luar?" selidik mama, dengan mata tajam yang membuat Dean bergidik.


 


 


Namun, dugaan mama keburu dibalap oleh celetukan papa. "Udah punya pacar kali dia, Ma?"


 


 


Berbanding terbalik, malah Dean yang digangguin sekarang. Memang, ia sedang menyukai seseorang, tapi masih status TTM aja. Tentu saja, ia membantah.


 


 


"Siapa bilang? Sotoy ayam nih, Papa."


 


 


"Terus, waktu di dalam mobil tadi, kamu lagi ngapain? Kelihatan banget kamu lagi kegirangan." Mama mulai membeberkan bukti.


 


 


Okelah, Dean menyerah. Ia menghela napas, lalu berbisik dengan nada jail. "Doakan aja. Mudah-mudah si dia mau jadi calon istriku."


 


 


Dean beranjak sambil terkekeh, menaiki tangga yang menuju ke lantai atas, meninggalkan kedua orangtuanya yang masih kesulitan mencerna ucapannya tadi.


 


 


"Tadi apa katanya, Ma?" tanya papa.


 


 


"Calon istri, Pa," jawab mama, yang sama tercengangnya.[]