
Dulu, ia pernah tersenyum pada wanita yang dianggapnya ramah. Namun, rasa benci menguasai hatinya. Jangankan senyum, sikapnya langsung dingin ketika dia menyebut namanya.
"Ya, saya ingat," kata Dea. "Udah lama nggak ketemu. Apa kabar?"
Rebecca tersenyum sinis. "Sapaan Anda tidak tulus. Mungkin, Dean sudah memberitahukan semuanya pada Anda."
Dea menghirup napas dalam-dalam, terasa sesak sesat tadi. "Kalau sudah tahu, kenapa masih tidak tahu malu menyapa saya?"
Rebecca maju selangkah. "Baguslah, jadi saya tidak perlu lagi berpura-pura. Jujur, saya merasa capek melakukannya. Nyonya Dea, Anda tahu bahwa saya mencintai suami Anda. Tapi saya tidak bisa memilikinya karena Dean terbebani oleh Anda."
Rahang Dea mengeras, jemarinya terkepal kuat karena amarah yang ditahannya.
"Jadi, maukah Anda membiarkan Dean membagi hatinya ke saya?"
Plak!
Rebecca mendelik ketika sebuah tamparan dari tangan Dea meluncur di pipinya. Ia menoleh, memegang pipinya yang memerah.
"Apa kamu sudah sadar?" tanya Dea, tatapannya datar. "Jika belum, aku akan menamparmu lagi sampai kamu sadar."
"Kenapa kamu lakukan ini?" tanya Rebecca.
Dea hening, menatapnya lamat-lamat. "Pernah nggak, kamu berpikir? Ketika kamu sedang hamil, lalu seorang wanita datang dan mengatakan bahwa dia ingin merebut suamimu? Bagaimana perasaanmu?"
Sulit berkata, hingga sebuah kilas balik melintas di benaknya. Wajahnya berubah muram sembari menunduk.
"Kamu wanita, yang perasaannya lebih sensitif dari pria. Pasti kamu mengerti jika kamu berada dalam posisi seperti itu. Rebecca, cinta bukan ambisi. Cinta bukan nafsu. Dan cinta tidak boleh egois. Kamu nggak boleh memaksakan seseorang untuk menjadi milikmu dengan cara yang tidak baik. Kamu nggak akan bahagia."
Ucapan itu menohok hatinya. Bayang-bayang masa lalu hilang dan timbul seiring ia mencerna semua kata-kata itu.
Tak ada yang dikatakan lagi, Dea kembali melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
-;-;-;-
Rebecca berjalan lunglai ke dalam kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang sambil menghela napas. Termenung lagi, kata-kata Dea berputar-putar di kepalanya.
Tiba-tiba, tatapannya tertuju pada sebuah frame foto. Di sana terpotret seorang wanita muda dengan seorang gadis remaja berseragam SMP.
Tujuh tahun sebelumnya, ia yang masih gadis kecil rambut berkuncir dua, mengintip di balik tembok, melihat sebuah kejadian yang memilukan.
Ibunya menangis sambil memohon di kaki ayahnya. Padahal, ibunya sedang mengandung adiknya. Di samping sang ayah, seorang wanita menggandengnya sambil tersenyum sinis ke arah ibu.
Ayah pergi bersama wanita itu. Setelahnya, ibu keguguran karena kesedihan yang disebabkan oleh pengkhianatan suaminya.
Rebecca kecil yang lugu, tak mengerti akan kondisi itu. Ia hanya bisa menanyakan sang ayah, tanpa memikirkan perasaan ibu.
Namun, sebelum ibu pergi, ibu pernah mengatakan sesuatu yang tidak bisa dilupakannya. Tangan ibu membelai lembut rambutnya, tertidur di sampingnya sambil berkata:
"Apa kamu masih merindukan ayahmu?"
Rebecca menggeleng. "Aku udah nggak peduli. Ayah jahat."
"Tapi kalau Ibu minta kamu tinggal sama ayah, kamu mau?"
"Nggak sudi, Bu. Mending aku sama Ibu aja."
Pelukan Rebecca dipererat. Ia tidak tahu, bahwa ibunya sedang mengidap sebuah penyakit yang disembunyikan darinya.
"Kenapa? Ayah sayang sama kamu," kata ibu, selepas tawa kecilnya reda.
"Ayah udah ninggalin Ibu. Kenapa sih, ayah kayak gitu? Ibu cantik, pinter masak, baik lagi. Ibu lihat nggak, ayah sekarang kurusan? Pasti ibu Emma nggak ngurusin ayah."
Di dalam pelukannya, Rebecca bisa mendengar helaan napas berat ibu.
"Becca. Ketika cinta hanya memikirkan ego, maka segalanya akan hancur, pikiran tertutup. Kadang, kita tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah," ucap ibu. "Ibu harap, kamu jangan seperti itu. Jangan menyakiti orang yang kamu cintai, atau menyakiti orang lain. Cinta memang sumber kebahagiaan. Tapi cinta dari hati yang murni, bukan dari ego, atau nafsu."
Rebbeca memejamkan mata. Nasihat itu digenggam erat dalam ingatannya sebagai pedoman dalam menjalani hubungan dengan pria, meskipun berakhir dalam pengkhianatan.
Setelah menemukan seseorang yang cocok, ia berubah prinsip. Ia hampir menjadi seperti perempuan perebut ayahnya yang dibencinya.
"Ya, Tuhan," keluhnya, mengusap wajahnya. "Aku udah keliru mengartikan cinta ini. Maafkan aku, Bu."[]