When I ...

When I ...
Episode 23



Tidak peduli jika Dea terus-terusan memintanya untuk diturunkan dari gendongannya. Dean tak peduli, tetap saja ia membawa Dea ke dalam mobilnya—meskipun beberapa pasang mata menatap mereka dengan tercengang.


"Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Dea.


"Ke rumah sakitlah!" sahut Dean sambil memutar kunci mobil.


"Nggak usah. Istirahat aja juga sembuh," kata Dea beralasan karena takut kehamilannya akan terbongkar jika diperiksa nanti.


Dean tak mendengar, melajukan mobilnya sampai ke rumah sakit. Ia pun menggendong Dea lagi ketika memasuki UGD.


Lagi-lagi Dea protes. Ia hanya sakit demam, kenapa harus ke UGD? Ia meronta, dan sekuat tenaga Dean tidak melepasnya.


"Tolong, Dok, tangani dia," kata Dean pada seorang dokter, setelah meletakkan tubuh Dea ke sebuah ranjang kosong.


Dea menatap Dean, memelas. "Please, nggak usah lebay gini. Aku nggak apa-apa."


"Dea, udah diam aja. Biar dokter yang periksa kamu!"


Namun, Dea tak kunjung diperiksa karena dokter harus mendahulukan pasien yang perlu ditangani dengan segera. Akhirnya, seorang dokter datang, langsung menempelkan stetoskop ke dada Dea sambil menanyakan gejala yang dirasakan olehnya.


Dea menyebutkan semua rasa sakit yang dideritanya dengan hati-hati. Termometer yang ditempelkan pada dahinya oleh seorang suster menunjukkan angka 38 derajat celcius—cukup demam.


Kemudian, dokter mulai memeriksa ke bagian perut. Dea panik, harap-harap cemas semoga dokter itu tak menyadari, atau mengatakan soal kehamilannya.


Sayangnya, itu tak terjadi. "Pak, kalau istri lagi sakit, memang sebaiknya dibawa ke rumah sakit. Soalnya, istri Bapak ini nggak bisa minum obat sembarangan," kata dokter itu pada Dean.


Dean dan Dea awalnya terkejut karena disangka pasutri. Sebenarnya, Dean merasa senang, sampai semringah. Seandainya hal itu memang terjadi. Gumam pria itu.


Namun, lain halnya pada Dea. Ia merasa risi. Ingin rasanya membantah, jika Dean tidak menyela:


"Memang kenapa Dokter?"


Pria muda berkacamata itu menatap heran. "Ya, karena istri Anda ini sedang hamil."


Boom! Mulut Dean terbuka mendengarkan hal yang lebih mengejutkan. Dea memalingkan wajah, tak tahu harus berkata apalagi. Dean menoleh pada Dea dengan tatapan tak percaya.


"Pak, saya sarankan Anda membawa istri Bapak ke ruang dokter kandungan kami. Mudah-mudahan dokternya masih ada," kata dokter itu, kemudian ia memerintahkan suster di sampingnya untuk mengantar Dean dan Dea ke ruangan itu.


Dean membantu Dea untuk turun dari ranjang dan mengantarkannya ke ruangan dokter kandungan yang bernama Kamila Amelia. Untungnya, dokternya masih ada, jadi Dea bisa langsung melakukan pemeriksaan.


Dean takjub karena rumah sakit ini mempekerjakan para dokter muda dan berkompeten, terlebih lagi Dokter Karlina. Dia memeriksa Dea dengan telaten, bahkan memberikan beberapa saran, yang cukup lumayan Dean terapkan jika nanti memiliki seorang istri yang sedang hamil.


Dokter Karlina begitu sering mengatakan Dean sebagai suaminya. Membuat pipi Dea memerah dan salah tingkah. Di dalam hati, ia terus berharap agar semua proses pemeriksaan ini selesai dengan cepat. Akan tetapi, sepertinya Dean begitu menikmati panggilan itu, mendengarkan semua penjelasan dokter dengan seksama seolah pria itu bersikap sebagai seorang suami siaga.


Penyiksaan menguras emosi berakhir, Dea mulai menunjukkan rasa tidak sukanya yang sejak tadi tertahan. Resep yang ada di tangan Dean direnggutnya, lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Dean.


Pria itu menghela napas, lalu berseru sebelum langkah Dea semakin jauh. "Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah."


Sadar dengan sindiran itu, Dea tertegun dan berhenti melangkah. Ia memuaskan pria itu untuk terus mengatakan yang ada di dalam pikirannya dengan menoleh padanya.


"Rahasia tidak akan selamanya bisa disembunyikan," kata Dean sembari menghampirinya. "Lo hamil, dan anak itu akan lahir. Perbandingannya, Jakarta itu cuma segede daun kelor, orangtua lo bakal nemuin lo, dan lo nggak bisa menyembunyikan fakta yang udah lo simpan rapat-rapat."


Siapa yang memungkiri itu? Dea tentu menyadarinya. Namun, apa pedulinya pria itu? Dia bukan siapa-siapa, dan tidak perlu mendesak dirinya untuk masuk ke dalam hidupnya.


Dean pasti mengerti dengan ekspresi dingin dan tak terbaca yang tergambar dari wajah Dea. Ia pun sudah mempersiapkan jawabannya.


"Sampai sini. Cukup!" Dea melangkah mundur. "Terima kasih karena sudah menolongku—walaupun sebenarnya aku tak butuh."


Dean melirik kaki Dea, lalu menatap wajahnya. Sudah ia bilang, ia tidak akan keluar dari hidup Dea. Jika Dea mundur selangkah, maka ia akan maju selangkah.


"Terus saja mencoba, gue nggak akan pergi."


Dea mengernyit. "Dean! Berhenti!" serunya sambil melangkah mundur.


Oke, Dean akan berhenti, dan otomatis Dea juga melakukan hal sama. Ini bukan berarti Dean menyerah, justru sebaliknya. Jarak mereka tidak begitu jauh, sehingga mudah bagi Dean untuk merebut kertas resep dari tangan Dea.


"Dasar cewek keras kepala," kata Dean, kembali menggandeng tangan Dea. "Pantesan lo bodoh, dibantuin nggak mau."


"Bodoh?" Dea mendengus, meronta, tapi Dean tak mau melepaskan.


"Iyalah! Cuma gue yang peduli sama lo. Si brengsek itu mana mau dia...." Dean terhenyak, menyadari bahwa perkataannya bisa menyinggung perasaan Dea.


Diliriknya Dea. Benar, gadis itu murung diingatkan kembali tentang Reza. Tak mau membuatnya tenggelam dalam kesedihan.


Dean menghela Dea pelan, membawanya berjalan ke sama menuju apotek yang ada di lantai atas. Dea tak memprotes. Percuma. Katanya dalam hati. Kalau ia menolak, Dean pasti memaksa akan menggendongnya lagi.


Tidak, itu terlalu risi. Dibilang sebagai istrinya Dean saja, ia sudah jengah.


-;-;-;-


Tak menyangka, sesampainya di rumah, ia disambut oleh wajah seorang wanita berpakaian khas kebaya kuning, dengan rambut yang disanggul. Sebagai seorang wanita keturunan ningrat, ibu Reza masih menganut tradisi ini.


Reza sulit mengembangkan senyumnya, apalagi setelah seharian di luar. Benar-benar melelahkan.


"Kapan Ibu datang?" tanya Reza, tak memperhatikan raut wajah tak senang dari sang ibu.


Ibu berhenti menggerakkan kipasnya. Menatap anak semata wayangnya itu dengan seksama. "Dari mana saja kamu?"


"Jalan-jalan," jawab Reza mengalihkan pandangan.


"Bibimu bilang, kamu selalu pergi pagi dan pulang malam. Ke mana saja kamu? Apa yang kamu cari di luar?"


Reza hanya menunduk, mempererat pegangannya pada kaleng minuman yang disediakan oleh seorang pembantu. Ia tak bisa bilang, tapi sang ibu terus mendesak.


"Reza. Bukannya Ibu sudah bilang sama kamu: cepat balik ke New York! Kenapa kamu ngeyel?" omel wanita itu.


Sang ibu yang tegas dan otoriter, mampu membuat Reza tak berkutik. "Maaf, Bu."


Mata tajam ibunya tak mampu menutupi apa pun darinya. Ia tahu, ada yang salah dengan anaknya. "Ada apa, Reza. Mbok cerita toh sama Ibu?"


Reza mendongak, memberikan senyum palsu yang mungkin akan berhasil membungkam ibunya. "Nggak ada. Aku hanya capek saja."


Bohong! Sang ibu akan mengejarnya, sampai Reza mau jujur. "Kamu pikir, Ibu ndak tahu kalau kamu sedang ada masalah."


Kemudian, Reza bergumam sinis. "Kalaupun tahu juga, Ibu akan tetap marah."


"Apa?" seru wanita itu.


Reza berhenti menenggak minuman kaleng itu, melirik dan bergidik. Pikirnya, daripada mendapat masalah, lebih baik ia bergegas pamit masuk kamar.


Ibunya takkan mengerti tentang permasalahannya dengan Dea. Ia pun tak bisa jujur mengenai kehamilan Dea. Namun, kebimbangan terus menghasut. Baginya, ibunya adalah yang terpenting, karena mendidiknya dan memberikan kasih sayang yang tak pernah dibalasnya.


Sedangkan Dea perempuan yang paling dicintainya. Dia dan darah daging yang sedang dikandungnya juga penting. Hanya saja, ia tak dapat memilih. Ia hanya dapat meratap dan bersandar di balik pintu, bergelung dalam kebimbangan.


-;-;-;-


Sebelum sampai di depan gang menuju tempat kos Dea, Dean memberhentikan mobilnya di sebuah kedai, membeli sebungkus bubur ayam. Bungkusan itu ia berikan sesaat mereka tiba di sana.


"Habisin buburnya, baru minum obat," kata Dean.


Dea canggung, tapi juga kikuk saat menerima bungkusan itu. Ekspresinya menunjukkan sebuah pertanyaan yang sangat kentara oleh Dean.


"Gue tahu, lo pasti mau tanya kenapa gue perhatian gini sama lo?" tebak Dean, membuat Dea terhenyak dan praktis menunduk karena tersipu. "Nggak apa-apa, tanya aja. Gue nggak menggigit."


"Kan, kamu udah jawab, tapi pake riddle."


Dean terkekeh. "Oke, oke. Gue jawab. Karena gue suka sama lo."


Mata Dea membulat. Bukan hanya sekadar terkejut, tapi perasaan hangat menjalar di dalam hatinya. []