
Dea bekerja seperti biasanya pada keesokkan harinya. Pagi ini, beberapa karyawan memintanya membuatkan kopi.
Saat itu, Dean tengah membaca sebuah dokumen sambil lalu di ruangan yang sama tempat Dea mengantarkan pesanan karyawan-karyawan itu.
Dean marah, dan langsung menghampiri gadis itu. Pemandangan ini menjadi pusat perhatian bagi karyawan yang mengetahui soal isu pasangan ini.
"Dea, bisa bicara sebentar?" bisik Dean.
Dea tak menoleh, mendengarkannya, lalu mengikuti Dean yang sudah berjalan duluan. Dean membawanya ke pantri, lalu duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Kenapa lo masuk kerja?" tanya Dean, wajahnya serius sekali.
"Kenapa memangnya? Salah?" tanya Dea?
"Papa bilang kalo lo nggak usah kerja lagi."
Dea hanya diam saja sejenak. Tak pernah ia lihat Dean segeram ini? Apa dia sedang merasa khawatir?
"Terus, aku ngapain di rumah?," timpal Dea dengan suara memelan.
"Tunggu gue buat jemput lo."
"Jemput?" tanya Dea heran.
"Iya. Gue mau bawa lo balik ke rumah orangtua lo," jawab Dean. "Lo nggak mungkin di tempat kosan terus, 'kan? Apalagi, orangtua gue mau melamar lo Sabtu besok."
Mata Dea membulat. "Sabtu besok?"
"Iya. Papa nggak mau kelamaan, apalagi mama yang pengin cepat-cepat boyong menantunya ke rumah." Dean tergelak sampai tersedak setelah menyeruput air putih yang disediakan oleh Dea.
Dea yang cemas langsung mengelus punggung Dean sembari berkata, "Makanya, jangan sambil ketawa pas minum."
"Habis, nyokap gue lucu pas bilang gitu," jawab Dean saat batuknya mulai reda.
"Masa ibu kamu bilang gitu?" Dea memandang skeptis.
"Nggak percaya, ya udah. Dea, sekarang lo ganti baju. Tunggu gue di bawah, nanti gue nyusul habis kasih dokumen ini ke Winda."
Dea terlihat sedang berpikir sejenak, kemudian mengangguk. Dean tersenyum puas, lalu beranjak dari kursi. Tangannya meraih kepala Dea, mengelus lembut rambutnya sebelum meninggalkan pantri.
Dea tertegun dan hanyut kala merasakan kasih sayang tulus Dean. Akan tetapi, hatinya justru merasa teriris. Tak sepantasnya ia mendapatkan hal ini, kala hatinya belum bisa diberikan padanya.
🌸🌸🌸
Barang-barang telah dibereskan. Dea berpamitan hanya pada ibu kos, karena penghuni lain sedang bekerja.
Dea sangat berterima kasih pada ibu kos yang telah memberikannya banyak perhatian selayaknya pada anak kandung. Ibu kos melepasnya dengan pelukan. Kadang, setitik air mata mengalir diam-diam di sela senyumannya.
Dean menjemput setelah pulang bekerja, melajukan mobilnya hingga ke rumah Dea.
Mama, dan kedua adik Dea menyambut kedatangan Dea di rumah. Naomi merangkul tangan Dea, membawanya bergegas ke dalam kamar Dea. Sementara Dean, duduk bersama dengan papa, Haris, dan mama di ruang tamu.
"Pa, saya udah bicara dengan orangtua saya, kalau mereka ingin datang melamar Sabtu ini," kata Dean, tanpa basa-basi lagi.
Papa dan mama saling menatap. Lalu, papa berkata:
"Oke. Bagaimana kalau sekalian makan malam saja di sini?"
"Itu ide yang bagus, Om," timpal Dean riang. "Nanti akan saya katakan pada orangtua saya."
Karena hari sudah mulai senja, Dean harus segera pulang ke rumah. Mama menawarkan untuk makan malam di rumah.
Dean ingin menolak karena masih merasa canggung pada keluarga ini. Dan bertepatan dengan itu, pandangannya tak sengaja bertemu pada Dea yang tengah menuruni tangga.
Dea menganggukkan kepala, membuat Dean memutuskan untuk makan malam di sini, bersama dengan calon mertuanya.
Makan malam usai. Dean yang supel mudah menyesuaikan diri dengan keluarga Dea. Kesenangan itu berakhir, dan Dean harus pulang. Dea menemaninya sampai ke mobilnya meski Dean sempat melarangnya.
"Terima kasih untuk makan malamnya. Mama lo pinter masak," kata Dean, ketika mereka sampai di mobilnya.
Dea tersenyum. "Hati-hati di jalan, ya."
"Hmm … Dea. Besok gue mau ajak lo jalan. Mau, 'kan?"
Kenapa tidak? Tentu saja Dea … "Oke," jawabnya sambil mengangguk.
Dean terdiam sejenak, menatap Dea. Entah dia sedang di bawah alam sadarnya atau tidak, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arah Dea. Sebuah kecupan hangat tersemat di kening gadis itu. Lagi-lagi, dia membuat Dea terkejut.
Dean canggung, tapi sekaligus senang. Dengan agak salah tingkah, ia berkata, "Gue pulang dulu, ya."
Dan Dea menanggapinya dengan masih sedikit terkejut. "Iya."[]