When I ...

When I ...
EPISODE 19



Masih ingat dalam benaknya, pria yang membuatnya kesal setiap Dea di kampus. Adiknya memang kuliah di universitas yang sama dengannya, tapi dia datang bukan untuk gadis kecil itu. Untuk Dea seorang.


Lebih satu bulan yang lalu, wajah tampan itu tak pernah dilihatnya lagi. Takdir apa ini, sehingga pertemuan di tempat dan saat yang tak terduga.


Winda yang mendengar nama Dean disebut oleh Dea, heran. "Kamu kenal, Mbak Dea?"


Dea terkesiap, lalu menoleh canggung. "Ya, hanya sekadar kenal saja."


"Oh." Winda mengangguk, lalu menatap Dean. "Ada apa, Dean?"


Pandangan Dean yang tadinya terfokus pada Dea, terpaksa dialihkan pada Winda, menyerahkan berkas yang ada di tangannya. "Tolong periksa laporan ini, terus kasih bos, ya?"


"Oke, sip!" jawab Winda sambil menerima berkas itu.


Tadinya, kaki ini enggan beranjak, masih ingin bertemu dengan wanita yang sempat mengisi hatinya ini. Namun, karena tak ingin Winda curiga, ia pergi dari tempat itu setelah meminta izin pada Winda.


Dea pun menatap punggung kekar pria itu, yang semakin lama menjauh dan menghilang di balik koridor.


Winda menyadari Dea yang masih belum beranjak. Apa yang menahannya? Winda ingin tahu, sampai turut melihat ke arah pandangan Dea.


Dean?


Winda mengerti, dan bergumam sambil membaca berkasnya. "Dean itu masih magang—belum ada sebulan. Oh, iya!" Ia menoleh, memangku dagunya sambil tersenyum pada Dea. "Kamu kenal Dean di mana? Mantan pacar?"


Dea terhenyak, lalu memalingkan wajah. Winda memang tak percaya sejak awal dengan perkataannya soal hubungannya dengan Dean yang "cuma sekadar kenal". Alih-alih menjawab, Dea justru bertanya padanya:


"Minuman kesukaan Mas Dean apa ya, Mbak?"


-;-;-;-


Teh tarik instan. Dea langsung membuatkan minuman itu, setelah sampai di pantri.


Ini bukan karena rasa tertarik pada pria itu. Ia akui, Dean tampak berbeda dengan gayanya saat pertama kali bertemu. Tahukah? Dia itu seperti bad boy entah jaman kapan. Celana jins sobek, pakai kaus oblong, dan rambut yang jauh dari kata rapi. Benar-benar urakan!


Kini, ia tampak dewasa dengan style kemeja biru muda dan celana bahan warna hitam. Tak ada rambut yang tak disisir—poninya yang panjang diberi pomade, lalu disisir ke arah samping. Kesan pria dewasa yang terpancar sekarang.


Baguslah!


Minuman ini ia buat untuk mengucapkan rasa terima kasihnya atas pertolongan kemarin. Hanya saja, ia masih penasaran. Kenapa pria itu selalu ada di manapun ia berada? Pertemuan yang tidak disengaja selalu terjadi. Apa ini takdirnya?


Dea berhenti mengaduk minuman itu, termenung sejenak. Ya, hanya beberapa saat, karena ia tak mau memikirkan hal macam-macam. Menurutnya, tidak ada takdir khusus yang Tuhan atur untuknya dan Dean. Dunia itu sempit, kebetulan bertemu pasti akan terjadi.


Ia mengangkat nampan berisi mug oranye itu, lalu berbalik. Lagi-lagi, pria itu membuatnya terkejut. Entah sejak kapan, Dean berdiri di belakangnya. Aneh. Apa karena ia sedang termenung, suara sepatu Dean saat melangkah saja ia tak dengar?


Dea membulatkan matanya. Tidak biasanya, saat berhadapan, wajah Dean seserius ini. Pria cengengesan itu benar-benar berubah sejak sebulan yang lalu. Tangannya terlipat di dada, sorot matanya tak dapat terbaca—begitu datar dan dingin.


"Kenapa kamu ada di sini? Kenapa kamu cuti kuliah? Bukannya kamu dari keluarga berada?" cecar Dean.


Dea menelan ludah. Tidak mengejutkan jika Dean mengetahui semua itu, walaupun sepertinya pria itu tidak mengetahui soal kehamilannya.


Tidak! Memang dia tidak boleh sampai tahu. Dean bukan siapa-siapa, dan bukan urusannya juga.


"Kenapa kamu harus tahu?" tanya Dea, menundukkan kepala. Sulit sekali untuk mengelak sesuatu hal. Di dalam hati, sebenarnya ia merasa gugup.


Dean menatap gadis itu gusar, lalu mendengus. Benar, untuk apa hal itu ditanyakan. Di mata gadis itu, ia hanya sekadar orang yang dikenalnya saja. Tidak lebih!


"Oke." Karena bingung, Dean meraih gelas berisi teh tarik kesukaannya, diteguknya tanpa bertanya milik siapakah minuman ini.


"Buatkan lagi," kata Dean, mengacungkan gelasnya. "Yang ini buatku."


Lantas, pria itu melangkah pergi meninggalkan Dea yang tersenyum sambil bergumam:


-;-;-;-


Dean tidak pernah berdoa, berharap saja juga tidak. Namun, bertemu dengan Dea lagi sungguh membuatnya senang.


Hanya saja, gadis itu jadi tertutup, ia tak bisa menanyakan alasan kedatangannya ke Jakarta untuk bekerja sebagai OB.


Identitas Dea yang merupakan putri dari keluarga berada, diketahui lewat adiknya, yang terpaksa menyelidiki Dea atas desakannya. Ia heran, jika memang berniat mencari pengalaman, kenapa tidak bekerja di perusahaan ayahnya bekerja? Dia punya koneksi, jadi bisa menempati pekerjaan yang sesuai dengan jurusan.


Lantas, ia mencari tahu tentang Dea. Dari data-data yang ada di dalam CV miliknya, Dea hanya mencantumkan 3 ijazah, termasuk ijazah SMA. Pengalaman kerjanya hanya pernah menjadi waitrees di sebuah restoran.


Ia mengerutkan kening. Ini sangat aneh. Apa penyebab gadis itu meninggalkan kuliah dan melakukan pekerjaan bergaji rendah begitu?


Dean termenung, larut dalam pikirannya setelah membaca dokemen Dea. Sebuah ide terpikirkan olehnya, dan akan dilakukannya sore ini.


-;-;-;-


Tepat pukul 5 sore, shif Dea sudah selesai. Ia menukar seragamnya dengan blus warna kuning dan celana jins. Rambutnya dibiarkan bebas tergerai.


Untuk menuju ke rumah, ia menaiki sebuah bis, lalu berhenti di sebuah halte. Sebelum pulang, ia berhenti dulu ke restoran nasi padang, membeli sebungkus nasi rames. Hari ini, rasanya ingin sekali makan ayam bakar. Mungkin ini yang namanya mengidam.


Tanpa ia sadari, seseorang mengikutinya sejak dari pulang bekerja. Dean yang menyamar dengan memakai sweater putih, wajahnya ditutup dengan masker hitam, berjalan di belakang sampai tiba di sebuah rumah yang tak terlalu besar di dalam gang.


Dean memperhatikan dari jauh, melihat Dea melewati pagar rumah itu, kemudian lenyap dari balik pintu kayu bercat cokelat muda.


Apa ini rumah Dea? Pertanyaan itu langsung terjawab setelah menemukan sebuah tulisan di bawah papan nomer rumah.


Tempat kos? Bukannya Dea tinggal di rumah mewah? Kenapa dia harus tinggal di sini, sementara ia memiliki tempat untuk bernaung? Kecurigaan ini mengarah pada ingatannya yang terekam hampir dua bulan yang lalu.


Kala itu, Dea hampir tertabrak oleh mobilnya. Saat ia turun dari mobil, Dea terlihat tertekan dengan matanya yang sembab. Mungkinkah Dea sedang punya masalah dengan keluarganya?


Ia harus mencari tahu, tapi mengintai Dea cukup sampai di sini. Dilihatnya langit sudah berwarna oranye di ufuk Barat, waktunya pulang. Namun, ia ingin melakukan sesuatu sebelum ini.


-;-;-;-


Dea keluar kamar mandi sudah dengan memakai kaus dan celana pendek warna hitam. Wajahnya yang sudah bersih, diberi pelembab dan bedak tipis.


Biasanya, ia akan turun ke bawah untuk menemani ibu kos yang sedang menonton TV. Meskipun tidak menyukai sinetron, ia tetap duduk di sampinganya, mengobrol dan mendengarkan wanita berhijab itu mengomentari tokoh-tokoh yang diceritakan dalam tayangan itu.


"Mbak Dea sudah pulang?"


Tak disangka, penghuni kos lain nimbrung di sana. Dua orang gadis yang sama-sama masih berkuliah di kampus yang berbeda.


"Iya, kalian juga udah pulang?" tanya Dea sambil menuruni tangga, lalu menempati sebuah sofa kosong di dekat TV.


"Dari tadi, Mbak," sahut gadis bermata sipit. "Pulang cepat."


Kemudian, gadis yang satunya menimpali, "Kalau aku, lagi libur."


Baru saja acara sinetron akan dimulai, suara bel rumah berbunyi. Salah satu gadis itu menawarkan diri untuk membuka pintu, tapi Dea langsung beranjak dari sofa dan menawarkan diri.


Pintu dibuka, seorang penjual martabak muncul sambil menyodorkan sebuah bungkusan berplastik putih.


"Ini buat Mbak Dea," katanya.


Mata Dea membulat. "Saya sendiri? Saya nggak pesan, Mas."


"Iya. Ini dari teman kerja Mbak yang namanya mbak Winda."


"Hah?"[]