
Benar nggak sih, di dunia ini orang terdekat kita justru tak peduli, dibandingkan orang yang dikenal tidak dekat?
Dea pikir, Dean salah satu orang asing dan sok kenal yang mempedulikan keadaannya—meski pria itu sudah mengetahui fakta tentang dirinya yang sedang mengandung. Namun, semua itu juga karena ada sesuatu, yang bisa bisa disebut dengan perasaan suka.
Yap! Dean menyukainya. Bagaimana bisa? Apa yang dia cari? Apa dia buta? Woi! Cewek yang kamu taksir sedang hamil dari pria lain!
Dea tercengang lama menatapnya. Karena itu, Dean mengibas-kibaskan tangan ke wajahnya dengan heran.
"Eh! Malah bengong?" Kemudian, Dean terkekeh. "Nggak usah dipikirin. Gue itu cuma menjawab pertanyaan lo, bukan lagi menyatakan perasaan."
Meski begitu, Dea tetap kepikiran. Dean baik, tapi sikap yang diperlihatkan padanya sangat dingin. Apa pantas jika ia mendapatkan cintanya?
"Masuk sana!" kata Dean. "Angin malam malah bikin sakit lo makin parah."
Dea tercengang sesaat, lalu mengangguk. Kali ini, ia tak lagi bersikap protes, malah cenderung menuruti perkataan Dean. Ketika pria itu menyuruhnya bergegas ke rumah, ia melangkah ke dalam gang menuju tempat kos. Bukan cuma itu. Saran Dean untuk menghabiskan bubur dan meminum obat dilakukannya juga.
Ia berbaring, setelah duduk selama sepuluh menit. Otaknya mulai memutar ulang semua ingatan yang baru saja terjadi. Ups! Ucapan Dean menghantui pikirannya, sampai ia merasa jengkel dan menggerutu.
"Apaan sih? Kenapa jadi ingat ucapan itu?"
Ketukan pintu seolah hampir tak terdengar karena isi pikirannya—seruan ibu kos yang membuatnya bergegas menghampiri pintu. Selarut ini, wanita itu membawa nampan berisi teh hangat campuran madu, dan beberapa potong kue apem yang ditaburi kelapa.
"Ibu bikin ini tadi," kata ibu kos seraya masuk ke dalam. "Semua anak-anak kos sudah Ibu bagi, tinggal kamu saja yang belum dapat. Mudah-mudahan kamu suka."
Kehangatan wanita itu mengingatkannya pada sang mama. Ia selalu mendapatkan banyak kebaikan darinya. Anaknya hanya satu, tapi semua penghuni kos dianggap anak olehnya.
Ia tersenyum sebagai rasa terima kasihnya, lalu mengambil satu potong kue sambil berkata, "Suka banget. Dulu suka makan kue ini. Makan bareng, yuk, Bu."
"Nggak usah. Ibu sudah puas makanannya tadi." Ibu kos terkekeh, menularkan senyum geli pada bibir Dea. "Oh, iya. Gimana keadaan kamu?"
"Udah baikan kok, Bu."
Wajah keriput itu memperlihatkan kelegaan. "Tadi itu kamu dibawa ke mana sama dia?"
Dea terhenyak, pipinya seketika memerah, lalu menunduk. "Dia tadi bawa aku ke rumah sakit."
Mana bisa rasa malu Dea disembunyikan olehnya. Wanita itu tersenyum jail. "Perhatian banget. Jangan-jangan, dia suka sama kamu."
Kok bisa tahu? Apa ibu kos ini peramal cinta? Dea sampai tak sanggup menatapnya karena terlalu malu. Namun, ia tetap menjawabnya setelah beberapa saat.
"Kalau suka juga, hubungan kami tetap nggak berubah."
"Lho?" seru ibu kos, heran. "Emang dia belum tahu kalau kamu sedang hamil?"
Dea mengangguk. "Udah, Bu. Tadi, waktu aku diperiksa sama dokter."
Sungguh disayangkan. Padahal, wanita itu berharap bisa bersanding dengan pria baik itu. Bisa ditebak, akhirnya tidak akan ada hubungan apa pun antara Dea dan pria itu kelak.
-;-;-;-
Inilah keputusannya. Tiket ke New York telah berada di tangannya, kopernya telah penuh dengan barang-barangnya. Kini, masa depan yang akan digapainya dulu. Lagipula, ibunya sudah berjanji akan mencari Dea dan membawanya ke kota besar.
Reza menyeret kopernya, tapi berhenti saat melihat ke arah kaca jendela yang memperlihatkan sebuah pesawat sedang lepas landas. Tatapannya sedih, berat hati meninggalkan kota ini. Yang terpikirkan hanyalah Dea. Harapan pada janji ibunya terus digumamkan dalam hati agar cepat tercapai.
"Reza! Ayo!" panggil ibunya, yang menyadari bahwa anaknya tak kunjung beranjak mengikutinya.
Reza mengangguk. Kemuraman dan kesedihan menggantung pada wajah tampannya. Menarik koper, mengekor sang ibu yang telah berjalan jauh. Bukan karena dirinya yang lambat, melainkan kaki yang enggan untuk beranjak.
-;-;-;-
Satu hari saja, tapi banyak yang menanyai. Mbak Winda menyapanya saat secangkir teh hangat tiba di meja. Senyum khas terukir, lalu langsung mencecar.
"Udah sehat emang? Kok udah masuk kerja aja?"
Dea tersenyum simpul. "Udah berobat, jadi cepat sembuhnya," sahutnya ceria. "Lagian, nggak betah rebahan di rumah terus. Badan nggak bergerak malah bikin tambah sakit."
"Emang," sahut Winda sependapat. "Kalau udah biasa kerja, badan jadi sakit kalau nggak digerakin. Tapi, kamu tetap nggak boleh kecapekkan, ya? Kan baru sembuh."
Winda memang agak cerewet, tapi lembut. Hatinya begitu baik, dan selalu perhatian pada siapa pun. Meski berbeda watak, tapi Winda mengingatkannya pada Alena.
Hmm ... sedang apa dia? Cara bicaranya yang ceplas-ceplos, pedas, selalu bikin ketawa, dan tentu kecerewetannya membuatnya rindu. Entah kapan bisa bertemu lagi. Saat ini, yang paling dekat dengannya adalah Winda, walaupun belum bisa dikategorikan sebagai sahabat.
"Oke, Mbak." Dea tersenyum, mengangkat nampan. "Aku mau balik kerja dulu, ya?"
Perasaannya agak sedikit tidak nyaman. Tetapi biarlah, ia juga tak mengharapkan apa pun pada pria itu. Sejak awal, ia ingin menjauhinya.
Itu hanya pikiran sementara. Menjelang makan siang, ia dikejutkan oleh kedatangan Dean ke ruang pantri dengan tangan menenteng sebuah kantong putih yang berisi dua bungkus makanan.
Kantong plastik itu diletakkan di atas meja, lalu memanggil Dea yang tengah selesai mencuci piring. "Dea, duduk sini!"
Dea terperangah, lalu mengernyit. "Ada apa? Kalau ada yang mau diomongin, bilang aja."
Dean melongok ke belakang Dea, melihat westafel yang sudah kosong dari piring-piring dan gelas-gelas kotor, juga air keran yang sudah dimatikan. Pikirnya, pekerjaan Dea sudah selesai.
"Oh," ucap Dean sambil berdiri, kemudian berjalan menghampiri rak piring. "Kalau masih ada kerjaan, lanjutin aja. Tapi habis itu, lo duduk di sini."
Mau apalagi sih dia? Dea memutar bola matanya, jengkel. Sambil menghampiri Dean, ia berkata, "Udah selesai kok kerjanya."
Dea duduk di bangku yang ada di hadapan Dean, melipat kedua tangannya, dan diletakkan di meja dengan memperlihatkan wajah kesalnya. Kemudian, ia menyindir, "Sudah puas?"
Sudah. Tetapi Dean tidak mengatakan apa pun. Dia mengeluarkan salah satu bungkusan dari kantong yang dibawanya, lalu meletakkan di atas piring. Sedangkan bungkusan yang satunya, ia berikan pada Dea.
Dea melihat kantong itu, tercengang. "Maksudnya, ini...." tanyanya sambil menunjuk.
"Buat lo," sela Dean sembari beranjak dari kursi. "Nggak boleh nolak pemberian dari orang seganteng aku, pokoknya! Habisin! Jangan lupa minum obat. Oh, ya! Obatnya bawa 'kan?"
Dea tak dapat mengatakan apa pun lagi, hanya ternganga pada setiap kata yang diucapkan Dean. Lalu, ia mengangguk dan menjawab pertanyaan terakhir darinya.
"Iya, bawa."
"Bagus!" sahut Dean.
Di depan pintu pantri, seorang OB muncul. "Dea!"
Dea dan Dean sama-sama menoleh. Setelah itu, Dea menyahuti panggilan itu.
"Antarkan 5 cangkir teh ke ruang rapat, ya?" Gadis itu memohon dengan wajah memelas dan tersenyum penuh harap.
Enak saja gadis itu memerintah Dea yang sedang hamil! Memang bukan salahnya sih, karena dia juga tidak tahu soal kondisi Dea. Akan tetapi, ia tetap tidak setuju jika Dea melakukan pekerjaan itu, yang membuatnya kelelehan.
"Kenapa nggak kamu aja yang nganterin?" timpal Dean, agak menyolot dan ekspresinya terlihat tidak senang.
Gadis OB itu terkejut. "Maaf, Pak. OB yang lain sedang sibuk, sedangkan saya baru saja minta izin pulang karena mendapat kabar bahwa ibu saya tiba-tiba anfal."
Kasihan sekali, Dean jadi merasa bersalah. Dea pun sampai menegurnya dengan menendang pelan kakinya karena ucapan ketusnya pada gadis itu.
Dea menoleh pada gadis itu dan mengulas senyum. "Ya udah, gue yang antarkan. Cepet deh pulang!"
Gadis itu tersenyum, lalu buru-buru pergi seperti yang disarankan Dea.
"Hmm ... kayaknya, makannya di-pending dulu nih?" gumam Dea seraya beranjak dari kursi.
"Terserah. Yang penting, makanan itu dihabiskan," kata Dean, yang sehabis itu keluar dari pantri.
Tak perlu waktu lama, 5 cangkir teh hangat terhidang. Kini, tinggal dibawa ke ruang rapat yang ada di lantai atas gedung ini.
Ruangan itu masih sepi. Seorang cleaning service baru saja membersihkan ruangan ini. Ia menyapa lelaki muda itu sebelum dia keluar, lalu mulai menata cangkir-cangkir itu di atas meja.
-;-;-:-
Perusahaan ini sedang melakukan kontrak kerja sama dengan perusahaan PT Indocitra. Pak Martin adalah orang terpecaya yang bisa mewujudkan kontrak itu, apalagi direkturnya saling mengenal dan bersahabat.
Pak Martin menjabat tangan sang direktur, memberi salam dan tersenyum ramah penuh kehangatan. Mereka saling bertukar sapa dan kabar, berjalan di lorong yang menuju ke arah ruang rapat.
Namun, tanpa sengaja, Pak Martin melirik pada sosok yang begitu familiar. Ia berhenti dan tercengang beberapa saat, ketika detik-detik sosok wanita yang mirip dengan anaknya melintas di sebuah lorong sebelum menghilang dari balik tembok yang menuju lorong lain.
"Martin. Kenapa?" tanya sang direktur perusahaan ini.
Masih dalam ketercengangannya, ia berkata, "Duluan aja, nanti aku nyusul."
Pak Martin bergegas mengikuti ke arah gadis itu menghilang. Di lorong itu, terdapat beberapa ruangan, dan Dea pasti masuk ke salah satu ruangan itu.
Ia akan mulai mencari. Akan tetapi, seseorang menepuk pundaknya hingga membuatnya tersentak.[]