Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 9



Siang itu, udara terasa menyejukan meskipun matahari bersinar terik. Angin berhembus sepoi-sepoi, mengugurkan daun-daun yang mulai rapuh, mengantarkannya berserakan di atas tanah. Kemudian terbang mengikuti angin yang tak tahu akan membawanya kemana.


             Saat itu, Ryu kembali dalam kesendiriannya. Hari itu teman baiknya, Yuki, tidak sekolah karena demam. Terpaksa, Ryu harus beristirahat sendirian sambil menikmati makan siangnya di taman. Ia memandangi benda-benda yang dibawanya, sebuah kotak makanan, sebotol minuman, dan sebuah buku kesayangannya. Meskipun disekitarnya banyak anak-anak lain yang duduk di taman, ia tetap merasa kesepian. Kemudian ia berdiri dan membawa barang bawaannya, mencari tempat yang lebih tenang dan sepi. Itu dia, tempat yang pas, di balik pohon itu, tak ada orang disana. Ryu berjalan menuju tempat itu. Tiba-tiba, sesuatu mendorongnya dari belakang. Ryu pun terjatuh dengan isi kotak makanannya yang berhamburan di tanah.


             “Ups, maaf aku tak sengaja mendorongmu!” kata salah satu anak perempuan yang kali ini duduk di tempat Ryu duduk tadi. Ia berkata dengan nada pura-pura.


             Teman-teman lainnya ikut tertawa. Ryu masih tersungkur di tanah, ia mengambil bukunya yang terjatuh, dan membereskan makanannya yang berhamburan. Ryu khawatir ia akan dihukum jika ketahuan sampah makanan berserakan di taman sekolah.


             “Hey kamu! Cari tempat lain saja! Ini kan tempat kami!” kata anak perempuan tadi lagi.


             Ryu tidak mendengarkan omongannya. Ia tetap membersihkan makanannya yang berserakan. Kemudian anak perempuan itu menghampiri Ryu yang mengabaikannya.


             “Heh, kamu anak yatim piatu! Kamu mendengarkanku tidak? Dasar anak yatim piatu! Dengarkan aku ya! Kenapa kau jadi yatim piatu, itu karena ayahmu mencuri harta ayahku!” kata anak perempuan itu blak-blakkan.


             Hati Ryu menjerit mendengar omongan anak itu. Namun ia tidak percaya padanya. Ryu berdiri menghadapi anak itu.


             “Itu memang benar kan? Atau kamu saja yang tidak tahu! Ayahku selalu mencari ayahmu, karena dia telah mencuri harta ayahku. Itu yang aku dengar dari ayahku sendiri, makanya aku sangat benci padamu!”


             Mata Ryu berkaca-kaca. Ia memang masih tak percaya pada apa yang dikatakan anak itu padanya.


             “Dan itu juga yang membuat ibumu pergi untuk selamanya! Berikan buku itu padaku!” kata anak itu kemudian sambil berusaha merebut buku pemberian ibu Ryu dari Ryu.


             Ryu berusaha mempertahankan buku kesayangannya. Keduanya saling berebut, sedangkan yang lain malah menyoraki keduanya. Perebutan terjadi berlangsung untuk beberapa menit hingga akhirnya buku itu terbelah menjadi dua bagian.


             “Ups, aku tak sengaja lagi!” katanya sambil membuang kertas sobekan yang didapatnya. Kemudian gerombolan anak-anak itu bubar karena bel masuk telah berbunyi.


             Air mata Ryu tak terbendung lagi melihat buku pemberian ibunya tersobek. Beberapa kertas sobekannya berserakan di tanah dan tertiup angin. Sambil menangis, ia mengejar-ngejar beberapa bagian sobekan buku itu yang berterbangan. Sementara itu, di taman suasana telah sepi, semuanya telah kembali ke dalam kelasnya masing-masing.


***