Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 25



Sore itu, terlihat sama seperti kemarin. Langit biru bercampur dengan sinar senja matahari. Hari itu akan menjadi perpisahan bagi Myori, Lee, dan Ryu. Hari yang tak akan pernah terlupakan.


Myori telah duduk di kursi ruangan tunggu dengan Ryu di sampingnya menyandar pada bahu Myori. Ryu terus merangkul tangan Myori, seolah tak ingin pernah melepaskannya. Sementara itu, Lee sedang mengurusi semua administrasi untuk kepergiannya. Tanabe pun ikut pergi bersama Ryu dan Lee, karena ia harus menjadi pengawas Ryu selama Lee bekerja nanti.


Tak lama kemudian, suara operator bandara mengumumkan bahwa penumpang yang menuju Seoul, Korea Selatan untuk bersiap-siap karena pesawat akan lepas landas dalam 10 menit. Lee telah kembali dan mengajak Ryu dan Tanabe untuk meninggalkan area tunggu. Momen perpisahan itu pun tiba. Ryu memeluk Myori dengan erat, ia menangis.


“Ryu! Kau ingat perkataanku? Kita akan bertemu lagi, aku janji!”


“Iya, tapi aku tak mau berpisah denganmu, Myori-san!


“Ryu, dengarkan aku! Kau akan baik-baik saja tanpaku. Kau pasti akan menemukan guru yang lebih baik dariku, dengan teman-teman yang lebih baik daripada yang ada disini. Aku akan sering meneleponmu, Ryu! Percayalah, kau akan menemukan kehidupan yang lebih baik di Seoul. Iya kan Lee?”


“Myori benar, Ryu! Kita akan berkunjung sekali-kali ke Tokyo, kita bisa berlibur bersama lagi.”


“Benarkah, Kak?” tanya Ryu ragu.


Lee mengangguk mantap.


“Kita akan bertemu lagi, Ryu!” Myori meyakinkan. Keduanya berpelukan sambil menangis. Ryu akhirnya melepaskan pelukannya. Myori membantu Ryu menghapus air matanya. Keduanya tersenyum kemudian tertawa, berusaha menghibur diri mereka masing-masing.


“Myori…, terima kasih atas semua perhatian yang kau berikan pada Ryu! Aku sungguh berutang budi padamu. Maafkan juga atas semua hal yang pernah terjadi selama ini. Aku harap kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti.” Kata Lee berat.


“Sama-sama. Kalian semua sangat berarti bagiku. Terima kasih banyak juga! Semoga semua ini membawa kita pada jalan yang terbaik!”


Lee tampak berat meninggalkan Myori. Ia merangkul Myori sebagai seorang sahabat. Myori membalas pelukan itu, tampak air matanya kembali menetes. Kali ini Myori merangkul Tanabe. Salam perpisahan menjadi tanda bahwa mereka harus segera pergi. Lambaian tangan dan air mata menjadi pemandangan sore hari itu. Selamat tinggal, sayonara!


Musim dingin telah tiba. Udara terasa sangat dingin, menyelimuti hati kosong yang sedang perih ditinggalkan oleh sebuah perasaan yang dapat menghangatkannya. Namun, ia tak akan pernah mengisi lagi ruang itu yang kini hampa.


The dream that I was forgetting


Painted in the depth of my heart


Wishing to hear your voice


I tried closing my eyes


It vaguely comes to my ears


A music box with snow scape


A single note that stopped by on the eyelashes echoes on


Even at such a far away city


It shall realize my dream


As the white, powdery snow falls


Winter song


[Winter Song – Kiroro]


***


Memori


Pagi itu, sebuah taman di kawasan Minato-ku tampak ramai sekali. Beberapa keluarga mengamparkan tikar di bawah rindangnya pepohonan sakura yang sedang bermekaran. Dua orang anak yang bersahabat berlari-lari menuju sungai kecil di taman itu. Usia si anak laki-laki 9 tahun, sedangkan anak perempuan berusia 7 tahun. Mereka berlari-lari sambil membawa kertas putih dan sebuah pulpen di tangannya masing-masing.


“Hey! Mari kita buat perahu kertas yuk!” ajak seorang anak laki-laki pada teman perempuannya. Si anak perempuan tampak memikirkan sesuatu.


 


             “Kau kenapa?” tanya si anak laki-laki.


“Kazuo-chan, aku punya ide!” kata si anak perempuan.


“Ide apa?” anak laki-laki itu tampak bingung.


“Umm..., bagaimana kalau kita menuliskan impian kita dulu sebelum membuat perahu kertas? Lalu kita layarkan perahu itu di sungai ini, bagaimana?” tanya si anak perempuan ceria.


“Wah! Ide yang bagus!”


Kedua anak itu langsung menuliskan impian-impian mereka pada sebuah kertas putih yang akan mereka jadikan perahu itu. Mereka mencoba mengintip tulisan yang lain, tapi mereka tak dapat melihatnya. Keduanya penasaran dengan apa saja yang mereka tuliskan.


“Sudah selesai?” tanya si anak perempuan.


“Yup! Aku sudah!”


Kemudian, keduanya merubah kertas putih yang sudah dituliskan itu menjadi sebuah perahu kertas kecil. Keduanya berdiri di samping sungai yang beraliran tenang itu.


“Tunggu dulu!” sergah si anak perempuan, sebelum si anak lelaki menaruh perahu itu di atas sungai.


“Kita berdoa dulu, semoga apa yang kita tuliskan bisa menjadi kenyataan.”


Keduanya pun berdoa di dalam hati agar suatu saat impian yang mereka tulis dalam kertas itu menjadi kenyataan. Lalu, keduanya meletakkan perahu kertas itu di atas sungai yang mengalir.


Perahu itu terus berlayar mengikuti arus tenang, yang berakhir entah dimana. Namun harapan kedua anak itu begitu besar. Mereka yakin bahwa Tuhan akan mengabulkan impian mereka itu suatu hari nanti. Ya, suatu hari nanti!


 


***