Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 3



Myori membereskan mejanya yang dipenuhi oleh kertas-kertas hasil karangan


murid-muridnya tadi pagi. Ia berniat membawanya pulang dan membacanya di rumah. Kemudian ia memasukkan kertas-kertas itu pada sebuah map merah. Ruangan guru sore itu telah sepi, banyak guru yang telah pulang lebih dahulu. Lain dengan Myori, biasanya ia akan memeriksa tugas-tugas murid-muridnya sebelum pulang, jika belum selesai di sore hari maka ia akan membawanya ke rumah.


             Suasana sekolah sudah sepi sejak tadi siang. Murid-murid sengaja dipulangkan lebih awal setelah acara makan siang bersama tadi. Myori berjalan menuju keluar ruangan kantornya. Ia berjalan melewati ruangan perpustakaan yang jendelanya telah rapat. Kemudian tatapannya tertuju pada lapangan sekolah yang dipenuhi oleh dedaunan kering yang berserakan. Ada seorang lelaki tua sedang membersihkannya disana bersama seorang lelaki yang lebih muda dari laki-laki tua itu. Mereka adalah penjaga dan tukang kebersihan sekolah. Meskipun, sebelum dipulangkan tadi, para murid diperintahkan untuk membersihkan baik sampah maupun daun kering yang berserakan, tetapi daun-daun itu kembali berserakan di atas lapangan. Ya, musim gugur memang sudah tiba.


             Myori berjalan menuju halaman depan sekolah melewati hall, kemudian sampai di teras depan gedung sekolah. Ia melihat Ryu sedang terduduk sendiri di bangku halaman depan gedung sekolah, seperti sedang menunggui seseorang. Myori berjalan menghampirinya.


             “Ryu, apa yang sedang kamu lakukan disini? Mengapa kamu belum pulang sejak tadi?” tanya Myori penasaran.


             “Aku sedang menunggu kakakku yang akan menjemputku. Tapi dia belum juga datang!” kata Ryu kecewa.


             “Apakah kamu sudah menghubunginya, Ryu?”


             “Belum, aku tidak mempunyai ponsel. Lagipula aku tidak tahu berapa nomor ponselnya. Tetapi, tadi pagi ia berkata, ia akan menjemputku pulang.” Katanya polos.


             “Tapi Ryu, ini sudah lebih satu jam dari waktu pulang biasanya.”


             “Iya, Bu Guru Myori. Tapi aku akan tetap menunggunya disini, mungkin kakakku sedang dalam perjalanan dari Yokohama.”


             “Memangnya, kakakmu naik apa dari sana?” tanya Myori.


             “Ia memakai mobilnya, katanya ia akan pergi dari sana sejam sebelum aku pulang sekolah!”


             “Seharusnya, ia sudah ada disini setengah jam yang lalu. Bagaimana kalau kita pulang bersama, Ryu?” tawar Myori.


             “Tapi mungkin sebentar lagi kakakku tiba!”


             “Tapi Ryu, hari sudah hampir malam, dan disini sudah tidak ada siapa-siapa lagi! Rumahmu di Shibuya bukan? Kita bisa naik kereta bersama karena masih satu arah, bagaimana?” tawar Myori.


             Ryu tampak ragu berpikir. Tapi Myori benar, matahari hampir tenggelam. Dan ia berada seorang diri di depan sekolahnya tanpa ada siapa pun yang menemani. Belum tentu kakaknya itu menepati janjinya hari itu. Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Myori kembali menanyakannya.


             “Bagaimana, Ryu? Mungkin kakakmu ada keperluan mendadak sehingga dia tidak bisa menjemputmu kesini. Atau kalau pun ia sedang dalam perjalanan menuju kemari, akan kuberitahu kalau aku yang mengajaknya pulang bersamamu. Bagaimana?” jelas Myori meyakinkan Ryu.


             “Hmm….baiklah kalau begitu!” jawab Ryu.


             Myori tersenyum pada Ryu. Kemudian mereka menaiki bus menuju Stasiun Shinjuku, untuk kemudian menaiki kereta di jalur Yamanote. Penumpang kereta di senja hari ini tidak sebanyak tadi pagi, mungkin jam-jam penuh telah lewat. Myori dan Ryu duduk menghadap ke arah matahari akan terbenam. Sinar matahari yang berwarna emas keoranye-oranyean terpancar di balik gedung-gedung bertingkat. Kemudian kembali menyorot mata ketika rumah-rumah penduduk yang kecil itu tidak bisa menghalangi. Ryu menyipitkan matanya ketika sinar matahari senja menyoroti matanya yang sipit. Myori memberinya sehelai sapu tangan untuk membantunya melindungi matanya dari sinar matahari.


             Tak terasa, kereta itu telah tiba di Stasiun Shibuya. Ryu berpamitan pada Myori untuk pulang. Tapi Myori berniat mengantarnya hingga depan rumahnya, ia harus bertanggung jawab untuk mengantarnya pulang, ia khawatir kakak Ryu akan menanyakannya.


             “Ryu, aku akan mengantarmu pulang sampai depan rumahmu!” kata Myori.


             “Terima kasih banyak, Bu! Tapi aku bisa pulang sendiri dari sini!”


             “Tidak usah sungkan, aku harus bertanggung jawab mengantarkanmu pulang, bolehkah aku?” tanya Myori.


             Mereka kemudian keluar dari kereta dan pergi menuju Dogenzaka menaiki bus. Setelah hampir 10 menit, akhirnya mereka tiba di kediaman Ryu. Myori sempat terkejut dengan tempat tinggal Ryu yang cukup luas. Myori baru tahu ternyata Ryu adalah anak yang berada. Myori sempat bertanya-tanya dalam hati, mengapa seorang anak kaya seperti Ryu bisa bersekolah di sekolah biasa seperti ia bersekolah sekarang, padahal masih banyak sekolah yang tinggi di Central Tokyo. Ryu mempersilakan gurunya itu untuk masuk ke dalam rumahnya yang bergaya Eropa.


             Lembayung senja masih jelas terlihat di langit Tokyo. Burung-burung wallet berterbangan di bawah langit bersama kawanannya. Hari terasa lebih dingin daripada siang tadi. Namun suasana di dalam rumah Ryu terasa hangat. Ryu mengajaknya masuk dan menuju sebuah ruangan luas dimana Ryu terbiasa berkumpul dengan keluarganya dulu. Kemudian Myori duduk di sebuah sofa berwarna khaki yang lembut dan empuk. Ia cukup terkesima dengan barang-barang yang terdapat di ruangan itu. Layar LCD, lengkap dengan speaker stereonya, ada juga sebuah piano berwarna hitam mengkilat yang terdapat di ujung ruangan itu. Ryu meminta izin pada Myori untuk mengganti seragamnya, Ryu juga berteriak meminta seorang pelayan membawakan Myori minum dan cemilan.


Sementara Ryu pergi meninggalkannya sendirian di ruang itu, Myori kembali memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Ia melihat beberapa lukisan indah dan antic menempel di dinding. Ada juga sebuah foto berbingkai ukiran kayu yang indah menempel di dinding terlihat sangat besar. Myori berdiri memperhatikan foto keluarga itu. Satu persatu wajah diperhatikannya. Ada seorang wanita cantik dengan rambutnya lurus yang tergerai mengenakan gaun mewah berwarna putih terlihat sangat anggun,


itu adalah ibu Ryu yang sudah tiada. Myori terkagum-kagum melihat wanita itu. Ia berpikir, mungkin wanita itu adalah orang yang sangat baik. Disampingnya berdiri seorang balita kecil dengan rambut panjang yang diikat, mengenakan dress putih, terlihat cantik sekali dengan senyuman manis di bibir kecilnya. Ya balita itu adalah Ryu. Myori dapat melihat ekspresi wajahnya dari foto itu.


Ryu terlihat ceria saat itu, mungkin ia masih berumur 3 tahun. Di belakang wanita itu, berdiri dengan gagah dan tegap, seorang pria berkaca mata dengan kumis yang tipis menghiasi bibirnya. Pria itu adalah ayah Ryu. Myori juga berpikir kenapa dengan harta sebanyak ini, pria yang gagah itu bisa bunuh diri? Banyak pertanyaan menyelimuti pikirannya.


Dan di sebelah ayah Ryu, ada seorang pria muda berdiri dengan senyumannya. Matanya terbilang cukup besar jika dibanding dengan orang-orang Korea yang lain. Rambutnya yang pendek terlihat keren dengan gaya anak muda saat itu. Tangannya memegang bahu ibunya agak terlihat akrab. Ya, dia adalah kakak Ryu satu-satunya. Mungkin umurnya sedikit lebih muda dibanding dirinya, pikir Myori. Tetapi sepertinya, Myori merasa pernah melihat wajah seperti pria itu. Hanya saja ia lupa dimana a pernah melihat wajah pria itu.


             Tak lama kemudian, datang seorang wanita setengah baya mengenakan dress berbahan tebal berwarna hijau muda sambil membawa segelas cangkir dan dua kaleng makanan kecil. Myori membungkukan badannya ketika mengetahui ada orang datang. Ia kembali duduk di sofa itu. Wanita itu mempersilakan Myori untuk menikmati camilan dan minuman. Wanita itu duduk di seberang Myori. Myori meminum secangkir teh hijau hangat yang telah disajikan. Kemudian kembali menyimpannya setelah meminumnya beberapa teguk.


             “Jadi, Nona Myori ini adalah guru Nona Ryu di sekolah?” kata wanita itu memulai percakapannya.


             “Ya benar, saya adalah guru Ryu di kelasnya. Senang bertemu dengan Anda, Nyonya…”


             “Panggil saja saya Tanabe! Senang juga bertemu denganmu Nona Myori.”


             Myori tersenyum tersipu.


             “Saya hanyalah pengasuh Ryu sejak kecil, dan sampai sekarang saya masih dipercaya oleh keluarga Choi ini. Apalagi ketika Tuan dan Nyonya Choi telah meninggal. Saya merasa bertanggung jawab untuk merawat Ryu dan Tuan Lee.” Kata Tanabe bercerita.


             “Ummm….bolehkah aku bertanya sesuatu, apakah Ryu mempunyai masalah dalam keluarga ini? Karena ia sering terlihat murung akhir-akhir ini.” Tanya Myori.


             “Oh…mungkin itu karena akhir-akhir ini, Ryu selalu berkata: ‘aku merindukan umma dan appa!’ katanya. Jadi mungkin hal itu yang membuatnya murung. Dan juga kesibukan Tuan Lee akhir-akhir ini yang jarang berada di rumah, jadi ia merasa kesepian di rumah yang besar ini!” kata Tanabe menjelaskan.


             “Ohhh….begitu ya! Berapa lama Ryu ditinggal oleh ibunya?”


             “Nyonya Choi meninggal di usianya yang masih muda! Ia meninggal di usianya yang ke 30. Kalau tidak salah, Nyonya Choi meninggal tak lama setelah foto keluarga itu diambil. Ia mengalami stress berat dan kemudian meninggal karena serangan jantung. Saat itu Ryu masih berumur 4 tahun. Saya merasa sangat kasihan pada Ryu kecil yang telah ditinggal oleh ibunya. Dan tiga tahun kemudian, Tuan Choi yang harus meninggalkan Ryu. Kasihan sekali Ryu dan Tuan Lee!” kata Tanabe sedih mengingat masa lalu keluarga itu.


             Myori terdiam turut bersedih. Ia tak bisa membayangkan bagaimana keadaan Ryu kecil yang ditinggalkannya oleh ibunya lalu ayahnya, padahal ia sedang membutuhkan perhatian dari keduanya.


             “Lalu, kakak Ryu? Apakah dia masih bersekolah?”


             “Tuan Lee telah menyelesaikan kuliah arsitekturnya di Universitas Tokyo tiga tahun yang lalu, tepat ketika ayahnya meninggal. Setelah lulus, ia bekerja di beberapa proyek pembangunan di Jepang. Kemudian, karena ada sesuatu hal, ia merubah karirnya dan pindah ke bidang modelling, dan berhenti menjadi arsitek handal, mungkin untuk sementara.” Jelas Tanabe.


             Myori terus bertanya-tanya dalam hati, ada apa dengan keluarga ini? Ibu Ryu meninggal karena stress berat, kemudian ayah Ryu meninggal bunuh diri, dan kakak Ryu begitu saja menjadi model padahal sebelumnya ia adalah seorang arsitek.


             Matahari telah terbenam seutuhnya. Lembayung senja telah lenyap tergantikan oleh hitamnya langit. Namun sinar bulan muncul menggantikan matahari yang tenggelam. Ia menemani malam oleh sinarnya yang terang. Angin malam berhembus membelai siapa pun yang merasakannya. Dingin terasa lebih dingin. Namun kehangatan dalam rumah itu tak berubah meskipun sangat sepi terasa.


***