
Musim semi sudah memasuki Tokyo di bulan Maret ini. Pohon-pohon yang kemarin tak berdaun, kini kembali segar dengan dedaunan hijaunya. Matahari bersinar riang di sepanjang waktu, langit pun tampak bersih dan biru ditemani awan-awan selembut sutra.
Siang itu, Myori pulang lebih awal dari hari-hari biasanya. Sesampainya di depan rumah, Myori tampak heran. Ia bertanya-tanya mengapa ada sekuntum bunga sakura tergeletak di depan pintu rumahnya. Padahal sepengetahuannya, tidak ada warga di komplek perumahannya yang menanam pohon sakura. Lalu darimana datangnya bunga sakura ini? Myori membawa kuntum bunga sakura itu ke dalam rumahnya, ia meletakkan di atas meja di kamarnya. Ia berharap ada pertanda baik hari ini.
“Ai sudah pulang, Bu?” tanya Myori sesampainya di dapur.
“Belum. Dia akan mampir dulu di supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan untuk persiapan ohanami.
“Oh! Ibu masak apa untuk malam ini?”
“Miso-shiru! Ayo cepat bantu ibu!”
Myori membantu ibu untuk memotong tofu dan sayuran yang akan dimasukkan ke dalam sup miso. Miso-shiru adalah sup khas Jepang, biasanya orang-orang memakannya untuk sarapan pagi atau makan malam. Sup miso berisi beberapa sayuran seperti lobak, terung, dan daun bawang, biasanya ditambahkan pula tofu dan ikan-ikan kecil yang sudah dikeringkan. Miso sendiri adalah pasta kedelai, sehingga rasa kuah supnya akan terasa kental dan khas.
“Myori, maukah kau membeli ubi bakar di pasar? Ayah akan senang sekali jika ubi bakar tersedia di atas meja makannya.”
“Baik, Bu! Aku akan keluar!”
Myori berjalan menuju sebuah pasar yang tak jauh dari rumahnya. Biasanya akan ada pedagang ubi bakar keliling yang sedang berhenti melayani pembeli di pasar. Benar saja, Myori sudah melihat pedagang ubi bakar itu sedang berhenti. Aroma wangi ubi bakar itu menusuk hidung, aromanya sedap sekali. Cocok dimakan ketika hangat-hangat di malam hari. Biasanya ibu akan kembali menghangatkannya di microwave untuk dimakan pada saat malam.
Setelah berhasil membeli beberapa buah ubi bakar, Myori kembali ke rumahnya. Ia tampak heran sepulangnya dari pasar, ia menemukan sebuah mobil sedan Honda terparkir di depan pagar rumahnya. Ada tamu mengunjungi rumah keluarga Fujikawa sore itu, tapi Myori tidak tahu siapa.
“Aku pulang!” sapa Myori ketika masuk ke dalam rumahnya.
“Myori! Cepat, ganti pakaianmu! Pilih pakaian yang rapi dan cantik. Ada tamu spesial dari jauh!” suruh ibu sambil berbisik seketika Myori tiba di rumahnya. Myori memberikan satu kantong plastik ubi bakar penuh pada ibunya.
“Ah, ibu! Ada siapa memangnya?” tanya Myori penasaran.
“Ssst, cepat ganti pakaianmu! Dandan yang rapi ya?! Cepat!” paksa ibu.
Myori terpaksa mengikuti permintaan ibunya itu. Ia jadi semakin penasaran siapa tamu yang mampir ke rumahnya sampai-sampai ibu memaksanya seperti itu. Mungkinkah Lee? Myori berusaha menafikkan bayangannya itu.
Ibu menghampiri Myori yang masih berada di kamarnya. “Ayo cepat turun! Ia sedang menunggumu.” Kata Ibu tidak sabar. “Memangnya siapa sih, Bu?”
“Ahh..., nanti kau juga tahu! Makanya cepat turun!”
Myori mengikuti langkah ibunya menuju ruang tamu. Ia terus bertanya-tanya siapa yang mengunjunginya hari itu. Myori memandang terkejut sekaligus bahagia ketika menemukan wajah seorang sahabat lamanya sedang duduk terdiam di kursi tamunya. Pria itu memandang Myori dengan wajah berbinar. Keduanya tampak tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Senyum lebar menghiasi kedua sahabat yang tak lama dijumpainya.
“Kazuo?!” sapa Myori tak percaya.
“Ya! Ini aku, Myori! Ya ampun!! Aku tak percaya kita bertemu lagi!”
“Ya ampun, ini benar-benar Kazuo Han?! Apa kabar?” sapa Myori sambil menjabat tangan Kazuo. Rasa rindu yang tak terbendung, membuatnya memeluk sahabatnya itu.
“Kau lihat diriku?!”
“Kau tampak hebat, Kazuo!”
“Kau juga, Myori! Kau sehat?”
“Ya beginilah! Aku masih tidak percaya! Ini bukan mimpi, kan?”
“Haha...tentu saja, bukan! Kau boleh cubit aku!”
Myori tertawa. Kedua sahabat yang telah berpisah selama 16 tahun itu akhirnya bertemu kembali. Bagi mereka, pertemuan ini terasa bagaikan mimpi. Maklum saja, tak pernah ada kabar menghampiri keduanya, mereka sama sekali kehilangan kontak selama 16 tahun itu.
Kazuo seorang laki-laki blasteran Korea-Jepang, adalah sahabat Myori sejak usianya 5 tahun. Ia tinggal bersebelahan dengan keluarga Fujikawa di tempat Myori tinggal saat ini. Hanya saja pada usianya yang ke-9, Kazuo pindah mengikuti ayahnya yang bekerja di Paris. Baru saat ini, pada usianya yang ke-25 ia baru bisa menemui Myori.
Keduanya tampak bahagia menceritakan kehidupannya masing-masing.
“Apakah kau pindah ke Tokyo?” tanya Myori, ia heran dengan keberadaan Kazuo di Tokyo.
“Hmm..., baru sebatas rencana! Tapi aku memiliki bisnis di kota ini. Ayahku baru saja membuka cabang perusahaannya di kota ini. Ia memintaku untuk mengurusinya.”
“Aaah! Berarti kau akan tinggal lama di sini?”
“Sepertinya! Hey, kau seorang guru, bukan?”
“Ya begitulah! Aku senang sekali mengajari anak-anak kecil!”
“Dulu juga kau seperti itu. Apa kau masih ingat ketika kita mencoba mengajari beberapa anak TK di Osaki? Waktu itu aku kabur dari sana, karena pusing melihat anak-anak kecil yang nakal! Hahaha!”
“Haha, tentu saja masih ingat! Kau curang meninggalkanku sendirian di taman!”
“Maafkan aku! Saat itu, teman-teman mengajakku bermain, jadi kutinggalkan saja dirimu!” kata Kazuo sambil tertawa-tawa.
“Ya, kau memang menyebalkan!” kata Myori sambil meninjukan kepalannya pada lengan Kazuo. Myori sudah menganggap Kazuo sebagai kakaknya sendiri. Oleh karena itu, ia memang sangat akrab kepadanya. Selain itu, sifat Kazuo yang suka bercanda, ia mudah sekali mencairkan suasana dengan candaannya.
“Hey, mana suamimu?!” tanya Kazuo tiba-tiba.
“Suami siapa?!” tanya Myori pura-pura tidak mengerti.
“Suami kau! Ia pasti tinggal di sini, bukan?!”
“Ah, kau bercanda saja! Aku belum menikah. Kalau aku sudah menikah, pasti aku tidak akan berada di sini!”
“Haha, aku kira kau sudah menikah! Kalau begitu, dimana pacarmu?”
DUG! Pacar? Lee? Ia bukan pacarku, ia tak pernah jadi kekasihku.
“Pacar? Pacarku.... umm, dimana ya?” kata Myori dengan nada bercanda.
“Masa sih, gadis secantik kau belum punya pacar? Apa tidak ada guru yang masih sama-sama single?” kata Kazuo tidak percaya.
Myori tertawa-tawa mengingat semua guru yang berada di sekolahnya rata-rata berusia sudah tua.
“Aku tidak mau berpacaran dengan kakek-kakek!” Myori tertawa lagi.
“Ya sudahlah, aku menyerah! Jadi kau belum punya pacar?”
“Terserah kau saja lah! Kalau kau menduga aku sudah punya pacar, berarti aku sudah punya. Tapi kalau kau menduga aku tidak punya pacar, berarti aku belum punya.” Katanya puas.
“Dasar wanita aneh!” keduanya tertawa bersama-sama.
Sore kala itu terasa lebih menyenangkan bagi sepasang sahabat yang kembali bertemu di hari tu. Burung-burung masih berterbangan menghiasi langit senja sebelum akhirnya matahari meninggalkan dunia. Gelap mulai menyelimuti, namun suasana keakraban itu belum juga sirna. Malah bertambah hangat ditambah obrolan-obrolan kecil dan makan malam keluarga Fujikawa yang sudah berkumpul.
Mereka semua berkumpul di ruang tengah untuk menyantap makan malam buatan ibu sambil menonton TV seperti biasanya. Begitu pula dengan Kazuo yang ikut menyantap makan malam bersama keluarga Fujikawa yang baru ditemuinya lagi. Canda tawa menghiasi suasana malam itu. Kehangatan dan keakraban semakin terasa, rasanya seperti kembali ke masa lalu, hanya saja keadaan telah berubah.
Seperti biasa, Ai menjadi penguasa tunggal siaran televisi malam itu. Ia memasang chanel televisi pada sebuah acara musik Jepang yang menyiarkan beberapa musik yang sedang top di Jepang. Ketika suasana keluarga itu sedang dalam suasana keakraban, Ai berteriak.
“Aaah...akhirnya, video klip Lee!”
Myori terkejut. Ia terdiam. Begitu pula dengan yang lainnya yang ikut menyaksikan video klip dari artis yang sedang naik daun, Lee.
Lee terlihat sungguh menawan di video klip barunya itu. Lee yang sudah memenangkan kontes audisi penyanyi 6 bulan yang lalu, tepat sebulan setelah Lee mengajak Myori berlibur di Kyoto, akhirnya meluncurkan album terbarunya yang berjudul Love of Two Hearts. Singel perdananya dengan judul lagu Hurts sudah menjadi lagu yang paling sering didengar oleh pecinta lagu. Di video klipnya itu juga, Lee memperlihatkan bakat aktingnya. Ia menjadi model bagi video klipnya sendiri dan juga ditemani oleh model wanita cantik Jepang yang berperan sebagai kekasihnya. Lee sungguh tampak berbeda di video klip tersebut, ia mengenakan jas hitam. Ia semakin tampak tampan dengan rambut bermodel spike. Namun, ia berakting mesra dengan model wanitanya.
Hati Myori meleleh melihat video klip itu. Luka hatinya kembali terasa, perih sekali. Tetapi ia melihat video klip itu seperti mewakili perasaan Lee pada dirinya bahwa perasaannya itu akan membuat mereka selalu terluka. Ia hanya bisa terdiam mendengar alunan suara Lee di televisi tanpa bisa berkata apa-apa.
“Kak! Kapan Kak Lee kesini lagi?” tanya Ai pada Myori, membuatnya lepas dari lamunannya.
“Ai! Sudah kubilang, Lee dan Ryu sudah pindah ke Seoul!”
“Yaaaah!” kata Ai kecewa.
“Memangnya, kau kenal dengan orang itu?” tanya Kazuo kemudian.
“Ya...begitulah! Adiknya adalah muridku di sekolah. Kebetulan adiknya itu sempat ada masalah, jadi aku harus berbicara pada kakaknya yang ternyata adalah seorang artis.”
“Ooh...begitu!”
Suasana hati Myori yang tadi sudah hangat, kini kembali dingin. Makan malam sudah selesai, meja sudah dirapikan kembali. Myori mengajak Kazuo ke halaman belakang untuk kembali mengobrol.
“Kau kenapa?” tanya Kazuo tiba-tiba.
“Ah, tidak apa-apa!”
“Sepertinya setelah melihat video klip itu, perasaan kau berubah!”
“Ah, itu hanya perasaanmu saja!”
“Benarkah?”
“Atau mungkin, aku hanya merindukan Ryu. Murid itu memang berbeda di antara murid lainnya. Ia pintar, cerdas, dan ceria.”
“Ryu? Adik penyanyi itu?”
“Iya!”
“Lalu, masalah apa yang menimpanya?”
“Dia anak yatim piatu. Ada beberapa teman sekelasnya yang sering menhinanya. Aku tidak mengerti kenapa. Kemudian, Ryu menjadi pemurung. Akhirnya, kakaknya memutuskan untuk membawanya pindah ke Seoul. Aku harap ia bisa menemukan teman-teman baik disana.”
“Begitu. Ya semoga saja.”
“Hei, Kazuo! Apa kau sudah menikah? Kali ini aku yang gantian bertanya ya?” tanya Myori, berusaha mengembalikan moodnya.
“Kenapa kau menanyakan hal itu?”
“Kan tadi sudah kubilang, kali ini aku gantian yang bertanya! Lagipula, kau sudah menjadi pria yang mapan, umurmu juga terbilang sudah cukup untuk berkeluarga, dan kau juga...”
“Apa? Tampan?!” tebak Kazuo, berusaha mengisi kata-kata Myori yang terhenti.
“Ya, terserahlah!”
Kazuo tertawa dengan suaranya yang khas. Tawa yang selalu Myori ingat sejak dulu.
“Baiklah, aku akan bercerita. Lagipula nanti juga kau akan mengetahuinya.”
“Apa itu?” tanya Myori penasaran.
“Begini, aku datang kemari untuk mencari seseorang yang sudah lama kutunggu. Jujur saja, aku menyukai wanita ini. Tapi sayangnya, aku tidak pernah tahu apakah aku masih punya kesempatan untuk mengutarakan perasaanku padanya.”
“Siapa dia? Beritahu aku!”
“Tunggu dulu! Aku belum mengatakan padanya. Nanti setelah aku mengatakan padanya, baru aku akan memberitahumu! Kau jangan mengatakan ini pada siapa-siapa ya?”
“Hmm...baiklah! Aku jadi menduga-duga, siapa wanita yang kau sukai? Sejak dulu, yang kutahu hanya Midori yang kau suka. Benar bukan?”
“Sssst....nanti juga kuberitahu!”
“Kau menyebalkan!”
Kazuo tertawa-tawa melihat ekspresi Myori yang penasaran. Malam itu suasana kembali hangat, ada perasaan lega di hati Myori dengan kedatangan Kazuo. Mungkin bunga sakura itu adalah pertanda kedatangannya hari itu. Myori mengucapkan syukur dalam hatinya telah dipertemukan kembali dengan sahabat kecilnya itu. Tak terasa malam telah larut, Kazuo kembali ke hotel tempatnya menginap di Daiwa Roynet Hotel, tak jauh dari komplek perumahan Myori. Kazuo berjanji besok lusa akan memenuhi undangan keluarga Fujikawa untuk ohanami, yaitu festival musim semi untuk melihat bunga sakura bermekaran di taman.
Pikiran Myori malam itu dipenuhi oleh ingatannya akan masa lalu, masa-masa kecilnya bersama Kazuo-chan. Meskipun sempat terbesit pikirannya tentang Lee, tapi segera ia hilangkan. Bunga sakura telah menjadi pertanda awal kehidupan baru yang lebih baik. Pertemuannya dengan Kazuo telah membuatnya terasa semakin baik. Apakah ini yang akan membawanya menuju takdir hidupnya?
***