Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 4



Malam telah menyelimuti Tokyo dengan dinginnya musim gugur yang baru


dimulai. Myori masih berada di dalam rumah orang tua Ryu yang luas itu. Ryu telah muncul dan kembali menemui gurunya itu. Pakaiannya telah berganti menjadi piyama pink yang bergambar beruang-beruang besar. Ia terlihat menggemaskan menganakan piyama itu.


             Ryu duduk di samping Tanabe, dan menarik-narik lengan Tanabe yang mulai keriput. Tanabe telah mengabdi di keluarga Choi hampir berpuluh-puluh tahun sejak orang tua Tanabe masih hidup. Saat Lee lahir, Tanabe yang masih muda diminta untuk merawat bayi laki-laki itu. Ketika Myori bertanya tentang keluarga dirinya, Tanabe menjawab bahwa ia pernah berkeluarga dan memiliki seorang bayi perempuan. Hanya saja bayinya itu meninggal di bulan ke-6. Kemudian ia bercerai dengan suaminya yang selalu mabuk dan berbuat kasar. Dan setelah itu, ia mengabdikan dirinya untuk keluarga ini sepenuhnya hingga kini. Sungguh pengabdian yang luar biasa.


             Ryu membisikkan sesuatu pada Tanabe. Tanabe tersenyum padanya dan mengiyakan. Myori tak tahu apa yang dibisikkan oleh Ryu pada Tanabe. Tetapi tampaknya hal itu akan membuat Ryu senang.


             “Kenapa kakak belum juga pulang, Obasan?” tanya Ryu pada Tanabe yang memanggilnya nenek.


             “Mungkin kakakmu hanya terlambat pulang hari ini, jadinya ia tak bisa menjemputmu! Sebentar lagi pasti sampai.” jawab Tanabe menenangkan Ryu.


“Ehmm….mungkin sebaiknya aku pulang. Masih ada tugas yang harus kuselesaikan malam ini.” Pamit Myori tiba-tiba.


Ryu tampak terkejut mendengar Myori berpamitan. Ia tampak mengatakan sesuatu pada Tanabe.


“Nona Myori, Ryu memintamu untuk makan malam bersama di sini. Tapi kita harus menunggu Tuan Lee pulang. Mungkin ia akan tiba sebentar lagi.” Kata Tanabe membujuk.


“Mungkin kita bisa melakukannya di lain hari! Hari sudah malam, dan aku masih banyak kerjaan untuk dipersiapkan besok. Maafkan aku, Ryu!” kata Myori memelas minta maaf.


Kemudian, tiba-tiba pintu depan terbuka. “Kakak!” kata Ryu menebak. Ryu berlari menuju ruangan depan untuk menghampiri orang yang membuka pintu rumahnya. Dengan semangat ia berlari sambil tersenyum gembira. Ia langsung merangkul untuk menyambut pria yang membuka pintu tadi. Pria itu tersenyum melihat adiknya yang lari bersemangat yang kemudian memeluknya untuk menyambut kedatangannya. Pria itu menggendongnya kemudian menurunkannya kembali. Kemudian bersama-sama berjalan menuju ke dalam ruangan sambil berbincang-bincang.


“Hai, Ryu! Kau belum tidur?” tanya Lee.


“Kenapa kakak tidak menjemputku? Kenapa kakak baru pulang?” tanya Ryu cemas.


“Maafkan kakak, Ryu! Kakak ada jadwal tambahan mendadak, jadinya kakak tak bisa menjemputmu dan baru pulang malam ini.” Jelas Lee.


“Tapi kakak harus makan malam sekarang bersama kami malam ini!” pinta Ryu.


“Baiklah, hanya untuk menyenangkan hati adikku yang lucu ini. Hei, tadi kau pulang dengan siapa? Kau pulang memakai taksi atau kereta. Kakak khawatir jika kamu harus pulang sendirian memakai kereta.” tanya  Lee cemas.


“Aku pulang diantar seseorang. Dan dia masih ada disini untuk makan malam bersama dengan kita.”


“Siapa?” tanya Lee penasaran.


Mata Lee tertuju pada sesosok wanita cantik yang sedang berbincang dengan Tanabe. Kemudian dengan sigap, Myori berdiri ketika tahu kakak Ryu telah berada di ruangan itu. Myori membungkukan badannya. Lee membalasnya. Ryu memperkenalkan Lee pada Myori.


“Senang bertemu dengan Anda Tuan Choi, saya Myori Fujikawa, guru Ryu!” kata Myori mengenalkan dirinya dengan sopan.


“Kakak, ayo kita makan malam bersama. Kami sudah menunggu kakak dari tadi!” ajak Ryu.


“Maaf Ryu, tapi aku harus pulang sekarang. Mungkin kita bisa makan malam lain kali. Maaf Ryu!” Myori kembali meminta maaf pada Ryu untuk ajakannya.


“Tapi, Bu guru, makan malam telah siap!” kata Ryu kecewa. Myori sejenak terdiam memandangi wajah Ryu yang terlihat kesepian.


“Ya, atas nama Ryu, kumohon, maukah Anda makan malam bersama kami meskipun hanya kali ini saja. “ kali ini giliran Lee yang ikut mencegah kepergian Myori.


“Umm… Baiklah kalau begitu!” Myori tersenyum pada Ryu yang memintanya.


Ryu tersenyum gembira. Wajahnya terpancar kebahagiaan, ia langsung berlari menuju dapur untuk meminta pelayan segera menyajikan hidangan makan malam yang telah siap sejak tadi.


Myori tersenyum pada Lee. Kemudian Lee pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Hidangan makan malam telah tersaji di atas meja makan yang dapat digunakan oleh delapan orang. Meskipun tak banyak macam, namun hidangan terlihat menggugah selera makan. Makanan yang tersaji adalah makanan a la Eropa, seperti spaghetti sebagai menu utama dan salad sayur dan buah sebagai penutup. Tiga piring spaghetti dan tiga mangkuk besar salad telah disediakan.


             Lee telah mengganti pakaian a la selebritisnya menjadi seperti orang biasa pada umumnya. Lee duduk di samping Ryu. Sementara Myori duduk berhadapan dengan Ryu. Tanabe tidak ikut makan malam bersama di meja makan, karena ia mengaku tidak lapar. Myori terlihat kaku di depan Lee, begitu pula dengan Lee. Akhirnya, Ryu yang mencairkan suasana.


             “Itadakimasu!!!” kata Ryu mengucapkan selamat makan.


             Myori mulai menyuap mulutnya dengan spaghetti yang dibaluti oleh saus tomat dan cabe yang dicampur dengan daging sapi cincang. Parutan keju mozarella yang tertabur diatasnya telah tercampur dengan saus. Makanan ini terasa asing bagi Myori, karena ia tidak terbiasa memakan makanan Eropa. Menurutnya, makanan Jepang adalah yang terbaik. Ryu makan dengan lahap malam itu. Meskipun dengan mulut penuh, ia menceritakan suasana ceria di sekolahnya, meskipun pada awalnya ia sempat murung.


             “Benarkah itu, Bu guru?” tanya Lee pada Myori setelah mendengar cerita Ryu.


             “Ah…itu benar! Anak-anak sangat menikmati bekal makan siang mereka di bawah pohon, meskipun matahari bersinar dengan terangnya.”


             “Menyenangkan sekali! Mungkin lain kali, kita harus mencobanya di Kyoto!” kata Lee sambil melihat kepada Ryu.


             “Ya, benar! Kita sudah lama sekali tidak pergi ke Kyoto! Pasti musim gugur ini akan terlihat sangat indah di Kyoto!” kata Ryu semangat.


             Myori hanya tersenyum. Ya, tentu saja untuk mereka berdua tanpa dirinya, pikirnya. Setelah menghabiskan menu utama, mereka melanjutkan ke menu selanjutnya, salad buah dan sayur.


***