
Myori dan Ryu kembali ke kamar untuk melanjutkan perkerjaan mereka untuk memperbaiki buku Ryu yang sobek itu. Hanya sedikit bagian lagi yang harus diperbaiki, meskipun tidak seperti semula, kertas-kertas yang tersobek itu telah terlihat lebih baik.
Myori menggunting selotip untuk menyatukan halaman buku yang tersobek, sedangkan Ryu membantu memegang halaman kertas yang tersobek.
“Ryu, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Myori.
Ryu mengangguk.
“Kakakmu, sejak kapan ia menjadi artis?” tanya Myori ragu.
“Hmm…kalau tidak salah, setelah paman datang ke Tokyo mengunjungi kami. Itu terjadi saat kakak sibuk menjadi arsitek di perusahaan besar di sini. Setelah itu, kakak semakin sibuk saja, selain menjadi arsitek, ia juga menjadi seorang model. Dan sekarang ia akan menjadi penyanyi hebat! Memangnya ada apa?” Ryu balik bertanya.
“Ehmm…tidak apa! Hanya saja, hal itu begitu jarang terjadi. Seorang arsitek merangkap pekerjaan sebagai model. Tapi jujur, penampilan kakakmu tadi hebat sekali!” puji Myori.
“Terima kasih! Umm…Myori sensei, bolehkah aku yang bertanya kali ini?”
“Tentu saja!”
“Menurutmu, bagaimana kakakku pada saat pertama kali bertemu?” tanya Ryu.
Myori terdiam. Ia ragu untuk menjawabnya. Jujur saja, ketika pertama kali bertemu dengan Lee, ia tampak kaku dan canggung di depannya, apalagi ketika makan malam bersama.
“Hmm…menurutku, dia pasti pekerja keras! Dan pasti dia adalah seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya. Karena untuk siapa ia bekerja, tentu saja untuk membahagiakanmu, Ryu!” jawab Myori.
Ryu tersenyum. ”Terima kasih atas pujianmu! Dia memang kakak yang sangat baik. Aku beruntung mempunyai kakak seperti dia. Dan aku juga beruntung memiliki guru sepertimu, Myori-sensei!”
Myori tersenyum mendengar kata-kata yang diucapkan Ryu, sangat tulus sekali ucapan dari bibirnya. Mereka melanjutkan pekerjaannya.
Waktu tak terasa berlalu, siang pun berlalu. Tak terasa pekerjaan mereka telah selesai. Buku kesayangan Ryu telah selesai diperbaiki, meskipun tak seperti semula, namun Ryu masih bisa membacanya. Ia tersenyum puas melihat hasil kerjanya dan gurunya itu.
Kemudian, Myori mengajak Ryu berjalan keluar untuk menghirup udara segar di sore hari. Menikmati udara sore hari yang sejuk dengan pemandangan yang lain dari biasanya. Mereka berjalan melewati beberapa kuil-kuil Shinto. Hingga akhirnya mereka tiba di ujung jalan. Disana terdapat toko buku sederhana dengan nama Kakizome, namanya seperti acara menulis kaligrafi Jepang di tahun baru. Myori kemudian memasuki toko itu, diikuti Ryu yang berjalan disampingnya. Disana terjual berbagai macam buku, mulai dari buku politik, hukum, pelajaran, bisnis, novel, komik, hingga buku masakan.
Ryu berjalan mengikuti Myori yang sedang melihat-lihat buku di kategori anak. Kemudian mata Ryu tertarik pada satu buku cerita anak dengan judul Tonari no Totoro. Sebuah buku anak dengan cover menarik. Gambar seekor binatang besar seperti beruang dengan telinga kelinci, terlihat menggemaskan dengan dua anak kecil disebelahnya membawa payung.
“Kau suka buku itu?” tanya Myori mengejutkan Ryu.
“Ah…aku hanya mau melihatnya saja!” jawab Ryu.
“Kalau kau suka, ambil saja! Aku akan membelikannya untukmu!” kata Myori
“Benarkah?” tanya Ryu tidak percaya.
“Tentu saja, anggap saja ini hadiah dariku untukmu agar kau tidak terlalu sedih dengan buku kesayanganmu itu!”
“Wah, terima kasih banyak!”
Myori membawa buku itu kepada pemilik toko untuk membungkusnya, kemudian ia membayarnya dan mereka kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang, Ryu tampak terlihat senang sekali dengan buku barunya, ia terus mendekap buku itu di dadanya. Kadang kala ia membuka beberapa halaman yang dilengkapi dengan ilustrasinya.
Setelah sampai rumah, Ryu langsung duduk manis di lantai beralaskan karpet hangat, kemudian tampak focus membaca buku barunya itu. Myori ikut bahagia melihat muridnya itu.
“Moshi-moshi! “ jawabnya.
“Halo! Apa aku berbicara dengan Myori?” tanya suara di seberang sana, itu suara lelaki.
“Ya benar! Ini Myori sendiri, ini dengan siapa?” tanya Myori.
“Ini aku, Lee! Aku hanya ingin menanyakan kabar Ryu, bagaimana ia?”
Myori cukup terkejut, bagaimana mungkin Lee tahu nomor ponselnya. Apakah Ryu memberitahukannya? Padahal kemarin, ia menelepon lewat telepon rumahnya.
“Oh… ia baik-baik saja disini! Ia sedang membaca buku. Buku kesayangannya sudah kami perbaiki jadi ia sudah lebih baik! Apakah kau perlu berbicara dengannya?”
“Oh…tak perlu! Aku percaya padamu, guru Myori! Hmm…mungkin besok aku akan menjemputnya ke rumahmu, jadi kau tak perlu mengantarkannya! Maaf sudah banyak merepotkan!”
“Tak apa! Dia anak yang sangat baik!”
“Hmm…Myori, bisakah kita berbicara suatu waktu. Aku ingin mengetahui keadaan Ryu di sekolahnya bagaimana, karena akhir-akhir ini aku terlalu sibuk sehingga kadang aku tak memperhatikannya! Karena kau gurunya, jadi aku membutuhkan nasihat darimu! Bagaimana?”
“Oh…baiklah! Aku akan menyempatkan waktu untuk itu!” jawab Myori.
“Oh… Terima kasih banyak. Baiklah kalau begitu, besok sore aku menjemputnya ke rumahmu! Terima kasih!”
“Hei! Apakah kau tahu rumah kami?”
“Oh Tuhan! Maaf, aku lupa menanyakannya padamu! Bodoh sekali aku ini!”
Myori tertawa kecil. “Alamat rumahku di Osaki New City, kau tunggu saja di taman, kami akan menunggumu disana!”
“Baiklah kalau begitu! Maaf sudah merepotkan! Sekali lagi terima kasih!”
“Sama-sama!”
Percakapan dari ponsel itu pun berakhir. Myori tersenyum sendiri, entah mengapa ia senang menadapat telepon dari Lee. Padahal saat tadi ia begitu gugup menjawab. Ryu memergoki gurunya yang sedang tersenyum sendiri itu. Pandangannya seolah bertanya dari siapa telepon itu.
“Apakah kau memberitahukan nomorku pada kakakmu?” tanya Myori penasaran.
Ryu tampak ragu menjawabnya. “Iya, Bu guru! Maafkan aku! Aku memberikannya tanpa seizinmu!”
“Sudahlah, tak apa! Tadi kakakmu menelepon menanyakan kabarmu, dan besok ia akan menjemputmu sore hari di taman!”
“Benarkah?! Ia meneleponmu?! Wah senangnya, besok kakak akan menjemputku!” Ryu tampak sangat bahagia mendengar kabar itu.
“Bagaimana kalau kita mengajak Ai? Tapi jangan beritahukan dulu kalau kakakmu akan menjemputmu ya? Dia pasti akan sangat terkejut melihat kakakmu!” saran Myori.
“Ya, betul! Mari kita beri kak Ai kejutan, ia pasti akan sangat senang!” kata Ryu ceria.
***