
Matahari pagi bersinar dengan hangatnya, membuat penduduk bumi terbangun
untuk menatap hari yang baru. Hari yang diharapkan akan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Hari yang hanya akan dipenuhi dengan senyuman dan tawa.
Setelah membersihkan diri, Ryu menunggu Myori untuk bersama-sama turun ke bawah, menikmati sarapan bersama keluarga Myori. Kemudian Myori dan Ryu bersama-sama menuju ke ruangan keluarga yang bernuansa tatami. Semua keluarga Fujikawa telah berkumpul untuk menikmati sarapan pagi bersama. Ryu memasuki ruangan itu dengan malu-malu. Ia membungkukan badannya menghormati keluarga Myori. Kemudian ibu Myori mempersilakan Ryu untuk duduk disampingnya.
“Ayo, Ryu, duduklah!” ajak Keiko, ibu Myori.
Disana telah berkumpul seluruh anggota keluarga Fujikawa. Yamada dan Keiko, orang tua Myori, serta dua adik Myori, Ai dan Mikimoto. Suasana makan pagi seperti itu belum pernah dirasakan oleh Ryu. Selama ini, ia selalu duduk berdua dengan kakaknya di meja yang luas, terasa sangat sepi dan biasa. Meskipun dulu ia pernah merasakan makan bersama keluarganya, namun suasananya tidak seakrab seperti ini. Keluarga Fujikawa terbiasa menikmati makan pagi dan malam sambil berkumpul mengelilingi meja rendah yang hangat atau kotatsu. Mereka duduk di atas bantal tipis, biasanya mereka menikmati makan sambil berbincang tentang kejadian yang terjadi hari ini. Kemudian satu persatu mereka menceritakannya di depan keluarga.
“Ayo, Ryu, tak usah sungkan! Makanlah! Mungkin ini sangat berbeda dengan yang biasa kau makan setiap hari.” Kata Myori.
“Tidak apa! Aku suka nasi kare. Tanabe selalu membuatkannya untukku!”
“Benarkah? Syukurlah kalau begitu!”
Keluarga itu sangat menikmati kebersamaan mereka, begitu pula dengan Ryu, yang selalu merindukan suasana seperti itu. Ia memakan menu sarapan sederhana itu dengan lahap. Setelah selesai sarapan, karena hari itu hari libur, keluarga itu menonton tv bersama-sama.
“Ibu! Jangan pindahkan chanel tv ini! Aku ingin lihat acara audisi semalam!” kata Ai kepada ibunya.
“ Acara apa ini? Ini kan hanya acara audisi penyanyi!” kata ibu kurang suka.
“Aah…Ibu! Lihat saja, pasti ibu akan suka! Suara mereka bagus-bagus, apalagi peserta favoritku! Pasti dia yang akan jadi juaranya.”
“Ah dasar, anak muda!”
Ai Fujikawa yang masih duduk di bangku SMA kelas dua ini adalah adik pertama Myori. Ia memang sangat menyukai acara audisi penyanyi ini. Ia tak pernah melewatkannya, hanya tadi malam saja, karena ada acara mendadak di sekolahnya yang mengharuskan ia pulang malam.
Setelah beberapa kali jeda iklan komersial, akhirnya tayangan ulang acara audisi penyanyi itu kembali ditayangkan. Ai menatap layar televisi dengan fokus, ia berharap penyanyi favoritnya belum tampil. Akhirnya terpaksa, semua anggota keluarga ikut menyaksikan acara kesayangan Ai. Mereka juga penasaran dengan bakat para peserta acara itu.
Sang pembawa acara mempersilakan peserta ketiga untuk tampil di atas panggung. ‘Inilah dia, Choi Leejung! Selamat menyaksikan!’. Ai bersorak sendirian mendengar peserta kesayangannya akan tampil. Berbeda dengan Ai, hati Ryu terkejut mendengar nama kakaknya disebut. Begitu juga dengan Myori, mereka pun saling bertatapan, seolah tak percaya apa yang didengarnya. Namun, Lee benar-benar muncul di televisi dalam acara itu. Ryu terkejut setengah mati, ia tak pernah tahu kakaknya ikut acara itu. Yang ia tahu selama ini, kakaknya itu hanya bekerja sebagai model iklan di majalah dan televisi.
Ryu sangat memperhatikan penampilan kakaknya itu. Kakaknya itu terlihat sangat tampan di atas panggung, ia juga menyanyi dengan bagus sekali. Ryu selalu menyukai suara kakaknya yang lembut tapi sangat indah. Mata Ryu berkaca-kaca melihat penampilan kakaknya yang sangat menawan. Ryu baru melihat penampilan Lee yang menawan seperti itu di layar kaca. Ryu tak bisa mengedipkan matanya sama sekali.
“Waw! Lee!!! Kamu keren sekali!!!” teriak Ai setelah melihat penampilan menawan Lee.
“Suaranya begitu indah! Ah…membuat hatiku terbang melayang!” kata ibu berlebihan.
“Ya, suaranya indah sekali! Benarkan, Ryu?” tanya Myori meyakinkan Ryu.
“Ah…Ryu! Kau saja sampai menangis mendengar suaranya! Sudah kubilang, Leejung itu sangat menawan!” kata Ai bangga.
“Kau belum berkata apa-apa!” kata ibu membenarkan. “Mengapa kau menangis Ryu?” tanya ibu kemudian.
Myori mengusap-usap kepala Ryu. “Aku rindu kakakku!” kata Ryu.
“Ada apa dengan kakakmu, Ryu?” tanya Ai penasaran.
“Choi Leejung adalah kakak Ryu!” jawab Myori. Semuanya terkejut mendengar jawaban Myori, terutama Ai. “Benarkah itu, Ryu?” tanya Ai tak percaya jawaban kakaknya itu.
Ryu mengangguk dan tersenyum. Ia bangga mempunyai kakak seperti Lee. Mata Ai tak berkedip sama sekali, begitu pula dengan ibu.
“Wah!!! Jadi Leejung adalah kakakmu, Ryu! Ahhh…senangnya! Aku boleh minta tanda tangan dan fotonya kan, Ryu? Mintakan pada kakakmu, ya? Oh ya, bilang juga aku, Ai Fujikawa, adalah penggemar beratnya! Lain kali aku harus mengunjungi rumahmu, bolehkah?” tanya Ai bersemangat.
Ryu mengangguk. “Aku pernah bertemu dengannya!” kata Myori, berusaha membuat iri adiknya itu.
“Apa?!! Kak Myori pernah bertemu dengannya?! Kapan? Dimana?” tanya Ai penasaran dan tidak percaya.
“Tentu saja, bahkan kami makan malam bersama, iya kan Ryu?” Myori berhasil membuat adik perempuannya ini cemburu.
Lagi-lagi Ryu hanya mengangguk dan tersenyum. Ai sungguh tidak percaya apa yang dikatakan kakaknya itu. Tentu saja, lain kali ia ingin bertemu dengan Lee.
Ryu terus tersenyum melihat penampilan kakaknya tadi itu. Senyuman lainnya ikut menghiasi, Myori yang melihat wajah Ryu yang berbinar bahagia melihat senyuman manis muridnya itu.
***