
Hari itu matahari bersinar terang, menghapus cuaca yang sempat redup beberapa hari kemarin. Matahari sore masih tetap bersemangat menyinari kota Tokyo yang sudah terasa dingin. Warna dedaunan yang menjadi cantik keemasan, terlihat serasi dengan warna lembayung di langit. Dedaunan rapuh ramai berserakan di jalan, membuat beberapa anak bermain-main dengan daun-daun yang jatuh, menghambur-hamburkannya ke udara, terasa menyenangkan.
Sore itu, sepulangnya dari sekolah, Myori berjalan menuju Shinjuku Central Park sendirian. Hari itu ia ada janji dengan Lee. Mereka akan bertemu untuk membicarakan masalah Ryu akhir-akhir ini.
Myori mengenakan jas tebal cokelatnya, sambil menjinjing jas lainnya milik Lee, yang dipinjamkan padanya beberapa hari lalu. Hatinya yang gugup membuat suhu tubuhnya terasa panas, meskipun di luar udara terasa dingin. Maklum saja, kali ini, ia akan bertemu dengan pria yang baru saja dikaguminya, tanpa satu orang pun menjadi pendampinginya. Biasanya, Ryu selalu ada di sampingnya ketika bertemu dengan Lee. Berbeda dengan kali ini, ia hanya akan bertemu dua mata dengan Lee.
Myori berjalan-jalan memperhatikan suasana taman yang cukup ramai oleh anak-anak kecil yang bermain dengan daun-daun kering. Mereka berlari kesana kemari, saling melemparkan daun-daun yang berserakan hingga mengotori mantel-mantel mereka. Tawa riang memenuhi suasana sore itu. Myori membersihkan sebuah kursi taman panjang yang diatasnya penuh dengan dedaunan kering. Kemudian, ia duduk di kursi yang terletak di bawah pohon. Ia tersenyum melihat tawa anak-anak itu, mengingatkannya pada masa kecilnya.
Sebuah mobil Mercedez berhenti tepat di depannya. Lee keluar dari mobilnya. Penampilannya selalu membuat siapa pun yang melihatnya akan terpesona padanya, termasuk Myori. Hati Myori berdegup kencang. Pria muda itu kemudian memberikan senyuman manisnya. Myori membalasnya.
“Maaf ya, aku selalu terlambat!” sapa Lee. “Kau sudah menunggu lama ya?”
“Ah, tidak! Aku baru saja duduk di sini!” jawab Myori. Lee kemudian duduk di sampingnya, menghela nafas dan memperhatikan keadaan di sekitarnya.
“Suasana ini mengingatkanku pada masa kecilku! Aku selalu merindukannya, meskipun aku tak pernah memiliki teman! Tetapi ayah selalu menemaniku bermain di taman pada sore hari!” cerita Lee. Myori hanya terdiam.
”Oh ya, apakah kau menyuruh supir untuk menjemput Ryu?” tanya Myori.
”Ya, aku menyewa seorang pria untuk menjemput Ryu! Jadi rasa khawatirku berkurang! Aku tidak enak jika kau harus mengantarkannya terus! Kau sudah banyak kami repotkan!”
”Ah, tidak apa! Aku hanya merasa Ryu itu adikku sendiri!”
Lee tersenyum mendengar perkataan Myori.
”Ya! Aku jadi teringat ketika umma meninggalkan kami semua!”.
Kemudian Lee terdiam. Pandangannya tampak dalam dan lurus, mengingat semuanya. Kemudian, ia memulai ceritanya...
”Hari itu adalah musim dingin pertama kami di Jepang. Saat itu aku berusia 13 tahun dan Ryu masih berumur 3 tahun. Saat itu, umma sudah menunjukan gejala penyakitnya semenjak pindah ke Jepang. Ia lebih sering terdiam seorang diri sambil memandang ke luar jendela. Kadang air mata menetes di pipinya yang lembut. Ketika aku berpamitan untuk pergi sekolah, aku melihatnya menangis dengan pipinya yang basah. Bibirnya terlihat pucat, begitu pula dengan matanya, ada lingkaran hitam di sekeliling matanya. Aku terkejut memperhatikan wajahnya. Kupeluk tubuhnya yang dingin, aku tak sanggup melihatnya dengan kondisi seperti itu. Dan aku yang masih polos, tak tahu apa-apa dengan keadaan umma ataupun appa. Aku pun menangis dalam pelukannya. Ia membelai rambutku, kemudian berpesan ’Anakku yang tampan! Jagalah adikmu baik-baik. Belajarlah yang tekun. Dan jadilah orang besar yang baik. Jangan kau menjadi seperti ayahmu itu! Kalian berdua harus baik-baik! Umma sayang kalian semua!’ Itulah kata-kata terakhirnya padaku. Siang itu, aku masih berada di sekolah. Kemudian ada seorang guru yang memberitahuku, kalau umma-ku dibawa ke rumah sakit. Ketika aku tiba, umma-ku sudah pergi untuk selamanya.”
Lee terdiam, matanya berkaca-kaca mengingat peristiwa itu.
”Dan hingga saat ini, aku belum menjadi kakak yang baik untuk Ryu! Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sekarang, sehingga tak ada waktu untuk Ryu! Aku menyesal, aku belum bisa menepati janji umma untuk merawat Ryu baik-baik!”
Myori menatap Lee dengan iba. Ia mengerti, ia bisa mengerti apa yang dirasakan Lee ketika kehilangan ibunya.
Suasana hening terasa untuk sesaat.
”Bolehkah, aku bertanya sesuatu padamu, Lee?” Tanya Myori memecah keheningan.
”Apa yang terjadi pada ayahmu?”
”Appa..., aku tak ingin membicarakannya! Maafkan aku, Myori!” kata Lee lesu.
”Baiklah, tak apa!”
Myori mengerti, mungkin Lee sedang tak ingin mengingat tentang ayahnya. Namun, masih ada sebuah pertanyaan besar di dalam pikiran Myori yang selalu belum terjawab, apa yang sebenarnya terjadi di keluarga Choi?
”Oh ya, bagaimana perkembangan Ryu di sekolah?” Tanya Lee akhirnya.
“Ryu…! Pada saat awal hari masuk sekolah, ia terlihat lebih sering menyendiri dan murung. Bahkan aku sempat menemukannya menangis, ketika kami semua berkumpul untuk makan siang bersama. Ada juga kejadian yang membuatnya sangat sedih. Buku pemberian ibunya, telah dirusak oleh anak-anak yang lain. Dan ia sempat terkunci di ruang kesenian. Mungkin kau ingat, ketika Ryu menginap di rumahku. Ya, kami memperbaiki buku kesayangannya! Dan satu lagi, ini...” Myori menunjukkan kertas karangan Ryu, yang mengungkapkan isi hatinya pada saat itu.
Lee menatap tulisan Ryu, kemudian membacanya. Matanya kembali berkaca-kaca. Kali ini, ia meneteskan air matanya. Ia tak percaya apa yang ditulis Ryu. Ia merasa menyesali dirinya yang kurang memperhatikan Ryu akhir-akhir ini.
“Aku tak menyangka! Ryu?! Ia sama sekali tak pernah bercerita padaku!” kata Lee dengan nada penuh kecewa.
“Ryu sangat mempedulikanmu. Ia tak mau menceritakannya kepadamu, karena ia melihat kondisi kakaknya yang letih.” Kata Myori berusaha membuat Lee mengerti.
“Maafkan aku, Ryu! Kakak memang terlalu egois!”
”Kini, kau sudah mengerti perasaan Ryu kan?”
Lee mengangguk.
”Tapi jika kuperhatikan beberapa hari terakhir, kondisinya sudah mulai membaik. Ia sering bersama teman-temannya yang lain. Ryu adalah anak yang cerdas, nilainya selalu baik. Dan kau harus bersyukur mempunyai adik seperti dia.”
Lee tersenyum, masih dengan mata yang basah. ”Terima kasih atas perhatian yang kau berikan pada Ryu! Arigatou gozaimasu!”
Suasana taman semakin gelap dan dingin. Lampu-lampu taman telah menyala. Anak-anak telah pulang ke rumahnya. Tak ada siapa pun disana, kecuali Myori dan Lee, serta beberapa kendaraan yang lewat. Lee mengantarkan Myori pulang ke rumahnya. Lee ingin segera menemui adiknya di rumah dan menceritakan cerita sebelum tidur, seperti yang dulu pernah dilakukannya.
”Terima kasih, sudah mengantarkanku!” kata Myori ketika mobil milik Lee berhenti di depan rumahnya.
”Aku yang sebaiknya berterimakasih padamu.”
Kemudian, Myori turun dari mobil Lee, melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Kemudian, ia teringat dengan jas Lee yang terus digenggamnya. Mungkin lain kali, ia harus mengembalikannya. Dan begitulah, hari terasa cepat berlalu. Matahari telah terbenam, meskipun lembayungnya masih terlihat. Meninggalkan kenangan-kenangan yang berkilauan di gelapnya malam.
***