Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 24



Keesokan harinya…


             Siang itu, murid-murid SD Tomihisa berlarian keluar. Pelajaran hari itu sudah selesai. Sebagian murid masih berada di dalam kelas untuk membersihkan kelas yang akan mereka tinggalkan selama dua hari di akhir pekan. Myori berjalan menuju ruangan guru untuk memeriksa pekerjaan murid-muridnya selama pelajaran tadi. Ia memberikan senyuman pada semua orang yang ditemuinya sepanjang koridor menuju ruangan guru. Myori memang terkenal sebagai guru yang paling ramah di antara yang lain. Murid-murid dan guru-guru di sekolah itu sangat menyukainya.


             Myori meletakkan tumpukkan kertas-kertas soal hasil pekerjaan muridnya. Ia memakai kaca mata minusnya. Ia mulai memeriksa kertas-kertas soal itu. Dengan cekatan, beberapa kertas yang sudah diperiksa sudah tertumpuk kembali di atas mejanya. Terbesit ingatannya pada perkataan Ryu tadi malam, ia ingat Lee akan mengajaknya berjalan sore ini. Mungkin Lee akan mengatakan salam perpisahan padanya. Myori sebenarnya merasakan kesedihan atas kepergian Ryu tapi bagaimana lagi, ini semua keputusan Lee. Myori tak berhak melakukan apapun atas keputusan Lee.


             Hampir dua jam lamanya, Myori terus memeriksa kertas-kertas soal itu. Akhirnya ia dapat menyelesaikannya juga. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pm. waktu Tokyo. Tiba-tiba ponselnya berdering, tertulis Lee dalam layar ponselnya.


             “Ya, hallo?”


             “Myori! Kau sudah mendengar pesan Ryu dariku?”


             “Ya!”


             “Aku sudah berada di halaman parkir sekolah.”


             “Oh, begitu! Baiklah, tunggu sebentar ya?”


             “Oke! Bye!”


             “Bye!”


             Kini hati Myori mulai berdegup, ia akan kembali bertemu dengan Lee setelah tiga bulan tak bertatap wajahnya dan kini mungkin pertemuan terakhir dengannya. Myori segera membereskan benda-benda yang ada di mejanya, kemudian pamit pada guru lain yang masih berada di dalam ruangan guru. Ia memakai winter coat cokelat dan syal oranye-nya. Ia berjalan dengan hati yang gugup menuju halaman parkir sekolah.


             Sosok pria itu terlihat sedang menunggu sendirian di bawah pohon maple seorang diri. Tubuhnya yang tegap dengan rambut yang selalu rapi, terlihat sungguh menawan dari jauh. Myori menghampiri Lee ragu.


             “Lee?”


             Lee membalikkan tubuhnya. Ia tersenyum dengan senyuman yang selalu Myori ingat. “Hai! Apa kabar?”


             “Aku baik. Kau sendiri?”


             “Aku juga! Maaf sebelumnya, aku tak memberitahumu langsung!”


             “Ah, tak apa!”


             “Baiklah, kita berangkat sekarang!”


             Keduanya berjalan menuju mobil Mercedez yang terpakir di pinggir jalan. Lee membukakan pintu untuk Myori. Mobil pun melaju menuju tempat yang diarahkan oleh pengemudinya.


             “Mau kemana kita, Lee?”


             “Lihat saja!” jawab Lee tersenyum dan penuh misteri.


             Myori hanya menggeleng-geleng kepalanya. Ia percaya Lee tak akan menculiknya.


             Alunan lagu-lagu syahdu mengiringi perjalanan keduanya, lagu-lagu yang sama ketika mereka pergi menuju Kyoto.


             Lembayung senja terlukis dengan indah di atasnya langit biru berlapis awan tipis. Sapuan kuas alam semakin jelas terlihat indah. Ternyata Lee membawa Myori menuju Takasu Seaside Park di Urayasu, kawasan pantai indah dekat dengan Tokyo Disneyland. Pemandangan laut biru lepas tersaji sejauh mata memandang, sungguh terlihat sangat menawan. Burung-burung camar berterbangan di bawah langit senja, di atas lautan nan biru. Lee memarkirkan mobilnya. Kemudian keduanya turun, menghirup udara segar, merasakan angin musim dingin yang sebentar lagi tiba.


             Lee duduk di sebuah kursi taman. Ia tampak menikmati pemandangan yang tersaji di depannya, pandangannya jauh selepas lautan. Myori duduk di sampingnya, ia memandang Lee. Lee kemudian tersenyum padanya, membuatnya terkejut.


             “Myori! Mungkin kau sudah mendengar berita ini dari Ryu, benar bukan?”


             “Ya! Jadi berita itu benar? Bahwa kalian akan pindah ke Seoul?”


             Lee mengangguk. “Keputusan itu sudah kuambil. Sudah kupikirkan matang-matang bahwa kami harus pindah kesana segera. Aku tahu ini memang berat. Ryu sangat menyayangimu sebagaimana kakak kandungnya sendiri. Tetapi aku tak bisa meninggalkannya sendirian disini. Aku tak ingin menyusahkanmu lagi. Aku bertanggung jawab untuk menjaga adikku sendiri, aku sudah berjanji pada kedua orangtuaku.”


             Myori terdiam.


             “Karirku baru saja naik. Aku membutuhkan orang-orang hebat di belakangku untuk mendukungku, meskipun aku tahu, suatu saat nanti aku akan meninggalkan karirku ini dan kembali pada kehidupanku yang biasa. Aku membutuhkan Ryu disampingku. Dan aku….”


             Kata-kata Lee terhenti, sepertinya ia sejenak memikirkan kata-kata itu.


             Lee menghela nafasnya. Ia tertunduk kemudian memandang Myori lekat.


             “Dan aku membutuhkanmu, Myori!”


             Myori terkejut, tubuhnya berdesir. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan Lee.


             “Apa maksudmu, Lee?”


             “Myori, kau ingat perkataanku di taman malam itu? Bahwa pasti akan ada yang terluka dengan perasaanku yang sebenarnya, dan aku tahu kaulah yang akan terluka. Tapi, maukah kau menyimpan rasa luka itu untukku? Agar suatu hari aku bisa menyembuhkannya untukmu.”


             Myori tertunduk. “Myori, bukan hanya dirimu saja yang terluka, tapi aku juga!” Lee menambahkan kata-katanya. “Karena keputusanku, akhirnya aku, kau, dan Ryu harus menjadi korban atas tindakanku ini. Tapi inilah jalan yang harus kuambil! Mungkin aku tak bisa menjelaskannya sekarang. Kuharap kau mengerti!”


             Mata Myori mulai berkaca-kaca, dan sedikit demi sedikit butiran-butiran air matanya menetes membasahi pipinya. Ia tak tahu harus berkata apa.


             “Myori! Aku hanya minta padamu satu hal. Maukah kau tetap menyimpan luka itu agar suatu hari aku bisa menyembuhkannya untukmu?”


             Myori lama sekali terdiam, sebelum akhirnya ia berkata.


             “Lee…! Apa yang akan kau beri sebagai jaminan bahwa kau akan menyembuhkan luka yang kau goreskan suatu hari nanti?”


             DUG! Lee terhenyak atas pertanyaan Myori. Ia tahu tidak ada yang bisa ia berikan untuk jaminannya, kecuali hatinya.


             “Aku tahu, ini sulit! Tapi kau bisa mempercayai hatiku. Hatiku adalah jaminan semua itu, dan kepercayaanmu adalah kuncinya!”


             “Aku tak bisa menerimanya, Lee! Aku…, maafkan aku!”


             Mata Lee berkaca-kaca mendengar jawaban Myori. Ia tahu, luka yang terdapat pada hati Myori akan semakin terasa sakit jika ia melakukan itu semua. Lee menghela nafasnya.


             “Lee…! Maafkan aku! Aku mungkin tak dapat menahan rasa itu dan aku tak ingin kita terluka terlalu dalam. Meskipun aku tahu, kita sama-sama terluka hari ini. Tapi percayalah, Lee! Jalan yang akan kita pilih, akan membawa kita pada yang terbaik!” kata Myori berusaha meyakinkan Lee dan dirinya.


             Matahari di ufuk barat telah tenggelam, tapi masih menyisakan berkas-berkas sinarnya. Begitu pun kedua hati yang sedang termenung ke dalam bayangan masing-masing. Keduanya tenggelam ke dalam perasaan masing-masing yang semakin dalam, tak ada yang dapat menyelamatkan kecuali mereka sendiri.


             Lee mengantarkan Myori pulang menuju rumah gadis itu di Shinagawa. Malam itu terasa hening dan dingin. Mobil Lee berhenti tepat di depan rumah Myori.


             “Myori…! Maafkan aku, mungkin aku tadi sudah memaksamu. Kau benar! Mungkin jalan yang akan kita pilih sekarang ini, akan membawa kita kepada takdir masing-masing.”


             Myori terdiam. “Aku akan melepaskanmu. Meskipun aku sudah membuat luka di hatimu, tapi kuharap luka itu bisa sembuh dengan sendirinya. Atau…, aku berharap ada seseorang yang lain yang bisa membuatmu melupakan luka itu.”


             Hati Myori berdegup kencang, hatinya sakit, sakit sekali mendengar perkataan Lee tadi. Tapi Lee benar. Ia tidak bisa terus menunggu Lee tanpa kepastian. Air mata Myori kembali menetes.


             “Myori…! Maafkan aku!”


             “Maafkan aku juga, Lee!”


             “Besok sore, kami akan langsung berangkat ke Seoul. Aku harap kau bisa mengantarkan kami sampai bandara. Ryu akan sangat mengharapkan kedatanganmu di hari terakhirnya di Tokyo.”


             “Jadi, kalian akan berangkat secepat itu?”


             “Ya, kami tak punya waktu banyak di sini!”


             “Baiklah, aku akan datang!”


             “Terima kasih, Myori. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini pada Ryu. Aku tak akan pernah melupakan itu.”


             “Baiklah, Lee. Sampai jumpa esok hari. Selamat malam!”


             “Selamat malam!”


             Keduanya berpisah malam itu, menyisakan luka mendalam pada hati masing-masing. Namun, mereka yakin yang terbaik akan datang setelahnya.


***