
“Sekarang, giliranmu bercerita tentang kau dan Kazuo?”
Myori tampak enggan bercerita, hanya Lee telah menceritakan hidupnya, tidak ada salahnya kali ini gilirannya untuk memberitahunya juga, bukan?!
“Umm....kau mengenalnya bukan?”
“Kazuo? Tentu saja, sangat mengenalnya!”
“Baiklah! Ia adalah teman baikku sejak kecil. Lamarannya padaku sangat mengejutkanku, apalagi saat itu kami baru saja bertemu kembali. Tetapi perasaan cinta dan kebaikannya lah yang membuatku yakin. Meskipun pada saat itu, aku tak pernah memiliki perasaan padanya. Aku...ya kau mungkin tahu! Semuanya terasa berjalan sangat cepat setelah kami pindah ke Paris.
"Dan aku benar-benar mencintainya, terutama ketika aku mengandung Ryuzaki. Aku tak ingin kehilangan waktu bersama dengannya. Namun, karena pekerjaannya disini dan Seoul akhirnya yang memisahkan waktu di antara kami. Aku selalu merindukannya, aku selalu berharap dia memiliki waktu lebih untuk kami berdua. Tapi ternyata tidak. Hanya saja, ia selalu membayar waktunya untukku ketika pulang. Aku benar-benar tak menginginkannya pergi. Namun, Tuhan berkehendak lain.
"Sore itu, Kazuo menerima telepon dari kantornya. Ada pembatalan kontrak sponsor di perusahaan kami. Mendadak ia harus pergi malam itu juga, padahal aku khawatir malam itu aku akan melahirkan. Aku mengkhawatirkannya, aku tak mau ia berada jauh saat aku melahirkan. Dan benar, aku melahirkan malam itu. Aku melihat bayiku, tapi aku tidak melihat Kazuo di sampingku. Tiba-tiba aku dibawa ke sebuah ruangan dimana aku terkejut melihatnya terbaring lemah dengan penuh luka, dia sadar dan tetap tersenyum menenangkanku. Ia mengalami kecelakaan beberapa kilometer dari rumah sakit.
"Aku terus menangis histeris. Ia berusaha menenangkanku dalam keadaan daruratnya. Ia menciumi bayi kami dan menamainya. Aku tak sanggup melihatnya, aku terus menangis histeris terutama ketika ia telah berpesan padaku agar aku bisa merawat Ryuzaki meskipun tanpa dirinya, dan ia juga memintaku untuk....”
Myori menyadari sesuatu. Sebuah kilatan akan permintaan Kazuo padanya. Myori berhenti pada kata-katanya. Sedangkan Lee memandangnya penuh tanya.
“dan ia memintaku untuk kuat menjalani hidup bersama Ryuzaki.” Lanjut Myori, menyembunyikan apa yang sebenarnya Kazuo minta.
Air mata Myori mulai membasahi pipinya. “Lalu, ia meninggalkan kami selamanya, tepat di hari kelahiran anak pertamanya....”
Myori terdiam dari ceritanya. Sepertinya ia tak sanggup menceritakan kejadian itu. Sementara itu, Lee terus menatap wanita yang ada dihadapannya, ikut merasakan kepergian Kazuo yang seharusnya menjadi hari bahagia pasangan itu. Lee dapat merasakan benar perasaan Myori. Air mata Myori terus membasahi pipinya. Lee memberikannya sehelai tisu untuk membasuhnya.
“Maafkan aku, membuatmu bercerita itu semua!”
“Tak apa, Lee!” kata Myori yang kembali menormalkan nada bicaranya dan menghentikan air matanya. “Aku berniat membesarkan Ryuzaki di Paris. Hanya saja aku tak tahu kalau Kazuo telah membuatkanku rumah di sini. Rumah yang indah sekali! Ia pandai sekali mencarikan arsitek untu membangun rumah itu. Aku berjanji akan membesarkan Ryuzaki dengan baik dan juga meneruskan perusahaannya yang ada disini. Hanya saja.... aku tidak tahu apakah aku bisa memenuhi permintaan Kazuo yang terakhir atau tidak.”
“Permintaan terakhir?”
“Oh, tak apa. Tak usah dihiraukan.”
Keduanya terdiam merenungi apa yang telah terjadi pada masing-masing kehidupan mereka. Tiba-tiba Ryu datang sambil menggendong Ryuzaki dan memberikannya pada Myori.
“Kau kenapa, Ryu?” tanya Lee melihat ekspresi adiknya yang meringis.
“Aduuuh...! Aku sakit perut! Ryu nanti kita main lagi ya?” kata Ryu sambil berlari ke arah toilet. Myori mengambil anaknya. Ryuzaki terlihat i
“Ada-ada saja! Hei, bolehkah aku menggendongnya?” pinta Lee pada Myori.
“Tentu saja!”
“Hai Ryuzaki! Kau mau bermain denganku?” tanya Lee penuh canda.
Ryuzaki tertawa sungguh menggemaskan. Tampaknya ia tak asing dengan Lee, Ryuzaki tampak akrab sekali dengan Lee. Lee menggendongnya dengan posisi bagai pesawat terbang. Ia berputar-putar membawa seorang anak laki-laki menggemaskan. Ryuzaki terlihat sangat riang dan senang. Myori tersenyum bahagia melihatnya. Ia kembali teringat pada permintaan Kazuo terakhir. Namun ia belum yakin. Ia hanya akan menunggu waktu yang tepat.
“Apakah dia sudah bisa berbicara?”
“Sedikit. Dia hanya lancar untuk berbicara ‘Ma’!”
“Ah begitu ya!” kata Lee sambil memberikan Ryuzaki pada Myori. Lee kelelahan. Namun tampaknya, Ryuzaki terlihat menyukai Lee, ia melepaskan diri dari pangkuan ibunya dan berjalan pada Lee, anak itu tampak mengucapkan sesuatu.
“Pa.....pa....!” katanya mengejutkan dua orang dewasa yang ada di hadapannya. Lee dan Myori saling berpandangan. Kedua hati mereka berdegup kencang.
Ryuzaki tampak memberikan kode bahwa ia ingin kembali digendong oleh Lee seperti tadi. Lee kembali menggendongnya dan membuat Ryuzaki kembali riang. Lee tersenyum mengingat perkataan Ryuzaki, meskipun tak yakin apa yang anak itu katakan, tapi kata itu membuatnya bahagia sekali. Sedangkan Myori hanya tertunduk, malu tersipu-sipu.
***