Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 21



Ryu menggoyang-goyangkan tubuh Myori yang masih terlelap dari tidurnya. Matahari sudah bersinar terang pagi itu, masuk ke dalam kamar, menghangatkan tubuh yang tersorotinya. Myori menggosok-gosok matanya. “Ada apa Ryu?”


             “Myori-san, ayo kita berolahraga! Udaranya sangat segar sekali! Kak Lee dan Yamada sudah menunggu kita di luar!” kata Ryu bersemangat.


             “Hmm…baiklah! Aku bersiap-siap dulu!” katanya lemas sambil pergi menuju kamar mandi.


             Setelah selesai bersiap-siap, Myori dan Ryu pergi keluar. Sebelum akhirnya Nenek Aiko menyapa keduanya, “Minum dulu ocha kalian, makanlah kue mantau ini untuk menambah semangat kalian!” kata Nenek Aiko. Myori dan Ryu menurut apa yang diperintahkan oleh Nenek Aiko. Ah… sungguh nikmat sekali memakan roti mantau dan meminum teh di pagi yang segar itu. Kemudian, mereka menyusul Lee dan Yamada yang sedang melakukan pemanasan di halaman. Myori dan Ryu ikut melakukan olahraga pemanasan yang dipandu oleh Lee. Setelah selesai, barulah mereka pergi berjogging mengelilingi hutan sekitar danau.


             Udara begitu sejuk dan segar untuk dihirup, pas sekali ditambah dengan sinar matahari pagi yang hangat, membuat tubuh semakin bersemangat untuk berolahraga. Lee, Myori, Ryu, dan Yamada pergi berlari-lari kecil bersama mengitari hutan. Ranting-ranting kering pohon maple yang berserakan di atas tanah membuat mereka harus berhati-hati dalam melangkah, karena tak jarang ranting-ranting yang ukurannya cukup besar menghalangi jalan. Bahkan ranting-ranting yang jatuh itu tak terlihat saking warnanya yang sama dengan warna tanah, cokelat dan gelap. Daun-daun yang mulai berserakan pun ikut menyembunyikannya. Akibatnya, Myori terjungkal, kakinya menginjak salah satu ranting besar yang tak dilihatnya. Nyeri dan linu sangat terasa di engsel pergelangan kakinya. Myori meringis kesakitan. Ia terduduk di atas tanah sambil menahan rasa linu di kakinya. Sementara yang lain tak sempat melihat keadaan Myori yang berlari paling belakang, kecuali Lee yang sedang membetulkan tali sepatunya. Lee menoleh ke belakang, seketika ia berlari menghampiri Myori yang terlihat sedang memegang kakinya yang kesakitan.


             “Myori, kau kenapa?!” tanya Lee khawatir.


             “Aku hanya terjatuh!”


             “Kau tak apa? Coba kulihat kakimu!” Lee memeriksa kaki Myori yang terlihat kemerahan. “Kau menginjak ranting ini ya? Sebaiknya kita pulang!” Lee membantu Myori untuk berdiri yang masih menahan rasa sakitnya.


             “Ryu, Yamada! Ayo pulang, Myori terjatuh!” teriak Lee pada Ryu dan Yamada yang masih berlari tak jauh dari mereka. Ryu terkejut dan segera berlari menghampiri kakaknya dan Myori, disusul oleh Yamada. Ryu tampak cemas melihat keadaan Myori.


             “Aku baik-baik saja, Ryu! Hanya sedikit linu!” kata Myori berusaha menenangkan Ryu.


             Lee membopong tubuh Myori, membantunya untuk berjalan. Ryu ikut membantunya di sampingnya. Hanya saja, rasa nyeri yang dirasakan oleh Myori terlalu sakit ketika ia berjalan, sehingga ia berteriak.


             “Sebaiknya kak Lee menggendong Myori saja! Aku khawatir kalau kaki Myori-san semakin parah jika berjalan!” saran Ryu. Lee menawarkan Myori untuk menggendongnya. Myori ragu untuk menjawabnya, tapi ia memang tak sanggup untuk berjalan, apalagi rumah pondokan cukup jauh dari tempat mereka sekarang ini.


             “Maaf, aku merepotkanmu, Lee!” kata Myori menyesal.


             “Tak apa! Tak usah sungkan! Aku tidak tega melihatmu berjalan sambil meringis kesakitan.” Kata Lee khawatir.


             Myori tersenyum malu. Lee pun menggendong Myori di punggungnya yang terasa kekar dan kuat. Tangan Myori melingkar di leher Lee.  Jantung Myori berdegup kencang. Ia khawatir Lee akan merasakan degup jantungnya yang berdetak sangat kencang.


             Lee tersenyum sendiri, pandangannya mengarah ke langit yang biru. Ryu tampak curiga melihat ekspresi kakaknya itu. Sementara Myori hanya terdiam menunduk, merasakan kegugupan yang luar biasa mengalahkan rasa sakit di kakinya. Kemudian mereka semua berjalan menuju rumah pondokan.


             “Myori tersandung, Nek!” kata Lee sambil mendudukkan Myori di sofa. “Coba Nenek lihat lukanya!” dengan cekatan nenek memeriksa luka dalam Myori. “Mungkin pergelangannya sedikit bergeser, kita perlu memijit dan mengurutnya sebentar! Kau akan baik-baik saja, Myori!” kata nenek yang langsung pergi ke dalam kamar tidurnya mengambil sesuatu.


             “Lee! Tolong ambilkan air hangat dan handuk!” perintah nenek. Lee langsung bergegas mengambil apa yang diperintahkan oleh nenek dan kembali dalam beberapa menit saja. Nenek mencelupkan handuk itu ke dalam air hangat dan memerasnya, kemudian menempelkannya di kaki Myori yang terluka. Kemudian, nenek mengeluarkan sebuah minyak beraroma hangat dan wangi rempah-rempah, ia mengoleskannya di kaki Myori dan mulai memijitnya secara perlahan.


             Myori mulai berteriak kesakitan ketika nenek mengurut kakinya. Ryu dan Lee khawatir melihat keadaan Myori yang sedang berteriak menahan rasa linu di kakinya, tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Beberapa menit kemudian nenek sudah selesai mengurut kaki Myori, “Sudah selesai! Istirahatlah, baringkan badanmu dan luruskan kakimu! Lee antar Myori ke dalam kamarnya!”


             “Terima kasih banyak, Nek!” kata Myori.


             “Ya, sama-sama! Kau akan sembuh cepat!”


             Myori pamit kepada nenek untuk masuk ke dalam kamarnya. Lee kembali menggendong Myori dan mengantarkannya ke dalam kamar Myori.


             “Kau tidak apa-apa?” tanya Lee kembali.


             Myori tersenyum. “Aku sudah merasa lebih baik sekarang.” Jawabnya


             “Baiklah kalau begitu! Aku pamit dulu! Kalau ada apa-apa, panggil saja diriku!”


             Myori mengangguk, “Lee!” panggil Myori sebelum Lee keluar dari kamarnya.


             “Ya?!”


             “Terima kasih banyak!” ucap Myori.


             “Sama-sama!” jawab Lee sambil pamit keluar.


             Myori menghela nafas, mengapa aku mengacaukan acara pagi ini? Ia mengambil novel dari dalam tasnya dan kembali membacanya, ia berharap luka dalam di kakinya akan segera membaik.


***