Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 7



Matahari pagi bersinar hangat menyinari Tokyo yang selalu menjadi kota yang sibuk. Udara musim gugur mulai terasa dingin membelai tubuh. Myori mengenakan sweater beludru kelabunya, syal oranyenya melingkar di leher. Seperti biasa, ia selalu terlihat sederhana tetapi tetap terlihat cantik dan berwibawa.


             Tadi malam, ia tidak sempat memeriksa tugas karangan murid-muridnya karena terlalu kelelahan. Mungkin ia akan memeriksanya besok atau nanti malam saja. Untuk hari ini, ia telah menyiapkan tugas lainnya untuk murid-muridnya nanti ketika jam pelajaran. Seperti biasa, pagi-pagi, Myori telah berangkat menuju stasiun untuk menuju sekolah tempatnya mengajar. Baginya mengajar adalah tugas mulia, karena mereka harus mendidik dan mengajari anak-anak yang nantinya akan menjadi penerus bangsa. Anak-anak itu yang akan membawa perubahan pada negara. Oleh karena itu, sudah sewajibnya, seorang guru harus mendidik murid-muridnya dengan baik.


             Bel telah berbunyi, Myori sedikit lebih cepat masuk ke dalam kelasnya untuk mengajar. Dilihatnya bangku di pojok dekat jendela, masih kosong. Ternyata Ryu terlambat lagi hari ini. Ia akan memakluminya lagi. Bukannya pilih kasih, hanya saja karena ia baru terlambat kemarin dan pagi ini. Tapi pasti, sebagai gurunya, Myori akan memberi peringatan kembali agar murid-muridnya tak terlambat.


             Pintu kelas terbuka dengan keras. Untuk yang kedua kalinya, Ryu terlambat. Kali ini ia terlambat 30 menit. Mengapa bisa lama sekali? Myori yang sedang menuliskan soal-soal di papan tulis terkejut.


             “Maafkan aku, Bu guru! Aku terlambat lagi! Aku janji besok tak akan terlambat! Tapi kumohon izinkan aku masuk!”


             Myori memandangi kasihan anak yang masih bernafas terengah-engah itu. Kemudian anak lainnya mulai ribut, agar Ryu dihukum terlebih dahulu. Myori berpikir sejenak. Ryu telah melewati batas waktu untuk masuk kelas. Murid-murid lainnya masih ribut bersorak-sorak agar Ryu dihukum terlebih dahulu. Jika memang itu baik bagi Ryu, maka Myori menuruti murid-muridnya.


             “Ryu! Mengapa kamu terlambat lagi? Dan sekarang kamu terlambat 30 menit, ini sudah jauh dari batas masuk ke kelas. Boleh ibu minta tugas matematikamu yang ibu beri kemarin?” tanya Myori tegas.


             “Baiklah, sekarang ibu akan memberikan hukuman untukmu yang terlambat. Silakan kamu tunggu di luar sampai jam pelajaran ini berakhir kemudian untuk pelajaran yang selanjutnya, barulah kamu boleh masuk!”


             Ekspresi wajah Ryu terlihat kecewa sekali dan berusaha memohon agar ia bisa mengikuti pelajaran pertama itu. Ia tertunduk kemudian membalikkan badannya.


             “Tunggu dulu Ryu, sama seperti yang lainnya, ada tugas yang harus kamu selesaikan dan kumpulkan setelah jam pelajaran ini berakhir. Kerjakan soal-soal yang ada di buku ini, 20 nomor saja!” kata Myori.


             “Baik Bu guru!” katanya kecewa. Kemudian ia menutup pintu dengan lemas dan terduduk di luar kelas dekat pintu. Ia mengeluarkan alat-alat tulisnya dan berusaha berkonsentrasi untuk mengerjakan soal-soal yang baru saja diberikan oleh gurunya itu. Ryu menyemangati dirinya sendiri, sambil mengangguk mantap. Ganbatte! Hwaiting! I can do this!!!  Ia mulai mengerjakan soal-soal itu dengan yakin.


***