Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 15



Hujan masih mengguyuri kota, tapi tak terlalu deras. Meskipun begitu akan tetap basah kuyup jika memaksakan berlari di bawahnya. Lee dan Ryu bersiap-siap untuk berlari menuju mobilnya, sedangkan Myori mungkin akan menunggu hujan sampai benar-benar reda. Ia menyesal tak mendengar perkataan ibunya. Ryu telah membuka payungnya sejak tadi, dan Lee siap menggendongnya di punggungnya. Sebelum pergi, Lee menawarkan Myori untuk mengantarnya pulang. Namun Myori menolaknya dengan alasan rumahnya tak terlalu jauh dari taman. Akhirnya Lee dan Ryu berpamitan padanya, kemudian Lee berjalan dengan langkah segera menuju mobil dipayungi kecil oleh Ryu yang digendong di punggungnya.


Sebelum itu, Lee memberikan jas biru tebalnya pada Myori untuk melindunginya dari hujan. Lee berharap jasnya bisa melindungi Myori dari derasnya hujan, sehingga Myori tak harus basah kuyup ketika pulang ke rumahnya. Myori terus mendekap jas pemberian Lee sambil memperhatikan keduanya pergi melaju dengan mobil. Mobil Lee telah melaju meninggalkannya sendirian di taman.


Myori mencium wangi jas itu, sangat khas sekali wangi parfum milik Lee. Myori tersenyum sendiri. Mungkinkah ia telah jatuh cinta pada Lee? Kemudian, Myori berlari pulang menuju rumahnya di bawah derasnya hujan musim gugur. Langkah-langkahnya menapaki jalanan basah yang dipenuhi dedaunan berserakan. Ia terus berlari dengan jas milik Lee melindungi kepalanya. Ia berusaha lari sekencang mungkin agar jas itu tak terlalu basah kuyup. Setibanya di rumah, nafasnya terengah-engah, celananya basah terciprat air hujan ketika berlari.


Ibu sudah menunggu Myori di pintu ketika ia tiba, sambil berkacak pinggang. Myori tersenyum dengan menyesal karena tak mendengar kata-kata ibunya. Myori langsung berlari menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Jas milik Lee dipandanginya dan dicium wanginya, ia harus mencucinya. Ia memeriksa kantung jas itu. Kemudian, ia menemukan sesuatu di salah satu sakunya, sebuah kertas terlipat dengan tulisan di dalamnya. Myori takut untuk membukanya, ia khawatir itu adalah rahasia milik Lee. Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa takut itu. Myori membukanya dengan perlahan dan hati-hati dan penasaran. Ada beberapa bagian kertas yang basah, dan tintanya yang berwarna hitam luntur terkena air hujan. Kemudian, ia membacanya, tulisannya berbahasa Inggris, ia berusaha memahaminya;


‘I found it in the eyes; I knew that would be mine someday…


but I didn’t know when…


Maybe it was only the time, but I could see that…


I promised myself…I would be waiting for that…


Until the time was right…


I could see that in my eyes…


Although I just found that….


I felt like a leaf fell from the tree…


This used to be followed where the wind blew….


I wished someday that would be mine…


And I would try to find that wherever it went…’


 


*Tokyo, September 18th 20**


By Choi Lee Joon*


 


Myori terkesima dengan kata-katanya yang indah. Tapi ia tak tahu maksud dari kata-kata itu untuk siapa. Myori bertanya-tanya dalam hatinya, apakah ini sebuah puisi? Ataukah sebuah rancangan lirik lagu miliknya? Atau? Pertanyaan berputar mengelilingi pikirannya, haruskah ia berikan pada Lee atau tetap menyimpannya sampai Lee benar-benar menanyakannya? Mungkin Myori harus memilih untuk tetap menyimpannya sampai Lee memintanya untuk mengembalikannya. Kertas itu disimpannya dengan baik dalam buku diarinya berharap Lee tak pernah memintanya kembali.


***