
Pagi itu, keluarga Fujikawa dan juga Kazuo mengunjungi Taman Koishikawa Korakuen di Bunkyo-ku. Mobil telah penuh terparkir di halaman parkir dekat taman itu. Ternyata sudah banyak keluarga yang piknik sepagi itu. Aroma bunga ceri atau sakura telah tercium di luar halaman taman. Kazuo membantu ibu membawakan keranjang berisi makanan. Begitu pula dengan anggota keluarga yang lainnya yang membawa jinjingan masing-masing.
Suasana taman itu begitu indah. Memang tak semua ditanami pohon sakura, tapi warna merah muda mendominasi taman itu. Hampir semua keluarga yang berkunjung telah menempati tempat di bawah pohon sakura. Ayah dan Kazuo mencarikan tempat untuk mereka tempati. Akhirnya, mereka menemukan sebuah tempat cocok yang tepat. Tepat di bawah teduhnya pohon sakura dan tepat di tepi sungai kecil, sungguh cocok sekali bagi keluarga yang ingin berkumpul.
Mikimoto dan ayah menghamparkan sebuah tikar bambu di bawah pohon itu sebagai alas duduk mereka. Kemudian, Myori dan Ai meletakkan keranjang-keranjang yang mereka bawa. Sementara ibu mempersiapkan hidangan yang sudah dibawanya. Menu festival ohanami yang dimasak ibu sungguh istimewa, ada berbagai jenis sushi, onigiri, tempura, sashimi, kue apem, dan roti mantau. Ada juga buah tangerine, apel, dan anggur. Selain itu ibu juga membawa sake untuk diminum ayah, dan beberapa jus kaleng untuk yang lain.
Kazuo berjalan-jalan sendirian menikmati suasana itu. Ia teringat ke masa lalunya tepat 16 tahun yang lalu, di tempat yang sama. Ia beberapa kali mengambil gambar pemandangan di sekitar taman dan juga suasana keluarga Fujikawa yang sedang menyantap makanan. Ia tersenyum bahagia.
“Kazuo, ayo makan bersama!” ajak ibu melihat Kazuo yang masih berdiri.
“Terima kasih, Bibi!”
Kazuo sangat menikmati suasana pagi itu bersama keluarga Fujikawa, keluarga yang sangat jauh berbeda dengan keluarganya. Dulu, keluarga Han memang sama seperti keluarga Fujikawa yang hidup dalam kesederhanaan, tapi sekarang kekayaan keluarganya telah menghilangkan suasana akrab seperti ini. Itulah yang selalu Kazuo rindukan dari keluarga Fujikawa.
Angin pagi bertiup sepoi-sepoi, menerbangkan beberapa kuntum sakura yang tak kuat menahan rayuan angin. Beberapa helai mahkotanya terjatuh di atas aliran sungai kecil yang mengalir tenang mengikuti arus. Kazuo melihat pemandangan itu, ingatannya kembali ke masa lalu.
Kazuo mengajak Myori berjalan-jalan sekitar taman. Mereka sedikit menaiki bukit, disanalah terdapat sebuah pohon sakura yang lebih besar dari yang lainnya. Tak ada siapa pun yang menempati tempat indah itu. Di sisi sungai terdapat sebuah batu besar, yang kemudian mereka duduk di atasnya. Kazuo menarik nafasnya dalam-dalam, matanya terpejam, kemudian tersenyum.
“Myori!”
“Kau masih ingat ketika kita menulis impian-impian kita di sini 16 tahun yang lalu?”
Myori mencoba mengingat hal itu.
“Kemudian kita membuat perahu kertas dan membuatnya berlayar di sungai ini. Kau masih ingat?”
“Ya! Aku ingat itu.”
“Apakah kau ingat, kau menulis apa?”
Myori tersenyum. “Tentu saja, aku ingat!”
“Aku juga. Aku harap, impianku itu bisa menjadi kenyataan. Aku masih sangat mengharapkannya.”
“Semoga saja.” Kata Myori. Keduanya terdiam menikmati suasana itu, pikiran mereka menembus waktu ke masa lalu. Kini anak-anak itu sudah dewasa, tapi harapan itu masih sama dengan yang dulu. Berharap impian itu menjadi kenyataan dalam kehidupan mereka karena masa depan mereka yang masih panjang. Entah kapan kehidupan mereka akan berakhir sama seperti kapal yang mereka layarkan, tapi harapan itu akan selalu ada dalam hati-hati mereka.
***