
Malam memang sudah larut, tetapi Myori sama sekali tak bisa larut dalam tidurnya, karena ia baru saja terbangun dari tidurnya sejam yang lalu. Sementara itu, Ryu juga masih asik bermain dengan Yamada di ruang keluarga. Myori membuka jendela kamar. Ia menemukan pemandangan indah dari kamar inapnya. Sinar bulan terlihat sangat terang di atas langit malam yang gelap, cahayanya pun masuk ke dalam kamar Myori. Dari situ juga, terlihat pemandangan danau yang indah memantulkan sinar bulan, terlihat berkilauan seperti permata. Myori merasa kedamaian berada di tempat ini dengan suasana ini. Tetapi hatinya merasakan kegelisahan akan sesuatu yang lain, yang ia lihat dari jauh.
Sosok Lee sedang berdiri di atas sebuah dermaga di tepi danau. Myori tak tahu apakah ia benar-benar menyukai Lee, pria yang baru ditemuinya beberapa minggu lalu. Myori hanya memandangi sosok itu dari jauh, berharap dapat meraih tubuhnya dan merangkulnya di dalam suasana dingin seperti malam ini. Myori menghela nafas. Ia menutup jendela kamarnya. Berusaha memejamkan matanya untuk tertidur lelap, ia menyesal telah memenuhi undangan darinya. Padahal jika tidak, mungkin benih dalam hatinya tidak akan tumbuh karena tersiram oleh dirinya. Mengapa aku berada di dalam situasi sulit seperti ini?
***
Malam berikutnya, Myori dan Ryu membantu Nenek Aiko mempersiapkan perayaan tsukimi, yaitu festival yang biasa dirayakan oleh keluarga untuk melihat bulan bersama. Sinar bulan malam itu adalah pemandangan malam terindah yang terjadi di musim gugur. Myori membawa beberapa piring kue mochi dan dango. Sementara nenek sedang mempersiapkan ocha panas buatan tangannya. Beberapa hidangan berat lainnya sudah tersaji di atas meja pendek khas Jepang.
Udara malam itu begitu dingin dan sejuk, menandakan bahwa memang musim gugur sudah tiba. Sinar bulan terpantul dengan indahnya di atas permukaan danau yang tenang, seolah-olah ia sedang bercermin malam itu. Malam memang sudah cukup larut, tapi acara keluarga itu baru saja berlangsung.
“Semoga tahun depan kita masih bisa merayakan malam indah ini!” harap Nenek.
“Dan semoga tahun depan juga, kita bisa berkumpul seperti ini lagi!” lanjut Lee.
“Itadakimasu!” teriak Ryu. Ia langsung meraih kue dango yang dari tadi ia tunggu. Myori menyeruput ocha-nya yang hangat. Perasaannya sungguh damai malam itu, apalagi bisa berkumpul bersama dengan sebuah keluarga yang baru saja ia kenal. Semuanya menikmati malam itu dengan perasaan bahagianya masing-masing.
Setelah menghabiskan hidangan yang tersaji, semuanya kembali membantu nenek untuk membereskan piring-piring. Pintu menuju halaman belakang masih terbuka lebar, Myori menghampirinya untuk menutupnya. Tetapi ternyata, Lee masih berada di sana, pandangannya tertuju pada bulan di atasnya, seperti sedang mengharapkan sesuatu. Lee melihat ke arah belakangnya, dimana Myori sedang berdiri di sana.
“Kau belum tidur?” tanya Myori ragu.
“Belum. Sayang jika aku melewatkan malam indah ini dengan tidur lebih cepat!” jawab Lee, sambil kembali memandangi rembulan.
“Ya, memang. Pemandangan ini hanya dapat kita saksikan satu tahun sekali!”
“Kau sendiri belum tidur?”
“Tadinya, aku akan menutup pintu ini. Tapi aku lihat kau sedang berdiri di sini.”
“Mungkin aku akan berjalan-jalan sebentar ke danau. Pemandangan di sana pasti jauh lebih cantik! Kau mau ikut?”
“Umm… boleh!”
Kemudian keduanya berjalan menuju danau yang terletak tidak jauh dari halaman belakang rumah itu, meskipun keduanya harus melewati hutan kecil dan sebuah jembatan tua untuk menuju danau. Myori sebenarnya agak takut malam itu, tapi ia percaya Lee akan menjaganya dengan baik. Myori dengan hati-hati melangkah di samping Lee.
“Kau takut?” tanya Lee di tengah-tengah hutan yang ditemani lampu remang-remang.
“Mmm…ya begitulah!” jawab Myori ragu.
“Kemarilah!”
Lee meraih tangan Myori dan mendekapnya dengan erat. Jujur saja, Myori sangat terkejut dibuatnya. Tetapi hal itu cukup membuat ketakutannya hilang dalam kegelapan. Tangan hangat dan ramah milik Lee, telah membuatnya nyaman tapi juga membuat jantungnya semakin kencang berdetak. Mereka masih terus berjalan menuju danau dimana pemandangan lepas akan terlihat sangat jelas.
Akhirnya mereka keluar dari hutan kecil itu dan danau yang bermandikan cahaya bulan sangat jelas terlihat, kilauan permata bercahaya di atas danau. Langit malam itu begitu terang dan begitu indah. Keduanya takjub dibuatnya hingga tak terasa kaki mereka telah menyentuh air danau.
“Myori!”
“Ya…?!”
“Apa yang kau rasakan?”
“Maksudmu?”
“Apa yang kau rasakan malam ini?”
Myori mengambi nafas panjang, ia memejamkan matanya. “Begitu tenang, rasanya aku tak pernah merasakan kedamaian seperti ini dimana pun. Tapi…”
“Tapi?” tanya Lee sambil memandang Myori yang duduk di sebelahnya.
“Tapi, aku juga… gugup!” katanya menunduk.
“Gugup?! Mengapa?”
“Entahlah, ada sesuatu yang tak bisa kumengerti!”
Lee tertawa kecil. “Berarti kau sama denganku!”
“Hah?” kali ini Myori yang terheran-heran tidak mengerti.
“Aku merasakan kedamaian malam ini, tapi di sisi lain, jantungku berdebar kencang. Apakah itu mungkin karenamu?” tanya Lee sambil menatap mata Myori.
Darah Myori berdesir. Jantungnya semakin berdegup kencang. Entah mengapa tiba-tiba cuaca menjadi semakin dingin rasanya. Myori menggosok-gosokan kedua tangannya. Ia berusaha mengencangkan sweaternya.
“Kau kedinginan? Maaf, aku sudah membawamu kemari!” kata Lee menyesal.
“Tidak apa!”
Kemudian keduanya terdiam sambil memandang kembali lukisan alam di hadapannya, tanpa meneruskan percakapan. Tersadar bahwa malam sudah semakin larut dan udara memang semakin dingin, keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah. Lee kembali menggenggam tangan Myori ketika melewati hutan itu, meskipun sebenarnya Lee ingin sekali mendekap tubuh Myori yang dari tadi merasakan kedinginan. Tapi ia tak berani, karena Myori bukanlah miliknya.
“Terima kasih, Lee!” kata Myori sebelum kembali ke dalam kamar tidurnya.
Lee mengangguk dan tersenyum.
Myori berbaring di atas kasurnya. Sejujurnya, hatinya belum reda dari kegugupan yang menimpanya. Ia kembali teringat pertanyaan Lee tadi, “Apakah mungkin itu karenamu?” Apakah Lee merasakan apa yang ia rasakan? Apakah ia memang memiliki sebuah perasaan untuk Lee? Myori berusaha menepisnya. Apakah aku salah ketika kuharus mencintainya? Sebuah pertanyaan itulah yang timbul di benak Myori, sebelum akhirnya ia terlelap dalam tidurnya.
***