Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 38



Myori memandangi suaminya dengan terheran-heran. Kazuo menghela nafas, ia tidak tahu apa yang sedang ia hadapi saat ini. Kontrak kerja sama dengan salah satu perusahaan besar di Perancis yang baru saja ditandatangani bulan lalu, tiba-tiba saja diminta untuk dibatalkan. Padahal proyek sudah mulai berjalan.


“Apa yang terjadi?” tanya Myori khawatir.


“Tidak apa-apa! Ada sesuatu yang harus kuselesaikan malam ini juga. Aku harus pergi ke kantor sekarang!” jawab Kazuo cemas.


“Kenapa tidak di sini saja? Bukankah bisa diselesaikan di sini?”


“Tidak, Myori! Semua berkas penting ada di meja kantorku. Aku harus kesana. Lagipula, orang-orang itu sudah menungguku di sana.” Kata Kazuo sambil bersiap-siap.


Myori tampak khawatir melihat suaminya yang cemas. Meskipun ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia berusaha menenangkan Kazuo. Sebenarnya, Myori tak mau melihat Kazuo berpergian malam ini, apalagi ia khawatir ia akan segera melahirnkan. Ia ingin Kazuo berada di sampingnya ketika ia melahirkan bayinya nanti.


“Oppa, bolehkah aku menemanimu?”


“Kau tunggu saja di sini ya?! Jika sesuatu terjadi, segera hubungi aku!”


Kazuo telah bersiap-siap dengan kemeja dan jasnya. Ia melihat ekspresi kekecewaan di wajah Myori. Ia sadar, Myori sangat tak ingin dirinya pergi. Tetapi mengingat perjuangan ayahnya untuk membesarkan perusahaan itu, ia harus segera menyelamatkannya. Kazuo memeluk Myori dalam dekapannya sesaat sebelum ia pergi.


“Myori, tenanglah! Kau akan tetap bisa melahirkan meskipun aku tak disampingmu! Tapi aku berjanji, aku akan datang untuk melihat bayi kita dan menciumnya untuk yang pertama kali! Aku mencintaimu dan juga bayi kita!” kata-kata Kazuo berusaha menenangkan hati Myori yang gelisah. Kazuo mencium kening dan perut Myori, seperti kebiasaannya sebelum berangkat kerja.


“Myori, istriku sayang.... aku, kau, dan bayi kita, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah! Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu, Myori!” kali ini Kazuo benar-benar meyakinkan Myori bahwa semuanya akan baik-baik saja sambil kembali mencium istrinya itu dengan banyak kecupan kasih sayang di pipi, kening, hidung, bibir, dan tak lupa kecupan kecil untuk sang bayi yang akan lahir. Myori tersenyum tipis. Kazuo pun pergi tanpa supirnya, ia khawatir Myori akan melahirkan malam ini, jadi ia tidak diantar oleh supir pribadinya untuk berjaga-jaga.


***


Malam telah menunjukkan pukul 10. Kazuo belum juga pulang. Myori berjalan-jalan dengan harap-harap cemas. Ia tak bisa tidur. Tiba-tiba, ia merasakan sakit di perutnya. Myori meringis kesakitan. Darah segar mengucur deras di kakinya. Supir dan pembantunya segera membawa Myori ke rumah sakit untuk melahirkan disana. Sang pembantu menghubungi Kazuo, berusaha memberitahu keadaan majikannya yang akan melahirkan.


Myori berteriak ketika berusaha mengeluarkan bayinya. Ia menahan kesakitan demi kebahagiaan dirinya dan Kazuo. Benar-benar sebuah perjuangan berat untuk mengeluarkan sang buah hati. Ibu Kazuo berdiri di samping Myori, berusaha menyemangati perjuangan Myori. Sementara itu, Kazuo baru saja selesai, ia telah menyetujui pembatalan kesepakatan itu daripada berdebat panjang dengan pemilik sponsor, demi menemui istrinya yang sedang berjuang melahirkan anak pertamanya.


Perasaan Kazuo benar-benar tidak karuan, semua perasaan bercampur dalam hatinya. Ia cemas, bahagia, dan gugup. Ia telah melupakan hal yang baru saja terjadi pada perusahaannya itu. Kazuo memacu mobil Ford-nya menuju rumah sakit. Ia sungguh tak sabar melihat buah hati kecilnya. Sehingga ia tak menyadari, bahwa mobilnya melaju sangat kencang.


BRAAAKKK!!! Mobil Kazuo m enabrak sebuah pohon besar. Kazuo berusaha menghindari sebuah bus yang juga melaju kencang di tikungan tak jauh dari rumah sakit dimana Myori sedang melahirkan. Mobil Kazuo rusak berat, dan Kazuo tak sadarkan diri. Darah segar mengucur dari dahinya.


Sementara itu, Myori telah berhasil melahirkan bayi pertamanya, seorang anak laki-laki. Tangisan bayinya memecah kesunyian malam itu. Myori merasakan kebahagiaan menjadi seorang ibu. Ia tersenyum pada orang-orang yang berada di sampingnya. Hanya, ada satu wajah yang tak dilihatnya. Dimana suamiku?


***