
Siang itu, waktu telah menunjukkan pukul 12. 30 waktu Tokyo. Saatnya makan siang untuk semua murid. Murid-murid kelas berlarian keluar menuju taman, hari pertama masuk sekolah ini sengaja para murid membawa bekalnya masing-masing. Mereka berjalan keluar menuju taman dan mencari tempat duduk untuk menikmati makan siang. Tidak hanya murid-murid yang membawa bekal, guru-guru pun membawa bekal mereka dalam kotak makanan.
Meskipun matahari bersinar dengan sinarnya yang terik di siang hari, murid-murid masih bersenang ria memakan bekalnya di taman-taman sekolah di bawah pohon maple yang masih berdaun hijau beralaskan tikar. Masing-masing guru setiap kelas mendampingi murid-muridnya sambil makan siang. Angin siang yang hangat berhembus menemani anak-anak yang riang itu makan o-bento nya. Macam-macam bekal yang dibawa oleh anak-anak itu, ada yang bekal onigiri, nori-maki, sashimi, sushi, dan tempura. Suasana siang itu begitu ceria dan cerah, anak-anak itu saling menukar bekal yang mereka bawa dengan teman-temannya. Begitu pula dengan guru-guru yang membawa bekal lebih untuk diberikan pada murid-muridnya.
Namun ada satu pemandangan yang janggal di tengah keceriaan anak-anak siang itu. Ada seorang anak perempuan menyendiri cukup jauh dari keramaian teman-teman sekelasnya yang lain. Ia tampak duduk di kursi taman seorang diri sambil membuka kotak makan siangnya dengan ekspresi wajah yang sedih. Banyak guru memperhatikan anak perempuan itu. Mereka pun bertanya murid kelas berapakah dia?
Akhirnya, Myori yang mengaku bahwa anak perempuan itu adalah muridnya, menghampiri sosok anak yang murung jauh dari keceriaan. Myori berjalan mendekatinya yang masih tertunduk melihat kotak makan siangnya tanpa memakannya. Rambut panjangnya yang tergerai tersibak oleh angin. Myori memandangnya dari belakang, penuh dengan tanda tanya di pikirannya. Ada apa dengan Ryu?
Myori menyapa Ryu dan mengajaknya bergabung dengan yang lainnya. Tetapi Ryu hanya diam saja sambil terus memandangi kotak makanannya.
“Ada apa denganmu, Ryu? Tak biasanya kau semurung ini. Ayo ceritakanlah pada gurumu ini!” kata Myori.
Bibir Ryu masih tertutup rapat, tapi matanya berkaca-kaca dan jatuh menetesi kotak makannya.
“Ryu! Kau baik-baik saja? Mengapa kau menangis?”
Ryu mengusap air mata di pipinya dengan seragamnya. Kemudian ia menampakkan senyuman pada Myori.
“Aku tidak apa-apa ibu guru! Aku hanya mengingat mendiang umma-ku!”
“Ryu, kalau kamu ada masalah, ceritakan saja padaku, mungkin aku bisa membantu!” kata Myori ramah.
“Terima kasih, Bu Guru!”
“Kalau kamu sudah baikan, bisakah kamu bergabung dengan yang lainnya? Kita akan makan siang bersama-sama! Jadi jangan menangis lagi ya?”
“Baik, Bu Guru!” kata Ryu semangat.
Myori menunutun anak itu menuju tempat dimana anak-anak lainnya yang sedang menikmati makan siangnya. Kemudian Ryu duduk di samping teman-temannya. Beberapa anak pergi dan duduk menjauh dari Ryu. Memang, ada beberapa anak perempuan yang tidak menyukai Ryu, tapi banyak pula yang menyukai Ryu. Hanya saja Ryu tak begitu terlalu terbuka kepada siapa pun, teman baiknya pun hanya ada satu, yaitu Yuki Minamoto, teman sebangkunya.
Yuki mendekati teman baiknya itu dan duduk di samping Ryu. Kemudian kedua sahabat itu saling berbagi bekal yang mereka bawa. Myori tersenyum memandangi kedua muridnya itu dengan hangat. Kini ekspresi wajah sedih Ryu telah berubah menjadi berseri-seri kembali seperti biasa.
Angin siang bertiup lembut, mulai menggugurkan daun-daun kering mengikuti kemana arah angin membawa. Suasana ceria terbawa oleh angin yang membawa terbang suara-suara tawa kecil di sudut kota Tokyo.
***