Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 43



“Apalagi?”


             “Apalagi, aku sudah melihatmu bahagia dengan keluarga barumu, dengan anakmu yang akan segera lahir.”


             Hati Myori berdegup.


             “Aku hanya ingin kehidupan normal, hidup bersama dengan orang-orang yang kucintai. Ingin kuhabiskan waktu bersama dengan Ryu, yang pada saat itu justru aku lebih sering meninggalkannya dibandingkan dengan ketika aku masih disini. Sesaat sebelum kuputuskan untuk mundur, Ryu terkena kecelakaan. Dokter mengatakan bahwa ia mengalami depresi ringan, oleh karenanya dia sangat sering melamun. Saat pulang sekolah, Ryu tertabrak sebuah mobil. Aku menyadari mungkin ini kesalahanku. Aku menyesal telah meninggalkan Ryu. Padahal keadaan Ryu lebih baik ketika ia sering bersamamu. Dan aku memisahkan kalian berdua dengan keputusan yang harus aku jalani. Aku memang tak bisa melakukan hal yang lain demi menyelesaikan masalah keluarga yang ditinggalkan oleh mendiang ayahku.”


             Lee tertunduk. Ada banyak raut penyesalan di wajahnya.


             “Jika kau tak keberatan untuk menjawab, masalah apa yang ayahmu tinggalkan?”


             “Aku tak keberatan, Myori! Aku harus menjelaskan ini semua. Masalah ini pula yang membuatku meninggalkanmu saat itu.”


             Myori terdiam, ia teringat ketika Lee menyatakan perasaannya malam itu, tetapi justru ia lebih memilih melukai perasaannya.


“Pada saat ayahku memutuskan untuk pindah kemari, ia telah memiliki rumah ini dan membangun perusahaannya disini. Akan tetapi, dibalik kepindahan kami kemari ternyata ada sebabnya. Ia meninggalkan banyak utang di Seoul. Perusahaan kami di Seoul mengalami kebangkrutan. Banyak klien perusahaan ayahku yang menagih utang. Akhirnya, ayah kabur dengan meninggalkan banyak utang disana dan juga membawa sisa keuntungan yang seharusnya untuk pembayaran pegawai.


"Keberadaan ayah di Tokyo tidak diketahui, karena ayah sering berpergian ke luar negeri untuk menghindari mereka. Namun, ternyata hal itu juga berlangsung di Tokyo. Ketika ibuku sedang hamil Ryu, perusahaan ayahku disini sudah mulai tercium mengalami kebangkrutan.  Dan benar saja, perusahaan kami pun bangkrut empat tahun kemudian. Ibu mengalami stress berat, ia meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya. Setelah itu, beban ayah semakin berat. Saat itu aku sudah remaja, aku tidak tahu bagaimana caranya menolong ayah.


"Siang itu, sepulang sekolah, aku mendapati kabar bahwa ayahku meninggal karena menjatuhkan diri dari sebuah hotel, tempat dimana ia biasanya menemui pacarnya. Aku sangat terpukul pada saat itu, hidupku hancur. Aku tak tahu bagaimana masa depanku bersama Ryu.”


Lee terhenti kemudian setelah cerita panjangnya. Myori menatap Lee. Lee tertunduk. Hingga kemudian ia melanjutkan ceritanya.


“Pamanku yang ada di Amerika, membiayai semua pendidikanku dan Ryu, hingga akhirnya aku lulus sarjana dan mulai mencari pekerjaan. Kami beruntung masih memiliki rumah ini bahkan sampai saat ini. Saat itu, aku bekerja perusahaan properti dan aku cukup sukses membangun karirku disana.


"Pada saat itu, ternyata klien-klien ayahku yang masih mencari keberadaan kami menemukan kami. Mereka menemukan nama keluargaku, keluarga Korea yang tinggal di Tokyo, ketika menjalin kerja sama dengan perusahaan dimana aku bekerja. Setelah mendapati bahwa aku memang benar anak dari Choi Woohyun, mereka langsung menuntut pertanggungjawabanku atas utang-utang ayahku. Aku meminta waktu cukup banyak kepada mereka, mereka pun mengabulkan permintaanku.


"Entah mengapa aku begitu yakin aku bisa sukses disana. Aku hanya mengikuti kata hatiku saja. Hatiku berkata melalui karirku yang baru ini, aku bisa menyelesaikan semuanya. Meskipun pada saat itu, aku harus membuatmu terluka. Dan semuanya telah berakhir lima bulan sebelum aku putuskan untuk berhenti dari karirku. Kehidupanku sudah jauh lebih baik sekarang.” Lee mengakhiri cerita panjangnya.


Myori tak menyangka beban hidup Lee seberat itu. Ia kagum pada Lee yang bisa berjuang menyelesaikan masalah dalam keluarganya, menyelamatkan masa depan dirinya dan Ryu. Mereka terdiam untuk beberapa saat.


“Apakah kau bahagia sekarang, Lee?”


Lee mengangguk mantap. “Meskipun masih ada yang kurang.”


“Apa itu?” tanya Myori penasaran.


“Ternyata aku pun masih memiliki utang pada seseorang.”


“Utang?”


             “Ya! Utangku padanya belum selesai!”


             Myori tak mengerti utang pada siapakah itu. Namun ia berharap ia bisa membantu Lee saat ini.


             “Kau butuh bantuanku?” tawar Myori.


             Lee tersenyum. “Pasti! Tapi nanti saja. Akan kucari waktu yang tepat untuk membayarnya.”


             “Baiklah!” kata Myori


***