
Sementara itu, Myori merasa kasihan dengan salah satu muridnya yang tak bisa mengikuti pelajarannya. Tapi Ryu harus diberi peringatan agar ia tak terlambat untuk yang ketiga kalinya. Myori kembali mengajari murid-muridnya.
Sementara Myori kembali menjelaskan soal-soal yang baru saja ditulisnya, Ryu yang terduduk di lorong kelas, mulai berkonsentrasi untuk mengerjakan soal yang baru saja diberikan oleh guru kesayangannya itu. Ia memakluminya karena ia terlambat lebih dari batas yang ditentukan oleh sekolah. Ryu mengerjakan soal itu dengan tenang dan tidak terburu-buru agar hasil yang didapatnya tepat. Satu persatu soal matematika itu diselesaikannya dengan baik. Tak terasa, soal yang dikerjakannya telah selesai seluruhnya. Sedangkan jam pelajaran matematika baru akan berakhir sekitar 20 menit lagi.
Ryu memperhatikan keadaan di sekitarnya. Lorong sekolah yang sepi dan hening. Pintu-pintu kelas tertutup rapat, sesekali terdengar suara ribut anak-anak dari kelas lain. Tak ada murid lain yang terlambat seperti dirinya, sehingga harus menunggu di luar kelas. Mengapa dua hari ini aku selalu terlambat? Apakah karena liburan baru saja berakhir? Atau karena aku terlalu lama menunggu kakakku yang terbangun untuk mengantarkanku sekolah? pikirnya dalam hati. Mungkin pertanyaan yang terakhir lebih tepat. Dua hari ini kakaknya selalu pulang lebih malam dari pada biasanya, dan bangun lebih siang. Dan Ryu masih sangat tergantung kepada kakak satu-satunya ini. Mungkin esok hari, ia harus mencoba pergi sekolah sendiri seperti teman-temannya yang lain.
Untuk mengisi waktunya, Ryu mengeluarkan sebuah buku cerita dari tasnya. Buku ini adalah buku cerita yang diceritakan oleh ibu Ryu dulu sebelum tidur. Ryu tak pernah bosan membaca ceritanya, karena menurutnya ceritanya sangat bagus. Ia selalu membawanya kemana pun ia pergi. Matanya mulai menyusuri deretan kata yang menyusun di buku itu. Sesekali bibirnya yang mungil mengembang, dengan matanya yang berbinar.
Tak terasa bel pergantian pelajaran berbunyi. Ryu memasukkan bukunya ke dalam tas. Kemudian bersiap-siap untuk memasuki ruangan kelas dengan wajah yang ceria. Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Myori menyapa anak itu dengan ramah, “Ryu, masuklah!” katanya.
“Jangan dengarkan mereka!” kata Yuki menyambut temannya yang baru saja duduk.
“Tenang saja, aku baik-baik saja, Yuki!” kata Ryu tersenyum.
***