Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 42



Sabtu pagi, matahari bersinar dengan cerah dan ramah, ia menghangatkan suasana di musim gugur yang baru saja tiba. Myori tengah bersiap-siap untuk menemui Lee di rumahnya. Meskipun ia sadar bahwa hatinya sangat tidak karuan, ia harus tetap memenuhi undangan Lee hari ini. Lagipula ia juga sudah sangat merindukan Ryu, mungkin Ryu sudah berubah menjadi gadis remaja yang sangat cantik saat ini. Ia berharap Ryu ada di sana. Myori mendudukkan Ryuzaki di jok depan mobil menemaninya. Rumah Lee yang juga di Shibuya memang tak jauh dari rumah Myori sekarang. Namun ia harus tetap membawa mobil karena aksesnya lebih cepat.


             Suara bel berbunyi nyaring di kediaman Lee. Seorang gadis remaja berambut panjang segera berlari ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Gadis itu terlihat riang sekali. Ia terkejut mendapati tamunya seorang wanita yang menuntun seorang balita imut dan menggemaskan. Ia langsung memeluk wanita itu saat itu juga dan anak laki-laki disampingnya.


             “Ryu!!! Aku tak percaya kau sudah sebesar ini!” kata Myori sambil melihat sosok Ryu yang jauh berbeda dari Ryu kecil yang dikenalnya.


             “Aku kan sudah besar, Myori-sensei!”kata Ryu sambil memutar-mutarkan badannya.


             “Kau sangat cantik, Ryu!” puji Myori yang masih tidak percaya, gadis yang ada dihadapannya adalah muridnya dulu.


             “Ah, kau bisa saja! Hei...! Siapa ini?” tanya Ryu sambil menggendong Ryuzaki.


             Myori menyuruh Ryuzaki untuk menyapa dan menyalami Ryu. “Ini Ryuzaki-chan!”


             “Aaaah....namanya mirip denganku!” kata Ryu senang.


             “Ya...!”


             Ryu mempersilakan Myori dan Ryuzaki untuk memasuki rumahnya. Rumah yang selalu Myori kunjungi dulu setiap Ryu membutuhkannya. Suasana rumah itu tak jauh berbeda dari dulu, hanya ada beberapa pergantian wallpaper. Ryu terus menggendong balita menggemaskan itu sambil berjalan menuju dapur untuk memberitahu kakaknya, bahwa tamu spesial hari ini telah datang. Lee terkejut senang mendapati ada seorang balita lucu digendong oleh Ryu. Ia terlihat gemas pada balita tampan itu. Kemudian, mereka langsung menghampiri Myori yang sedang duduk di ruang keluarga.


             “Hai!” sapa Lee sebagai tuan rumah. “Terima kasih telah datang kembali!”


             “Terima kasih juga telah mengundangku kembali!”


             Keduanya tertawa. Ryu tampak asik memainkan ‘mainan’ yang baru ditemukannya. Ryuzaki pun tampak nyaman tinggal bermain bersama kakak perempuan barunya. Myori bahagia sekali bisa bertemu dengan keluarga Choi lagi, apalagi ia bisa bertemu dengan Ryu, murid kesayangannya yang sekarang sudah besar dan tampak menjadi kakak yang baik bagi Ryuzaki.


             “Myori-sensei! Bolehkah kupinjam Ryuzaki sebentar untuk bermain di taman belakang?” tanya Ryu antusias.


             “Ahha!! Baiklah! Ternyata kau itu kucing yang lucu sekali ya, Ryu?!” kata Ryu sambil menggendong Ryuzaki ke taman belakang.


             Kali ini, hanya ada Lee dan Myori di ruang keluarga, meskipun ada Tanabe dan seorang pelayan baru, tapi tentunya mereka tak ikut dalam perbincangan kedua orang yang telah terpisah sejak awal itu. Suasana tampak kaku dan dingin. Meskipun begitu keduanya berusaha mencairkan suasana itu dengan percakapan-percakapan kecil.


             “Lee...! Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Myori berusaha membuat percakapan lebih akrab tanpa menyinggung Lee.


             “Umm...Ya, tentu saja!”


             “Aku terkejut ketika mendengar kau berhenti dari karirmu. Apa yang terjadi sebenarnya, jika aku boleh tahu?”


             “Ehmm, jujur saja, ini adalah pertanyaan yang sulit kujelaskan pada siapa pun, termasuk para wartawan dan penggemarku. Mereka tak pernah puas dengan jawabanku. Padahal memang itulah jawaban sebenarnya. Jika kau ingin tahu, sebenarnya aku sulit untuk melepaskan pekerjaanku itu, kau bisa bayangkan, aku sedang di masa puncak karirku. Tetapi pada saat itu, aku ingat janjiku sendiri bahwa segera setelah urusanku selesai, aku harus segera melepaskan karirku ini. Aku harus kembali menjadi orang biasa, aku harus menjalani kehidupan normalku kembali. Aku sudah cukup kehilangan banyak hal dalam hidupku atas keputusanku ketika aku mengambil jalan singkat menjadi seorang entertainer.”


             Myori terdiam, ia menyimak dengan baik penjelasan Lee.


             “Aku sadar bahwa aku harus menanggung semua atas keputusanku yang mengejutkan banyak pihak. Aku terima konsekuensi itu. Aku teringat perkataanmu di Kyoto malam itu. Pasti akan ada pihak yang terluka dari sebuah keputusan yang kita ambil, dan aku harus melukai banyak perasaan penggemarku saat itu.”


             Myori membisu mendengar perkataan Lee. Ia tak menyangka Lee masih ingat perkataannya waktu itu. Ia teringat bahwa saat itu hatinya-lah yang terluka atas keputusan Lee.


             “Aku tahu, aku memang pengecut! Tapi kurasa, aku berhak atas hidup normalku. Jadi kuputuskan pada saat itu adalah waktu yang tepat bagiku untuk mundur. Apalagi....”


             “Apalagi?”


***