Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 18



Pagi itu, Myori sudah siap dengan barang yang akan dibawanya ke Kyoto. Lee akan menjemputnya pukul 10 pagi ini. Myori menunggu harap-harap cemas Lee dan Ryu yang akan menjemputnya ke rumah. Begitu pula dengan Ai, ia begitu tidak sabar bisa bertemu langsung dengan penyanyi pujaaannya itu, begitu ia diberitahu oleh Myori.


             “Kakaaaak…!! Bagaimana kalau kita menukar jiwa kita!” kata Ai berkhayal.


             “Aneh kamu ini! Sudah tunggu saja, bentar lagi juga datang!” kata Myori menimpali.


             Bel rumah berbunyi beberapa kali. Ai langsung bergegas berlari ke depan rumah, berharap Lee yang menekan bel itu. “Selamat Pagi!” kata seorang laki-laki tersenyum pada Ai. “Pagi!” Ai memaksakan senyumnya. Ternyata yang datang adalah Pak Pos yang mengirimkan barang pesanan ibu dari toko online. Ai kembali ke kamarnya dengan kecewa.


             Kemudian bel kembali berbunyi, tapi kali ini ibu yang membukakan pintu setelah sebelumnya baru saja ia menutupnya.


             “Selamat Pagi!” sapa sebuah suara ditambah dua senyuman manis di depan pintu.


             “Selamat pagi! Ryu! Dan kau pasti, Lee?!” kata ibu.


             Lee mengangguk tersenyum. “Nyonya Fujikawa, apakah Myori sudah siap?” tanya Lee.


             Ibu berteriak memanggil Myori, sementara Lee dan Ryu duduk di ruang tamu. Mendengar nama Myori dipanggil, Ai serta merta keluar dari dalam kamarnya, ia telah menggenggam ponsel kameranya dan juga buku catatan miliknya. Ia berhenti ketika melihat penyanyi pujaannya sedang duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Ai tersenyum lebar kepada Lee dan Ryu.


             “AAAAAH…..LEE!!!” teriak Ai histeris, tidak percaya.


             Myori yang baru tiba dari lantai atas, menutup mulut adiknya itu. Myori menyuruhnya bersikap sopan terhadap tamunya. “Maafkan adikku ini ya?!” kata Myori malu.


             Lee hanya tersenyum melihat salah satu penggemarnya. Myori menggiring tubuh Ai ke hadapan Lee. Lee menyodorkan tangannya untuk berjabat dengan Ai. Ia langsung meraih tangan Lee dan lalu memeluknya. Lee terperanjat, ia tersenyum tapi terpaksa. Myori dan Ryu tertawa-tawa kecil melihat tingkah laku Ai. Setelah memeluknya, Ai juga langsung meminta dirinya untuk berfoto bersama dengan Lee, begitu pula dengan ibu yang tak mau kalah. Akhirnya seluruh keluarga Fujikawa berfoto dengan keluarga Choi pagi itu sebelum mereka berpamitan. Selesailah sesi fans meeting mendadak di pagi hari di kediaman Myori. Mereka pun berpamitan untuk berlibur di Kyoto selama satu minggu.


             Myori, Lee, dan Ryu terus tertawa di dalam mobil, mengingat tingkah lucu Ai dan ibu. Myori jadi merasa tidak enak kepada Lee pagi itu. Suasana di dalam mobil begitu akrab dan hangat, seolah mereka bertiga telah lama mengenal. Perjalanan ke Kyoto akan menghabiskan waktu 5-8 jam menggunakan mobil, dan Lee sebagai pengemudi harus fit benar ketika mengendalikan kendaraannya. Myori duduk di samping Lee untuk mengawasinya, sedangkan Ryu duduk di belakang karena ia mudah sekali untuk tertidur ketika mengadakan perjalanan panjang.


***


             Ryu sudah tertidur meskipun perjalanan baru menghabiskan waktu 30 menit. Hanya ada alunan lagu-lagu yang menemani dua makhluk yang masih terjaga. Suasana begitu kaku ketika Ryu tertidur. Lee dan Myori hanya bercakap-cakap beberapa kali dalam waktu satu jam pertama di perjalanan ini. Mereka berdua berusaha mencari ide untuk dapat mencairkan suasana di anatara mereka berdua.


             “Lee, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Myori, berharap percakapan ini dapat mencairkan kebekuan di antara mereka.


             “Ya, apa itu?”


             “Tanabe bilang, kau adalah seorang arsitek. Lalu mengapa kini kau menjadi artis?”


             “Seharusnya aku yang meminta maaf. Mungkin pertanyaanku terlalu pribadi untuk keluargamu. Maaf!”


             “Tak apa! Wajar saja pertanyaan seperti itu kau ajukan, tapi memang aku belum bisa menjawabnya untuk saat ini!”


             Mereka kembali terdiam.


             “Oh ya, Myori! Sudah berapa lama kau menjadi guru?”


             “Aku sudah hampir 2 tahun mengajar di sekolah itu.”


             “Bagaimana rasanya menghadapi anak-anak dengan berbagai karakter?” tanya Lee penasaran.


             “Rasanya menyenangkan berada dikelilingi oleh anak-anak yang berbeda-beda karakternya. Suatu saat bisa menjadi tantangan jika memang yang harus aku hadapi adalah anak-anak yang memiliki kondisi berbeda dengan anak-anak lainnya yang kebanyakan.”


             “Seperti Ryu?!”


             “Mungkin. Tapi jujur saja, ia anak yang sangat menyenangkan. Ia begitu jujur dan polos. Aku menyukainya. Ia terlihat begitu tegar menghadapi kondisi sulit yang ada di hadapannya. Aku salut kepadanya.”


             Lee terdiam.


             “Hal itu mungkin yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain seusianya. Di saat yang lain masih bisa bermanja-manja kepada orangtuanya, bahkan tak jarang mereka berbuat masalah untuk mendapatkan perhatian orangtuanya. Tapi Ryu, dia berusaha menyembunyikan apa yang menjadi masalahnya, berusaha menunjukkan keceriaan dibalik ketegarannya. Bukankah wajah ceria itu yang selalu ia tampakkan di hadapanmu, Lee?”


             Lee terdiam mengingat. Ia teringat ketika pulang malam, Ryu selalu menyambutnya dengan ceria dan keriangan, bahkan jika terlalu malam, Ryu masih setia menunggu dirinya meskipun ia harus tertidur di sofa. Ryu yang selalu mengajaknya makan malam bersama sebelum tidur. Ryu yang selalu menunggunya bangun untuk diantarkan ke sekolah meskipun terlambat, Ryu tetap senang. Ryu yang selalu meneleponnya ketika ia sibuk untuk sekedar menanyai kabarnya, meskipun telepon darinya tak terangkat. Ryu selalu berusaha menunjukkan keceriaan di depan wajah kakaknya itu.


             “Apakah menurutmu, aku ini kakak yang baik?”


             Myori tersenyum. “Tentu saja! Bukankah kau sendiri yang tadi mengatakan padaku, kau memilih karirmu secara mendadak itu demi masa depanmu dan Ryu! Tentu saja, kau itu adalah kakak yang baik untuknya. Kau berjuang untuk menghidupi dirimu dan adikmu, meskipun aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi kau telah berjuang keras untuk adikmu. Hany mungkin, Ryu butuh perhatian lebih darimu, Lee! Ia membutuhkan sedikit waktu kebersamaan denganmu. Dan sekarang, kau sudah meluangkan waktumu untuk itu. Kau adalah kakak yang hebat, Lee!”


             “Terima kasih, Myori! Mungkin aku tak pernah menyadarinya, tapi memang semua yang kulakukan adalah untuk Ryu juga. Terima kasih karena kau juga telah memberikan perhatian yang lebih pada Ryu!” ujar Lee sambil tersenyum pada Myori.


             “Itu sudah tugasku sebagai seorang guru dan juga sahabat.”


***