
Hari demi hari terus berlalu. Dedaunan terus berguguran, berserakan di atas tanah, terbang ke arah yang mereka kenal. Udara terasa semakin dingin, angin semakin kencang berhembus. Kaki Myori telah sembuh setelah beberapa kali Nenek Aiko mengurutnya. Kini ia bisa kembali berjalan dengan normal.
Lee memberanikan dirinya untuk mengajak Myori berjalan-jalan keluar untuk berkencan. Ia tak dapat menyembunyikan perasaannya pada Myori lebih lama lagi. Malam ini, sebelum akhirnya mereka kembali ke Tokyo, Lee mengajak Myori pergi berkencan di sekitar Imperial Palace, sebuah tempat yang indah.
Sebenarnya, acara ini merupakan sebuah hal yang tak pernah Myori duga sebelumnya, meskipun pernah ia berharap. Malam itu, Myori telah bersiap dengan pakaian sederhana yang dibawanya dalam koper. Namun ia tetap terlihat cantik dibalut dalam kesederhanaan yang menjadi ciri khasnya. Begitu pula dengan Lee yang memakai pakaian dengan gayanya sehari-hari. Keduanya berpamitan pada nenek, Ryu dan Yamada yang ditinggalkannya di dalam rumah. Ryu begitu bahagia ketika tahu kakaknya mengajak kencan guru yang ia sayangi. Begitu pula dengan Nenek Aiko yang memiliki prasangka ketika pertama kali mereka datang.
Lee mengajak Myori untuk makan malam di sebuah restoran Eropa di sekitar Imperial Palace. Suasana restoran itu begitu romantis, ditemani dengan lilin-lilin kecil di setiap mejanya. Belum lagi ditambah dengan alunan piano yang menenangkan hati, meskipun kedua hati mereka sedang gugup bukan main. Seorang pelayan membawa buku menu dan mempersilakan keduanya untuk memesan menu makanan yang tersedia.
“Myori! Terima kasih, karena kau mau memenuhi undanganku!” kata Lee membuka percakapan.
“Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, Lee!”
Keduanya tersenyum. Kemudian, hidangan makan malam yang mereka pesan pun datang. Meskipun tidak terlalu banyak, tetapi sungguh menggugah selera makan malam itu, sup krim asparagus ditambah dengan french toast, steak daging sapi asap, salad buah untuk penutup dan champagne sebagai pelengkap malam itu. Alunan piano terus mengiringi makan malam yang romantis namun tetap terasa dingin kaku, mewakili perasaan keduanya yang masih tersembunyi.
Hidangan makan malam telah habis. Lee mengajukan dirinya untuk menyumbang sebuah lagu, lagu yang sangat romantis. Ia bernyanyi sungguh sangat indah, mewakili perasaan terdalamnya. Myori memandangi Lee, tertegun. Ia takjub mendengar suara Lee yang sangat indah ketika mendengarnya secara langsung. Hatinya meleleh melihat Lee di atas panggung kecil itu. Lee tersenyum padanya dari jauh. Tepukan tangan memenuhi ruangan restauran itu ketika Lee selesai menyanyi.
Kemudian, Lee mengajak Myori berdansa malam itu ketika sebuah lagu cinta mengalun ditemani iringan gitar akustik yang cantik. Myori menolak karena ia sama sekali tak bisa dan belum pernah berdansa seperti itu.
“Ikuti langkahku! Tak usah takut!” kata Lee menenangkan.
Akhirnya, keduanya berdansa di bawah lampu-lampu yang bersinar redup mengikuti iringan lagu yang mengalun. Keduanya merasakan gugup yang pasti, jantung mereka berdebar kencang, meskipun lagu yang mengalun sangat tenang. Langkah-langkah kaki Myori mengikuti langkah kaki Lee. Tangannya melingkar di tubuh Lee yang tegap, sementara tangan Lee melingkar di pinggang Myori yang kecil. Keduanya berusaha menikmati momen itu meskipun dilanda rasa gugup. Beberapa kali, Myori menginjak kaki Lee tidak sengaja. Tetapi Lee hanya tertawa. Myori tampaknya sudah semakin mahir dan sangat menikmati dansa pertama kalinya itu. Ia menatap mata Lee yang terus menatapnya dari tadi. Kemudian ia tersenyum dan tertawa kecil.
“Tak kusangka, seorang artis mengajakku berkencan dan berdansa malam ini!”
“Artis?!”
“Ya, kau kan artis!”
Lee tertawa. “Aku bukan artis! Aku hanya lelaki biasa!”
Myori hanya tersenyum mendengar kerendahan Lee. Setelah puas berdansa, Lee mengajak Myori keluar dari restoran dan berjalan menuju Imperial Palace yang tidak jauh dari restoran itu. Malam itu sungguh begitu tenang, keduanya berjalan ditemani lampu remang-remang yang berada di sepanjang jalan. Keindahan Imperial Palace memang tak ada yang menandingi, cahaya lampunya berkilauan dengan jelas di permukaan danau kecil yang mengelilinginya. Lee mengajak Myori menuju sebuah jembatan, pemandangan dari atas jembatan terlihat sangat jelas dan sangat indah. Keduanya memandangi bayangan yang ada di hadapannya.
“Myori!”
“Ya?”
“Entah mengapa aku merasakan sesuatu yang tak pernah kumengerti. Dan hal itu sering muncul akhir-akhir ini, ketika aku sedang bersamamu aku merasakannya. Kau tahu apa itu?” tanya Lee sambil memandang Myori.
Myori terdiam. Tubuhnya berdesir. Jantungnya semakin kencang berdegup, sama seperti yang ia rasakan malam itu ketika Lee mengajaknya pergi ke danau.
“Aku jadi teringat pada apa yang kau katakan malam itu. Ketika aku bertanya padamu tentang apa yang kau rasakan, kau menjawab bahwa kau merasakan kedamaian dan ketenangan, tapi kau juga merasa…. Gugup!”
DUG!!!
“Jujur saja, aku baru kali ini merasakannya, bersamamu! Myori…”
Lee memandangi Myori dengan tatapan tajamnya. Myori semakin tidak karuan.
“Myori! Bolehkah aku jujur padamu tentang satu hal?”
Myori diam.
“Mungkin aku sedang merasakan jatuh cinta, aku jatuh cinta kepadamu!”
GLEK!!
“Aku merasa beruntung bisa merasakannya! Tetapi aku tak tahu, apakah aku bisa membahagiakan orang-orang dengan perasaan ini termasuk dirimu? Aku hanya takut, perasaan ini bisa membunuh banyak orang bahkan dirimu sendiri. Myori…, beritahu aku sesuatu!”
Myori terdiam lama. “Kau bisa simpan perasaan itu tanpa melukai orang lain.”
“Maksudmu?”
“Aku sungguh berterima kasih pada hatimu yang jujur. Aku mengerti kau bukan lelaki biasa yang bisa membawamu pada impianmu yang sebenarnya. Ada satu hal yang perlu kau ketahui, ketika kau memiliki perasaan itu, pasti akan ada yang terluka, entah siapa dia. Tetapi itulah yang menjadi harta yang berharga, kau akan mengerti itu. Jadi kau bisa menyimpan rasa itu agar tak melukai orang lain, meskipun ada yang satu orang yang pasti terluka.”
“Dan hatimu itulah yang terluka! Bukankah seperti itu?”
Myori terdiam, matanya berkaca-kaca. Tak terasa butiran-butiran air mata itu jatuh di pipinya.
“Maafkan aku, Myori!” kata Lee sambil memeluk erat Myori. “Aku tak bisa menyembunyikan perasaanku padamu lebih lama lagi, Myori! Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa membahagiakanmu saat ini! Ada banyak hal yang tak bisa kujelaskan padamu.”
Lee mengusap air mata Myori. “Aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu. Kau begitu istimewa. Aku merasa bahagia Ryu bisa memiliki guru sepertimu. Aku sangat berterima kasih padamu, Myori! Aku harap kau mengerti apa yang kurasakan.”
Myori memaksakan senyuman tegarnya. Ia sangat mengerti apa yang Lee rasakan saat ini. Ia mengerti seorang publik figur memiliki banyak aturan dalam kehidupan termasuk perasaan dalam hatinya. Meskipun ia terluka, tapi ia berusaha tegar di atas perasaan cintanya pada Lee. Angin malam berhembus sangat dingin, membuat hati yang dingin itu semakin beku. Lee mengajak Myori untuk pulang, karena malam sudah semakin larut.
Lee mengantarkan Myori sampai depan pintu kamarnya, kemudian berpamitan. Lee tak menyangka ia akan mengutarakan perasaannya pada Myori, meskipun sebenarnya tak ada bunga yang bermekaran setelahnya, hanya ada daun yang berguguran setelah sebelumnya ada kuncup yang diharapkan akan bermekaran.
Hati Lee pun terluka, bukan hanya Myori. Konsekuensi dirinya menjadi publik figur telah mengubur hasratnya yang terdalam. Tetapi ia sangat bersyukur, Myori sangat memahami dirinya. Lee hanya berharap, semua takdir hidupnya akan membawanya kepada jalan yang terbaik.
***