
Dedaunan musim gugur kembali menghiasi kota Tokyo, memenuhi di sepanjang jalan- jalan. Angin berhembus sangat sejuk di siang hari. Beberapa angsa putih berenang di atas kolam yang tenang. Myori duduk termenung di sebuah kursi taman di Hama-rikyu. Ia baru saja menyelesaikan urusannya di kantornya di Chuo-ku. Ya, kantor itu adalah peninggalan Kazuo untuknya.
Namun Myori belum dapat sepenuhnya bekerja di sana, ia harus banyak belajar dari Natsume Han, adik kandung Kazuo yang sekarang menjabat menjadi direktur perusahaan itu menggantikan kakaknya. Selain itu, ia juga harus merawat Ryuzaki yang akan memasuki tahun keduanya.
Ryuzaki sudah tumbuh menjadi anak yang lincah dan menggemaskan. Wajahnya persis sekali dengan ayahnya, hidung mancungnya dan mata sipitnya. Sebentar lagi ia akan berulang tahun pada usia yang keduanya. Myori berencana akan menyiapkan pesta ulang tahun untuk anak pertamanya itu, meskipun di sisi lain hari itu juga merupakan dua tahun kematian Kazuo. Sungguh sebuah ironi bagi keluarga besar Han. Namun Myori berusaha tetap tegar selama ini, kelahiran Ryuzaki merupakan anugerah terbesar yang ia dapatkan dalam hidupnya.
Satu tahun setelah kepergian Kazuo, Myori dan Ryuzaki kembali ke Tokyo untuk tinggal di rumah yang telah dibangun oleh Kazuo untuknya, melalui bantuan adik Kazuo. Rumah itu terletak di Shibuya, bergaya modern, rumah yang selalu Myori idam-idamkan. Saat itu juga Myori diberi tugas untuk mengelola perusahaan keluarga Han yang ada di Tokyo. Namun karena belum cakap, tugas Myori diambil alih sementara oleh Natsume yang juga tinggal di Tokyo.
Namun ternyata bukan hanya instrumen piano saja, sebuah suara terdengar merdu berharmonisasi dengan alunan piano itu. Lagu yang dinyanyikan itu mengingatkan dirinya akan malam itu, malam indah yang singkat bersama Lee lima tahun yang lalu. Namun, tampaknya suara itu tak asing bagi pendengaran Myori. Suara yang sama yang ia dengar di malam itu saat ia kencan dengannya.
Suara yang sangat indah, dan itu memang suara Lee.
***