Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 1



Musim gugur akhirnya tiba juga di negeri Sakura. Dedaunan tampaknya belum menampakkan kecantikannya di musim gugur ini, berwarna emas kemerah-merahan akan menambah indah suasana kota yang ramai ini. Udara yang terasa panas bulan lalu, kali ini lebih bertiup lembut dan sejuk. Angin ini menandakan bahwa musim gugur di negara ini telah datang. Musim gugur adalah musim yang paling indah, suasana kota akan terlihat sangat indah di sore hari. Taman-taman dipenuhi oleh dedaunan yang jatuh tertiup angin. Sinar matahari berkilauan di pagi hari yang hangat. Namun angin berhembus segar di siang hari.


             Hari ini kota Tokyo akan menjalani aktivitasnya seperti biasa. Jalanan yang dipadati oleh berbagai macam kendaraan. Suara bising dari pabrik-pabrik. Anak-anak yang kembali bersekolah. Stasiun-stasiun kereta yang dipenuhi oleh orang-orang yang kembali dari liburan musim panasnya.


             Pagi itu, Myori Fujikawa, seorang guru sekolah dasar di Tomihisa Elementary School, Shinjuku, Tokyo, kembali melakukan aktivitasnya sebagai guru. Seperti biasanya, Myori berjalan menyusuri jalan menuju stasiun Osaki. Myori menaiki sebuah bus untuk mencapai Osaki. Orang- orang telah memadati stasiun pagi itu, baik orang dewasa maupun anak-anak. Setelah membeli tiket kereta, Myori langsung berlari menuju kereta tujuannya menuju Shinjuku.


             Di dalam kereta, Myori berdesak-desakkan dengan orang lain, terpaksa ia harus berdiri karena kursi penumpang telah habis. Pintu kereta tertutup ketika akan berangkat. Banyak orang yang juga harus terpaksa berdiri, tak terkecuali para orang tua dan anak-anak kecil. Berbagai macam golongan terbaur menjadi satu dalam kereta. Ada yang berpakaian seperti direktur perusahaan, yang mengenakan jas dan kemeja rapi ditambah dengan dasi, dan menjinjing koper di tangannya. Ada pula wanita yang mengenakan mantel mewah dengan asesorisnya yang terlihat glamor. Berbagai orang dengan berbagai macam aktivitas tersaji pagi itu. Myori yang berpakaian sederhana dan rapi, sangat menandakan bahwa ia adalah seorang guru sekolah dasar.


             Untuk mencapai Shinjuku, kereta cepat itu harus berhenti sementara di beberapa stasiun kecil di sepanjang jalur kereta Yamanote. Kereta-kereta itu biasanya akan berhenti dalam waktu yang singkat saja, ada penumpang yang masuk dan keluar. Kereta dari Osaki menuju Shinjuku akan berhenti sementara di tujuh stasiun setelah akhirnya akan mencapai di stasiun pusat Shinjuku. Myori akhirnya keluar dari kereta setelah mencapai perjalanan sekitar 30 menit dari Osaki.


             Anak-anak bermain di taman ketika bel belum berbunyi, ada pula yang setengah berlari untuk mencapai sekolahnya. Waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi, sekitar lima belas menit lagi bel masuk akan berbunyi. Myori berjalan menuju ruangan guru. Beberapa muridnya menyapanya dengan senyuman.


             “Ohayo gozaimasu, Myori sensei!” sapa beberapa murid dari kelas 4.


             “Ohayo gozaimasu!” balas Myori.


             Myori memasuki ruangan guru, kemudian menyimpan tas di atas mejanya dan membuka jas beludrunya. Beberapa guru lain menyapanya pagi itu dengan ramah. Myori terkenal sebagai orang yang ramah tapi cukup pendiam diantara guru-guru yang lainnya. Umurnya masih muda dan parasnya cantik. Murid-murid sangat menyukainya, karena ia guru yang baik dan tidak membosankan. Senyuman selalu muncul di bibirnya yang kecil. Sebelum bel berbunyi, Myori mempersiapkan kertas-kertas soal untuk ia berikan pada murid-muridnya hari ini. Tak lama kemudian, bel masuk pun berbunyi. Anak-anak yang masih berada di halaman berlari-larian, berlomba-lomba menuju kelasnya masing-masing.


             Myori berjalan menuju kelas tempat mengajarnya sambil menjinjing map dan buku-buku untuk mengajar. Ia adalah guru kelas lima. Ia pun masuk ke dalam kelas dan tersenyum pada murid-muridnya kemudian menutup pintu. Sang pemimpin kelas dengan sigap memerintahkan kepada murid lainnya untuk berdiri dan menyapa gurunya itu. Murid-murid itu langsung berdiri dan mengucapkan selamat pagi kepada guru mereka dengan penuh semangat. Myori membalasnya dengan lembut dan ramah. Mereka semua telah bersiap untuk memulai pelajaran di hari pertama setelah liburan musim panas.


             “Anak-anak! Bagaimana liburan musim panas kalian?” tanya Myori pada murid-muridnya.


             Semua anak berebut berusaha menjawab Myori dengan suara yang paling keras. Ada yang menjawab menyenangkan, membosankan, seru, dsb. Myori tersenyum melihat murid-muridnya. Tiba-tiba pintu kelas terbuka, ada seorang murid perempuan berdiri di depan pintu dengan nafas terengah-engah.


             “Gomenasai, sensei! Bolehkah aku masuk?” tanyanya.


             Myori melihatnya dengan kasihan. “Tentu saja Ryu! Masuklah!”


             “Arigato gozaimasu!” katanya membungkuk kemudian masuk dan duduk di bangkunya di belakang. Beberapa murid perempuan melihat Ryu dengan pandangan sinis sambil berbisik-bisik. Namun Ryu tetap berjalan lurus menuju bangkunya tanpa menghiraukan mereka.


             Myori kembali menanyakan murid-muridnya tentang liburan mereka selama musim panas kemarin. Kemudian Myori menyuruh murid-muridnya itu untuk menuliskan karangan tentang liburan mereka masing-masing tentang hal yang paling menyenangkan selama liburan. Murid-murid itu bersemangat membuka buku dan menuliskan karangan mereka selama liburan. Ada yang langsung bersemangat menulis, ada pula yang berpikir lama, apa yang akan ditulisnya? Bahkan ada yang menanyakan kepada teman-temannya terlebih dahulu, kemudian ia menulis karangannya.


             Myori berjalan berkeliling sambil mengamati semua muridnya yang sedang asyik menulis.


             “Bu! Bolehkah aku menambahkan gambar dalam karanganku?” tanya seorang murid lelaki.


             Myori melihat Ryu sedang terdiam memikirkan sesuatu. Kertasnya belum sama sekali tergoreskan pensil. Ia memandang jauh ke luar jendela.


             “Ada apa diluar sana, Ryu?” tanya Myori mengagetkan lamunan Ryu.


             “Ah, ibu! Maafkan aku!” kata Ryu, cepat-cepat ia menuliskan sesuatu di kertasnya.


             “Kemana saja kau selama liburan musim panas kemarin?”


             “Ehh…aku hanya berlibur di rumah saja!”


             “Di rumah saja? Kau tidak berlibur keluar?” tanya Myori penasaran.


             “Tidak, bu! Kakakku terlalu sibuk mengurusi pekerjaan barunya!”


             “Oh…ya sudahlah! Kalau begitu, tuliskan saja hal yang paling menyenangkan dalam hidupmu, ya!”


             Myori merasa kasihan pada anak itu. Ia tahu bahwa Ryu adalah seorang anak yatim piatu, ia hanya memiliki seorang kakak laki-laki. Tapi Myori tidak tahu banyak tentang keluarga Ryu. Myori kembali berkeliling untuk mengamati kerja anak-anak yang lain. Bermacam-macam cerita yang ditulis oleh mereka, ada yang mengasyikan ada pula yang menyedihkan. Myori sudah tak sabar untuk membaca karangan-karangan murid-muridnya itu.


             Setelah hampir satu jam lebih menghabiskan waktu untuk menulis karangan, bel pergantian pelajaran pun berbunyi. Itu tandanya, murid-murid diharuskan berhenti untuk menulis.


             “Ayo semuanya, kumpulkan kertas kalian pada ibu!” kata Myori memberitahu.


             “Ahhh….ibu tapi belum selesai, bagaimana ini hanya sedikit lagi!” teriak anak-anak.


             “Baiklah, ibu akan beri kalian waktu lima menit untuk menyelesaikan karangan kalian, setelah itu kumpulkan di atas meja ibu!”


             “Baik, Bu!”


             Setelah lima menit tambahan selesai, murid-murid itu secara tertib mengumpulkan kertas-kertas karangan mereka di atas meja gurunya. Semuanya telah terkumpul dengan rapi. Saatnya masuk ke pelajaran berikutnya.


***