Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 41



Myori terkejut mendapati bahwa memang Lee- lah yang menyanyi lagu itu. Ia sungguh tak percaya ia akan melihatnya kembali. Sudah hampir tiga tahun ia tak bertemu dengannya. Jujur saja, hati Myori gugup melihatnya. Ia berharap semoga Lee tak melihat dirinya di sini.


             “Kupersembahkan untuk wanita yang duduk di meja itu!” kata Lee setelah selesai menyanyikan lagu itu.


             Myori cukup lega, setelah kata-kata Lee itu, karena tak ada tanda-tanda Lee memandanginya. Myori kembali fokus pada hidangannya untuk dihabiskan, ia harus segera pulang. Namun, tiba-tiba saja dua pasang sepatu hitam mengkilat muncul di hadapan pandangannya, begitu pula dengan sang pemiliknya yang tersenyum ramah padanya.


             “Hai!” sapa pria itu.


             Myori terkejut. Ia tak percaya Lee menghampiri dirinya. Myori berusaha tersenyum meskipun hatinya terkejut.


             “Bolehkah aku duduk di sini?” tanyanya.


             Myori mengangguk gugup. Ia berusaha menenangkan dirinya.


             “Hai, Lee! Aku tak percaya, kita bertemu lagi!” katanya berusaha bersikap biasa.


             “Ya, aku juga begitu. Tadinya aku sempat bertanya-tanya apakah kau memang Myori Fujikawa atau bukan. Tetapi setelah diperhatikan, kau memang Myori yang kukenal.” Kata Lee akrab.


             Myori tersenyum. “Kau yang menyanyi tadi bukan?”


             “Ya. Kupersembahkan lagu itu untukmu!”


             Myori tertawa kecil. “Terima kasih!”


             “Kau sendiri saja?”


             “Ya!”


             “Oh ya, aku sangat berbela sungkawa atas kematian suamimu. Padahal dia adalah pria yang sangat baik.”


             Myori tertunduk. “Ya, terima kasih, Lee! Oh ya, kau juga sendirian saja?”


             “Lee! Aku harus pulang sekarang. Aku khawatir dengan anakku.”


             “Ahh, ya! Tentu saja!” Lee tampak berpikir sementara Myori bersiap-siap untuk pergi dari tempat itu. “Myori...”


             “Ya?”


             “Bolehkah kita berbincang-bincang lagi?” tanya Lee tampak ragu.


             Myori terdiam. “Tentu saja! Sabtu ini aku tidak ada acara!”


             “Ahh, baiklah! Maukah kau mengunjungi rumah kami lagi?”


             “Rumahmu yang dulu?” tanya Myori memastikan.


             Lee mengangguk mantap.


             “Baiklah!” jawab Myori


             “Jangan lupa ajak anakmu ya?” pinta Lee ramah.


             Myori tersenyum mengiyakan. “Sampai jumpa!” pamit Myori.


             “Sampai jumpa!”


             Myori keluar dari restauran itu. Hatinya dipenuhi dengan banyak sekali pertanyaan untuk Lee. Entah haruskah ia ungkapkan saat ia nanti akan berbincang padanya, atau ia sembunyikan saja. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan nanti.


***